Anggota Marinir mengangkat sabu kedalam mobil usai ekspos di Lanal Batam, Batuampar, Sabtu (10/2). Sabu seberat satu ton ini dibawa oleh kapal MV Sunrise Glory. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengapresiasi kinerja jajarannya yang berhasil menggagalkan penyelundupan 1 ton sabu oleh kapal Sunrise Glory pada Rabu (7/2) lalu. Hadi juga mengingatkan agar seluruh prajurit TNI tidak berkompormi dan main mata dengan para bandar atau penyelundup narkoba.

“Harus ditindak tegas. Tidak boleh main dengan apa yang mereka (penyelundup narkoba, red) lakukan saat ini,” kata Hadi di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Batam, Minggu (11/2).

Dalam kesempatan itu, Hadi juga menyatakan perang terhadap narkoba. Sebab menurut dia, narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan generasi bangsa.

Karenanya, ia kembali menegaskan kepada jajarannya untuk tidak segan-segan menindak setiap penyelundupan dan penyalahgunaan narkoba.

“Sehingga, upaya mereka melakukan penyelundupan di wilayah NKRI bisa dihalau seperti yang kita lihat siang ini,” kata Hadi.

Kemarin, Hadi sengaja bertolak ke Lanal Batam untuk bertemu dengan seluruh awak KRI Sigurot-864 yang berhasil menggagalkan penyelundupan satu ton sabu pada Rabu (7/2) lalu itu. Dia mengaku bangga lantaran dengan segala keterbatasan, anak buahnya mampu bekerja maksimal.

Menurut Hadi, penggagalan penyelundupan satu ton lebih sabu tersebut sangat bermakna. Sebab apabila berhasil diseludupkan dan beredar, seluruh sabu yang dibawa kapal MV Sunrise Glory itu berpotensi mengancam jutaan nyawa warga Indonesia.

Hadi menjelaskan bahwa dengan wilayah yang didominasi perairan, alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL memang belum sepenuhnya ideal. Namun, kondisi itu tidak lantas membuat prajurit matra laut minim prestasi. “Masih bisa operasi sesuai kemampuan yang ada,” ungkap orang nomor satu di institusi TNI tersebut.

Sukses menggagalkan sabu dengan jumlah luar biasa banyak adalah salah satu bukti nyata. Sebab, keberhasilan itu tidak diperoleh dengan mudah. Mengingat kapal MV Sunrise Glory sudah lama menjadi incaran aparat.

Selain sudah jadi target sejak tahun lalu, kapal tersebut juga bukan pertama kali masuk wilayah Indonesia dengan tujuan serupa. Yakni menyelundupkan sabu. Berdasar data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), setidaknya sudah tiga kali kapal itu masuk Indonesia. Namun, baru kali ini aparat berhasil menangkapnya.

“Hal itu adalah salah satu bagian dari prestasi bersama,” ucap Hadi.

Sebab, TNI AL tidak bergerak sendiri. Mereka juga dibantu oleh BNN, Polri, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan instansi lainnya.

Lantaran setara dengan menyelamatkan jutaan nyawa, keberhasilan menggagalkan penyelundupan sabu tersebut dinilai tepat sebagai momentum untuk terus meningkatkan kerja sama antara TNI dengan instansi lainnya.

Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto (Dok.JawaPos)

“Saya minta TNI AL khususnya melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait. Utamanya kepolisian, BNN, dan Bea Cukai,” pinta Hadi.

Itu penting karena upaya penyelundupan sabu yang dilakukan menggunakan kapal MV Sunrise Glory turut menegaskan kembali bahwa Indonesia masih menjadi pasar besar bagi bandar narkotika.

Bukan hanya pasar besar bagi bandar di dalam negeri, melainkan juga bagi pemasok dari luar negeri. “Didukung oleh produsen dan pengedar lintas negara,” kata Hadi.

Untuk itu, tindakan tegas dan keras harus terus dilakukan. Jangan sampai, narkotika semakin merajalela dan merusak bangsa. Dia pun mendorong BNN, Polri, serta instansi lain yang lebih serius mengurus masalah narkotika terus bergerak. TNI memastikan bakal selalu mendukung mereka.

