Buset! Benar-benar edan!
Ungkapan itu terucap seketika ketika saya membaca grup Whatsapp Batam Pos, Selasa (20/2) lalu. Tim gabungan Mabes Polri, Polda Kepri, dan Bea Cukai mengamankan 1,6 ton sabu-sabu di Perairan Karang Helens Mars, Anambas, Kepulauan Riau (Kepri).
“Buset,” celetuk saya.
“Barang haram” itu diamankan dari kapal Taiwan bernama MV Min Lian Yu Yun 61870. Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).
Jenderal bintang dua itu membeber nama-nama nakhoda beserta awaknya.
Nakhodanya bernama Tan Hui (43), sedangkan tiga anak buah kapal (ABK) bernama Tan Mai (69), Tan Yi (33), dan Liu Yin Hua (63).
Seumur-umur saya baru dengar ada sabu-sabu sebanyak itu. Kalau dikalkulasi nilainya, bisa triliunan rupiah. Ada yang bilang Rp 2,2 triliun. Ada pula yang menyebut sampai Rp 2,7 triliun. Terlepas dari berapa nilai sebenarnya, yang pasti nilainya triliunan. Entahlah.
Kepri yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaan internasional memang menjadi tempat yang seksi untuk memasukkan narkoba ke Indonesia. Namun kesigapan aparat negeri ini membuat saya sedikit tenang.
Sebelumnya, penangkapan besar-besaran juga dilakukan di wilayah Kepri. Kapal Wanderlust diciduk Korps Bhayangkara saat bawa sabu-sabu ke Jakarta, kemudian kapal Sunrise Glory yang membawa 1 ton sabu-sabu diamankan TNI AL.
Penangkapan di Anambas tergolong jumbo. Bisa jadi yang terbesar dalam sejarah pengungkapan narkoba di negeri ini.
Kalau menyimak pernyataan Irjen Pol Didid memang bikin merinding. Gara-gara pengungkapan 1,6 ton sabu-sabu itu, 8,4 juta generasi muda di negeri ini terselamatkan.
Asumsinya, satu gram sabu-sabu dikonsumsi lima orang.
Bayangkan kalau sabu-sabu sebanyak itu masuk ke Indonesia. Sebagai orang tua, kita pun pasti cemas. Namun saya merasa lega, selain menyelamatkan 8,4 juta generasi muda, penggagalan distribusi sabu-sabu itu juga memutus mata rantai jaringan internasional.
“Ini keberhasilan yang sangat luar biasa, karena kita berhasil menyelamatkan 8,4 juta jiwa generasi muda di Indonesia,” kata Irjen Pol Didid.
Pernyataan Kapolda bikin saya tenang.
Peredaran narkoba ini jadi pekerjaan rumah (PR) bersama bagi kita semua. Untuk itulah, upaya dan usaha Polda Kepri dalam rangka mencegah upaya penyulundupan harus kita dukung. Karena membasmi narkoba tidak mudah. Sangat-sangat sulit.
Sebenarnya, saya ingin memberikan reward untuk Polri, khususnya Polda Kepri yang bertanggungjawab terhadap perbatasan. Tapi agak bingung mau memberikan reward dalam bentuk apa. Setelah saya timbang-timbang, akhirnya saya hanya memberi reward lewat tulisan ini.
Minimal, saya mewakili para orang tua yang saat ini tengah menyiapkan anak-anaknya untuk beranjak dewasa, mengucapkan terima kasih atas upaya pemberantasan narkoba. Tidak hanya ke Polda Kepri, namun juga Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), Bea Cukai, TNI AL, dan aparat lainnya.
Kenapa saya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan di daerah, karena sudah barang tentu nantinya akan diteruskan ke institusi di pusat. Karena kalau saya langsung mengucapkan terima kasih ke Kapolri, takut tidak sampai. Tapi kalau lewat Kapolda dan instasi lainnya, insya Allah disampaikan.
Yang pasti, selamat menjelang HUT ke-13 Polda Kepri. Semoga tetap semangat dalam menjaga dan mengamankan perbatasan. Pertahankan terus sinergi dengan institusi lain dalam rangka perang melawan narkoba. *
Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos
