ilustrasi

batampos.co.id – Kenaikan harga beras yang terjadi beberapa bulan belakangan ini membuat pedagang nasi di Batam menjerit. Pasalnya kenaikan harga beras mencapai Rp 30 ribu per karung. Sebut saja harga beras merek Ramos harganya mencapai Rp 270 ribu padahal sebelumnya, beras ini hanya Rp 240 ribu per 25 kilogram.

Demikian juga untuk harga beras merek Rambutan, Anak Ajaib Platinum, Arum Super, Badak Putih, BSM Putih. Sebelumnya harganya Rp 270 ribu kini sudah naik menjadi Rp 300 ribu per 25 kilo.

Setyaningsih, seorang pedagang warung nasi di Batuaji menilai kenaikan harga semakin menyusahkan masyarakat menengah ke bawah. Sebab beras merupakan kebutuhan pokok, mahal atau murahnya masyarakat akan tetap harus membeli.

“Apalagi penjual nasi seperti saya, hampir setiap hari harus membeli beras, jadi terasa sekali kalau harga beras naik,” ujar Setyaningsih, Minggu (11/2).

Oleh karena itu, ia sangat mengeluhkan tingginya harga beras yang dijual di pasar. Ia mengaku penghasilannya sangat terbatas, sementara harga kebutuhan pokok seperti beras cukup mahal.

“Mau naikin harga nasi takut gak laku. Jadi serba salah,” katanya.

Bukan hanya beras, Kenaikan cabai pun sangat di rasakan olehnya. Ia kadang mengurangi kadar kepedasan di sambalnya, hal tersebut dilakukan agar tidak rugi dalam usahanya.

“Cabai masih mahal. Terpaksa saya haru kurangi sambalnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Wakil Walikota Batam, Amsakar Achamad mengatakan kenaikkan harga beras belakangan ini disebabkan tidak seimbangnya antara permintaan dengan persediaan yang ada saat ini.

Selain itu, besarnya biaya transportasi yang dikeluarkan untuk mendatangkan beras membuat pedagang kesulitan menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

“Mana ada pedagang yang mau rugi, jadi mereka pun terpaksa menaikkan harga,” kata Amsakar.

Ia menilai impor beras menjadi salah satu solusi untuk mengendalikan harga pasar. Sebelumnya, pria lulusan UNRI ini menyebutkan sudah bertemu anggota DPR RI, Nyat Kadir. Bahwasanya sudah ada kesepakatan dengan Menteri Perdagangan terkait impor beras termasuk daerah perbatasan.

“Kalau tidak salah ada sekitar 360 ribu ton yang sudah disepakati, dan Batam termasuk salah satu daerah perbatasan yang akan mendapatkan jatah. Namun untuk jumlahnya belum diketahui,” beber Amsakar.

Menurutnya, Bulog yang lebih mengerti dan paham terkait urusan impor ini. Berapa kebutuhan di Batam dan lain sebagainya bisa dilanjutnya ke mereka. “Biar jelas, apakah Batam yang mengusulkan atau tinggal terima saja,” tutupnya.

Ibu Rumahtangga Elus Dada

Masih tingginya harga beras membuat sejumlah ibu rumah tangga harus urut dada. Pasalnya, selain harus membeli beras dengan harga tinggi, IRT juga harus pandai membagi uang untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Seperti yang dirasakan Hasnah, warga Bengkong Sadai. Perempuan yang telah memiliki tiga orang anak dan mengandalkan belanja dari suami itu kesal bukan main. Sebab, ia harus pandai membagi uang belanja yang diberikan suaminya tiap bulan untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.

“Harga sembako, terutama beras pada naik. Padahal uang belanja yang diberikan suami pas-pasan,” terang wanita berusia 37 tahun ini, kemarin.

Dikatakannya, harga perkilo beras rata-rata naik Rp 1000, dari yang harga Rp 12500 sekarang sudah menjadi Rp 13500 perkilonya. Dan jika beli perkarung isi 25 kilo, harga beras Rp 305.000, padahal sebelumnya hanya Rp 270.000.

“Naiknya saja tidak tangung-tanggung, sebulan untuk makan keluarga bisa habis lebih dari sekarung. Bayangkan berapa biaya tambahan hanya untuk beli beras,” imbuh Husnah.

Menurut dia, karena harga beras naik, ia pun harus merelakan sebagian uang tabungannya untuk tambahan membeli beras. Karena jika minta kepada suami, dipastikan suaminya tak memiliki tambahan uang lagi karena merupakan seorang pekerja.

“Jatah belanja dari suami itu tiap bulan dan saya tahu gajinya berapa. Tak mungkin saya merengek ke dia untuk minta tambahan belanja, tanggunganya juga sudah banya untuk kami,” jelas Husnah.

Sementara, Onang penjual sembako di pasar Bengkong Harapan mengaku hingga kini harga beras belum turun. Ia pun tak bisa menurunkan harga beras, karena dari distributor harga beras memang tinggi.

“Belum ada turun, harga beras tetap sama. Rata-rata diatas Rp 13 ribu, tergantung jenisnya,” imbuh Onang.

Hal senada juga dikatakan Koko penjual sembako di pasar Cahaya Garden Bengkong. Menurutnya, harga beras memang masih tinggi. Bahkan menurutnya, rata-rata ibu rumah tangga yang belanja beras pasti mengeluh sebelum membeli.

“Pada mengeluh dulu, katanya kok tinggi lalu saya jelaskan kalau harga beras memang pada naik. Dan mereka tetap beli sambil mengeluh,” pungkas Koko. (she/une)

Advertisement
loading...