ilustrasi

batampos.co.id – Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmajardi mengakui kemelut yang dialami oleh manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji khususnya untuk pengadaan obat-obatan belum bisa terurai dengan baik. Alasannya sama seperti yang disampaikan manajemen RSUD sebelumnya, bahwa pengadaan obat-obatan masih terkendala dengan proses audit dari BPKP.

Saat meresmikan Puskesmas Batuaji, Senin (12/2) Didi menuturkan, anggaran untuk pengadaan obat-obatan di RSUD memang sudah ada sejak awal tahun lalu, namun itu belum bisa digunakan secara masksimal sebab utang pada vendor-vendor penyuplai obat sebelumnya belum bisa dibayar.

“Kenapa utang belum bayar ya itu tadi karena masih diaudit. Itulah bedah rumah sakit pemerintah dan swasta,” ujar Didi, kemarin.

Hubungan antara utang pada vendor lama dan terhambatnya pengadaaan obat-obatan dijelaskan Didi memang agak rumit. Selain susah mendapatkan vendor penyuplai obat-obatan yang baru, ada beberapa jenis obat yang memang tidak dimiliki vendor lain selain vendor-vendor lama tersebut.

“Uang untuk beli obat ada. Nah ada obat-obat tertentu yang memang hanya ada pada vendor-vendor terdahulu itu. Ini jadi persoalan juga,” ujar pria yang pernah menjadi Plt Direktur RSUD Embung Fatimah itu.

Untuk mengakali persoalan itu kata Didi, dia menyarankan manajemen RSUD untuk berkoordinasi dengan vendor-vendor baru yang bersedia kerja sama agar membeli obat-obatan yang tidak dimilik vendor lain itu dari vendor-vendor sebelumnya itu.

“Nanti coba melalui vendor baru untuk dapatkan obat itu (yang hanya dimiliki oleh vendor-vendor lama). Kalau melalui vendor yang baru sistem bayar cash jadi kami rasa tidak masalah,” ujar Didi

Solusi yang ditawarkan Didi itu sepertinya akan berjalan dengan baik, sebab kata Direktur RSUD Embung Fatimah Batam Ani Dewiyana saat ini sudah ada beberapa vendor baru yang bersedia menjalin kerja sama untuk menyuplai stok obat-obatan ke RSUD. Namun demikian Ani belum menjelaskan lebih detail terkait sistem kerja sama tersebut apakah mengakomodir semua jenis kebutuhan obat-obatan di RSUD atau tidak.

“Masih dalam proses. Yang pasti sekarang lagi berusaha keras mengatasi persoalan ini,” ujar Ani.

Sebelumnya Ani menyebutkan, upaya pihaknya untuk kembali mengadakan obat-obatan sudah dilakukan dengan baik yakni mengeluarkan surat penawaran kerja sama kepada vendor-vendor penyuplai obat-obatan melalui penawaran e-Katalog. Hasilnya ada sekitar 400 vendor yang tertarik. Sampai akhir pekan kemarin sudah puluhan vendor yang bersedia kerja sama. Ani berharap agar ketertarikan para vendor-vendor penyuplai obat itu berlanjut pada pendatangan kontrak kerja sama.

“Semoga secepatnya terealisasi,” ujar Ani.

Disinggung terkait ketersedian stok obat-obatan di RSUD saat ini, Ani mengaku masih mencukupi. Itu karena bantuan tahap kedua dari Pemerintah Provinsi Kepri sudah turun lagi. “Masih mencukupi kok, bantuan tahap kedua sudah nyampai lagi,” tutur Ani.

Sementara pantuan Batam Pos di RSUD, pelayanan medis secara umum memang berjalan lancar. Namun demikian masih ada pasien yang mengeluh karena harus beli jenis obat tertentu di luar rumah sakit.

“Belum lengkap semua. Saya berobat ke poli syaraf, ada tiga jenis obat yang ada diresep tapi yang ada di apotek (RSUD) cuman dua jenis. Satunya disuruh cari diluar karen tak ada,” ujar Fitri, pasien yang berobat ke RSUD, kemarin. (eja)

Respon Anda?

komentar