Meski tidak seheboh 17 provinsi lainnya, namun Kepulauan Riau (Kepri) tetap “kecipratan” menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada). Dari tujuh kabupaten/kota, hanya satu saja yang menggelar pesta demokrasi. Yakni Kota Tanjungpinang.

Ada tiga calon wali kota dan wakil wali kota yang bertarung. Mereka adalah Syahrul-Rahma, Lis Darmansyah-Maya Suryanti, dan Edi Safrani-Edi Susanto. Meskipun saya bukan warga setempat, tapi saya yakin ketiga pasangan punya kelebihan dan kekurangan. Punya karakteristik masing-masing. Juga program-program untuk memikat hati rakyat selaku pemilih.

Menggunakan hak pilih merupakan sesuatu yang mulia. Karena pilihan rakyat akan menentukan arah masa depan daerah. Jangan sampai cuek. Apalagi kalau memutuskan untuk menjadi golongan putih (golput) alias tidak menggunakan hak pilihnya. Pasti rugi. Sebab satu suara juga menentukan nasib daerahnya, lho.

Tapi sebelum memilih “jagoan” Anda di Pilkada Tanjungpinang, kenali dulu karakteristik kepemimpinan mereka. Bukan bermaksud mengarahkan untuk memilih calon A, B, atau C. Toh, saya sendiri tidak punya hak suara. Kebetulan sesuai Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el), saya mempunyai hak pilih di Kalimantan Timur (Kaltim). Hehehehe.

Kebetulan, beberapa waktu lalu ada bacaan menarik. Saya mendapatkannya di dunia maya. Cuma, agak lupa sumbernya. Tapi yang pasti ada. Ini terkait kriteria pemimpin.
Ada tiga karakter pemimpin. Demokratis, egaliter, dan otoriter.

Yang pertama adalah demokratis. Pemimpin model ini punya kemampuan memengaruhi orang lain. Biasanya, tipe tersebut bisa mengajak timnya untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena dalam setiap pengambilan keputusan, pasti dimusyawarahkan atau didiskusikan dengan bawahan.

Pemimpin seperti ini berperan sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur. Tidak sedikit yang mencintai pemimpin seperti ini karena dianggap mampu menerima semua aspirasi. Baik dari bawah hingga atas.

Kedua, egaliter. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin pada umumnya, tipe seperti ini biasanya “membumi”. Dia tidak menempatkan diri sebagai seseorang yang elitis. Baginya, jabatan adalah amanah. Sehingga, mampu memposisikan dirinya sebagai bagian dari bawahannya.

Karena sekat antara pimpinan dengan yang dipimpin nyaris tidak ada, maka pemimpin egaliter mudah bergaul dan membaur. Terkadang terlihat bercengkerama bersama karyawan, bergurau, atau bergerak bersama. Tidak sedikit pula yang mencintai pemimpin seperti ini karena dianggap sebagai teman, rekan, atau sahabat.

Tipe terakhir adalah otoriter. Inilah karakteristik kepemimpinan yang paling uzur. Tepatnya pada zaman kerajaan. Di mana, gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu atau sekelompok orang. Biasanya, pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Semua keputusan yang diambil harus dijalankan. Benar atau salah, harus dilaksanakan.
Biasanya, tipe ini bisa disebut sebagai one man show. Di mana bawahan dianggap sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak.

Gaya seperti ini memang agak jarang disukai. Selain terkesan arogan, bawahan tidak akan punya kreativitas. Atau berinovasi. Semuanya harus satu komando, satu pikiran, satu keputusan.

Sekali lagi, dari ketiga karakteristik kepemimpinan tersebut, ada kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu acuan baku, tipe seperti apa yang harus kita pilih. Karena semua karakteristik kepemimpinan itu juga disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kalau perlu, seorang pemimpin harus menguasai ketiga karakteristik itu. Kalau pepatah menyebut bermuka dua, maka kali ini kita sebut “bermuka” tiga. Hahahaha.

Kenapa harus menguasai ketiganya?
Ada saatnya pemimpin bersikap demokratis. Hal itu berlaku dalam kondisi tidak dalam tekanan. Artinya, memang sudah direncanakan secara matang. Tapi, ada saatnya juga harus memberlakukan sikap egaliter. Karena memposisikan diri sebagai teman, ada kalanya juga kita memberikan kepercayaan kepada tim kita selama keputusan itu baik.

Bagaimana dengan pemimpin otoriter? Meskipun sudah bukan zaman now, karakteristik seperti ini juga sangat dibutuhkan. Namun, karakteristik seperti ini sangat dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Misalnya, insidentil alias gawat darurat. Atau membutuhkan respon cepat untuk pengambilan kebijakan. Dengan kondisi seperti itu, sikap otoriter sangat diperlukan.

Untuk kesekian kali, silakan kenali calon pemimpinmu.

Untuk masyarakat, selama menentukan hak pilih.

Untuk para calon, berkompetisilah yang sportif.

Selamat merayakan pesta demokrasi bagi masyarakat Kota Tanjungpinang. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

Advertisement
loading...