Kamis, 9 April 2026

Pedagang Kembali Jualan, Warga Putri Tujuh Protes

Berita Terkait

Pasar kaget di Batuaji.
Foto. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Warga Perumahan Putri Tujuh, RW 05, Kelurahan Kibing, Batuaji protes kepada pedagang Pasar kaget yang kembali berjualan di dekat perumahan tersebut, Jumat (23/2). Padahal, sebelumnya, sejumlah pedagang pasar kaget itu sudah diberi surat peringatan dan berjanji tidak akan melakukan aktivitas apapun di lokasi tersebut.

“Mereka sudah diberi waktu selama dua minggu untuk berjualan di sini. Nah, sekarang sudah lewat, tapi kok mereka balik jualan lagi,” ujar Mawarni, warga Perumahan Putri Tujuh.

Ia mengatakan penolakan terhadap puluhan pedagang pasar kaget itu cukup beralasan. Kehadiran pasar tumpah itu diakui warga mematikan usaha mereka yang ada di dalam perumahan. “Di dalam sana (perumahan) banyak juga penjual. Contohnya saya, jualan saya tak laku kalau mereka tetap berjualan di sini,” katanya.

Selain itu, keberadaan pasar kaget juga meresahkan warga, mereka kerap berjualan di row jalan dan menganggu akses jalan masuk perumahan warga. “Sampah juga banyak beserakan,” ucapnya.

Ia pun meminta untuk merelokasi pedagang tersebut ke lapak pasar tradisional. “Di pasar BCC itu masih banyak lapak kosong. Kenapa mereka tak jualan di sana saja,” ucapnya.

Camat Batuaji, Ridwan Arfandi mengaku sebelumnya warga dan perangkat Rt/Rw setempat memang mengeluhkan persoalan itu kepada pihak kecamatan. Sehingga pihaknya berinisiatif mempertemukan kedua belah pihak.

“Hasil pertemuan itu pedagang diberi waktu dua minggu untuk berjualan. Tapi entah kenapa mereka datang berjualan lagi,” katanya.

Sementara pihak Satpol PP yang mengetahui pedagang kembali membuka lapak langsung mendatangi lokasi. Satpol PP pun meminta kepada pedagang untuk menghentikan aktivitas mereka. Namun, rupanya ditolak. Malah pedagang sempat bersitegang dengan pihak kelurahan.

“Minggu ini diberi kesempatan. Kalau tetap berjualan minggu depan, kami akan bertindak tegas,” ujar seorang anggota Satpol PP saat bermediasi.

Dominik, pedagang pasar kaget mengaku terpaksa menjual di pasar kaget karena alasan ekonomi. “Kalau jualan dipasar tradisional harus menyewa lapak,” katanya.

Sementara berjualan di pasar kaget ia hanya mengeluarkan biaya untuk retribusi sampah sebesar Rp 10 ribu. “Janganlah main usir-usir, kami ini cari makan juga,” tutupnya. (une)

Update