Pegawai RSUD Embung Fatimah, Batuaji menyusun kotak kardus yang berisi obat bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Rabu (24/1). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Obat bantuan Pemerintah Provinsi Kepri di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji mulai menipis. Sebanyak 26 koli obat yang diserahkan oleh Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Rabu (24/1) lalu, sebagian besar sudah terpakai.

Rumah sakit bertipe B itu kembali dilanda krisis obat-obatan. Pengadaan obat-obatan dari pihak rumah sakit sendiri belum berjalan maksimal sebab terkendala dengan utang pada vendor-vendor penyuplai obat sebelumnya yang belum bisa dibayar hingga saat ini.

Situasi yang kurang baik itu kembali dikeluhkan pasien berobat ke rumah sakit berpelat merah itu, beberapa hari belakangan ini. Pasien kembali merogok kocek lebih dalam lagi sebab harus membeli obat di luar sekalipun terdaftar sebagai pasien BPJS. Seperti yang diutarakan oleh Nining, warga Tembesi yang menjalani terapi syaraf di poli klinik syaraf, Jumat (9/2) pagi.

Meskipun terdaftar sebagai pasien BPJS dia harus membeli satu jenis obat seharga Rp 140 ribu di apotek luar. Itu karena di apotek rumah sakit itu hanya tersedia satu jenis obat yang dibutuhkannya sesai resep dokter.

“Ada dua jenis obat, tapi yang ada cuma satu. Satunya beli diluar sekitar Rp 140 ribu,” ujarnya saat dijumpai di depan RSUD, kemarin.

Petugas medis di rumah sakit tersebut menuturkan hal yang sama. Stok obat bantuan dari Pemprov beberapa waktu lalu memang sudah banyak yang terpakai dan saat ini sudah mulai menipis.

“Sisanya tak sampai setengah lagi. Sudah mau habis. Sejak obat itu datang permintaan (obat) pasien sangat banyak makanya cepat habis,” ujar seorang petugas di bagian apotek.

Stok obat yang kembali kosong diakui petugas medis itu, tidak saja obat paten atau penyakit langkah tapi juga obat generik untuk penyakit umum lainnya. Menipisnya stok obat tersebut karena memang stok obat yang didatangkan tidak sebanding dengan permintaan atau jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit tersebut.

“Permintaan (obat) pasien jauh lebih banyak dengan stok obat yang didatangkan. Satu penyakit saja bisa sampai lima jenis obat. Pasien yang datang perhari rata-rata diatas angka 100 jadi memang agak susah mau mengakomodir semua kebutuhan obat pasien ini,” ujar petugas itu lagi.

Sementara pihak manajemen menuturkan hal yang berbeda. Menurut Direktur RSUD Embung Fatimah Batam drg Ani Dewiyana stok obat masih tersedia dengan baik. Itu karena bantuan obat-obatan dari Pemerintah Provinsi Kepri tahap kedua juga sudah tiba.

“Masih ada kok, karena ada bantuan lagi (tahap kedua). Sudah datang,” ujar Ani.

Keluhan pasien terkait kekosongan obat yang masih berlanjut itu kata Ani mungkin saja jenis obat-obat tertentu yang kebetulan tidak memang tidak ada dalam bantuan pihak pemprov itu.

“Satu penyakit ada banyak jenis obat. Mungkin saja salah satu jenis yang kebetulan tak ada,” ujarnya.

Ani bahkan menyebutkan, pelayanan medis di rumah sakit yang dipimpinnya itu sudah mulai membaik. Untuk stok obat-obatan, selain dibantu Pemprov pihaknya juga sudah mulai menemukan kesepakatan dengan beberapa vendor penyulai obat untuk menjamin ketersediaan obat-obatan di rumah sakit tersebut.

“Dari e catalog yang kita buka, sudah ada beberapa mulai menyupalai obat. Saya lupa jumlah pastinya. Ada puluhan itu,” kata Ani, kemarin.

Sebelumnya Ani menyebutkan ada sekitar 400 vendor baru yang merespon e Katalog penawaran kerja sama menyuplai obat ke RSUD. Dia berharap agar semua vendor tersebut bersedia kerja sama untuk saling mengisi permintaan obat-obatan yang dibutuhkan RSUD. (eja)

Advertisement
loading...