“Sehingga upaya mereka (bandar dan pengedar) melalukan penyelundupan di wilayah NKRI bisa dihalau seperti yang kita lihat (di kasus kapal MV Sunrise Glory),” tambah panglima.

Ditambahkan Hadi, dirinya sudah memberikan penghargaan terhadap seluruh awak KRI Sigurot-864. Namun, saat dikonfirmasi bentuk penghargaan yang diberikan, Hadi tidak bisa membeberkannya.

“Itu rahasia,” katanya.

Sementara Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Pol) Budi Waseso menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran TNI, terutama TNI angkatan laut. Sebab, menurutnya TNI angkatan laut sudah dua kali berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba dalam jumlah yang banyak di Kepulauan Riau.

“Tentunya sinegritas ini akan terus kita bangun. Kita sampai hari ini masih bekerja di seluruh republik ini dan kita juga baru saja mendapat pengungkapan di Aceh, kemudian Tanggerang, Bekasi, dan beberapa tempat lainnya,” kata Budi Waseso di Lanal Batam, kemarin.

Senada dengan Hadi, pria yang akrab disapa Buwas juga sepakat agar kerja sama antarinstansi negara dalam memberantas peredaran narkoba di Indonesia terus ditingkatkan. Sehingga tidak ada ruang sekecil apapun bagi penyelundup narkoba untuk bisa masuk ke wilayah Indonesia.

“Jaringan ini sangat berbahaya. (Narkoba) ini ancaman negara dan jangan sampai kita biarkan. Termasuk kepada masyarakat juga turut serta dalam mengawasi jaringan yang ada,” tuturnya.

Selaras dengan keterangan Hadi, Ketua DPR Bambang Soesatyo menyampaikan bahwa kerja sama antara TNI, Polri, BNN, Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu, serta instansi lainnya harus diteruskan. Bila perlu semakin diperkuat. Tidak hanya itu, pejabat yang akrab dipanggil Bamsoet itu pun meminta aparat menindak tegas seluruh dalang dibalik peredaran narkotika di tanah air. Termasuk yang berperan dalam upaya penyelundupan menggunakan kapal MV Sunrise Glory.

“DPR menyarankan tenggelamkan kapal ini dan hukum mati pelakunya,” kata Bamsoet.

*Penyergapan dalam Setengah Jam
Ketika KRI Sigurot-864 menangkap kapal MV Sunrise Glory, mereka tengah melaksanakan tugas Operasi Pengamanan Perbatasan Indonesia-Singapura 2018. Adalah Mayor Laut (P) Arizona Bintara yang memimpin seluruh awak kapal perang tersebut. Ketika diwawancarai kemarin, dia menjelaskan bahwa proses penyergapan kapal pengangkut sabu lebih dari satu ton itu tidak lama. Bahkan tidak lebih dari satu jam.

“Kami pengejaran (sampai penyergapan) setengah jam. Kemudian pemeriksaan sekitar dua jam,” ucap dia.

Prosesnya berlangsung ketika KRI Sigurot-864 tengah berpatroli di perairan Selat Philips. “Kami menemukan kapal berbendera Singapura melintas keluar dari alur yang disediakan untuk internasional,” terang Arizona.

Lantaran merasa bertanggung jawab dan berwenang melaksanakan pemeriksaan, pengejaran dilakukan. “Karena ada sedikit upaya untuk melarikan diri. Kami kejar dengan merapat dan kami laksanakan pemeriksaan,” beber dia. Meski sama sekali tidak ada perlawanan maupun kontak senjata, dia dan anak buahnya tetap mengamankan kapal tersebut.

Sebab empat awak kapal yang menumpang di kapal itu tidak membawa dokumen lengkap. Bahkan diduga menggunakan dokumen palsu. Untuk itu, dia langsung melapor kepada komando atas. Dari sana perintah membawa kapal tersebut ke pangkalan terdekat keluar.

“Perintahnya dibawa ke (Lanal) Batam. Saya bawa ke Batam,” imbuh Arizona. (syn/jpg)

Respon Anda?

komentar