batampos.co.id – Pemerintah Provinsi Kepri berencana menggandeng investor asal Tianjin, Tiongkok, untuk merealisasikan sejumlah proyek raksasa di provinsi ini. Bahkan sejumlah pemodal dari Negeri Tirai Bambu itu sudah menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi dalam beberapa proyek.

Penasihat Ekonomi Gubernur Kepri, Johanes Kennedy, mengatakan dirinya langsung bertolak ke Tiongkok untuk bertemu sejumlah calon investor, Rabu (28/2). “Ini untuk menindaklanjuti rencana kerja sama pembangunan proyek-proyek di Kepri yang sudah direstui Presiden Jokowi,” kata Johanes, kemarin.

Menurut dia, dalam waktu dekat akan kembali ke Tiongkok Gubernur Kepri, Nurdin Basirun. Menurut Johanes, Nurdin akan ke Tiongkok pada Maret ini atau bulan April mendatang.

“Suratnya sudah dikirimkan Gubernur ke Tiongkok. Kami bersama Pak Gubernur ke sana atas undangan pemerintah Tianjin” katanya.

Pria yang akrab disapa John ini mengatakan, agenda utama kunjungan Gubernur nanti bertemu dengan para calon investor asal Tianjin yang berminat dengan tujuh proyek di Kepri. Yakni pembangunan Jembatan Batam-Bintan, pengembangan Pelabuhan Tanjung Sauh di Batam, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang di Bintan, KEK Pulau Asam di Karimun, pengembangan Pelabuhan Batuampar di Batam, pengembangan dan modernisasi Bandara Internasional Hang Nadim Batam, dan pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Batam.

Ketujuh proyek tersebut sudah mendapat restu dari Presiden Joko Widodo. Restu tersebut disampaikan Jokowi saat bertemu Nurdin Basirun di Istana Negara, Jakarta, Selasa (27/2) lalu.

John menambahkan, saat ini suda ada beberapa perusahaan yang menyatakan tertarik dengan ketujuh proyek tersebut. Terutama proyek Jembatan Babin dan Pelabuhan Tanjungsauh. Di antaranta TDC Company, ZPMC Company, dan CCCC Company.

“Kami mendorong supaya secepatnya digelar penandatangan MoU antara perusahaan-perusahaan tersebut dengan Pemerintah Provinsi Kepri,” katanya.

Menurutnya, proyek-proyek yang sudah direstui Presiden tersebut harus digesa karena mampu menggerakkan perekonomian di Kepri. Terutama Jembatan Batam-Bintan yang bisa menggerakkan ekonomi kedua daerah tersebut.

Selain itu, John juga berencana bertemu dengan pengusaha besar di Tianjin mengenai wacana relokasi industri dari negeri Tirai Bambu tersebut ke Batam. “Relokasi industri dari sana juga akan kami bicarakan. Kami berjuang agar investasi di Batam ini terus tumbuh,” katanya.

Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam Jadi Rajagukguk menyambut baik kunjungan yang dilakukan Johanes Keneddy ke Tianjin, Tiongkok. Ia yakin dari kunjungan tersebut akan ada hasil yang baik untuk iklim investasi di Kepri dan Batam.

“Kami bersyukur Pak Jhon sangat cepat merespon sikap Jokowi yang merestui beberapa proyek di Kepri. Kitaberharap akan lebih banyak investor dari Tiongkok untuk investasi di Kepri,” katanya.

Realisasikan Tanjungsauh

Sementara Badan Pengusahaan (BP) Batam mendukung komitmen Pemprov Kepri membangun Pelabuhan tanjungsauh. BP Batam berjanji akan mendukung dan bersama-sama pemerintah daerah untuk merealisasikan pelabuhan kontainer tersebut.

“Tanjungsauh itu harus bersama-sama dengan Gubernur dan Wali Kota dikembangkan jadi pelabuhan besar,” jelas Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo, Rabu (28/2).

Namun, tampaknya keinginan itu harus menunggu rampungnya pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin). Karena jembatan Babin merupakan konektivitas penting antara kedua pulau yang dapat mendorong akselerasi pertumbuhan ekspor impor lewat Tanjungsauh nanti.

Bentuk pelabuhan apa yang diinginkan untuk dibangun di Tanjungsauh nanti, Lukita mengatakan masih belum tahu. Tapi ia berjanji akan memperjuangkan pembangunannya.

Disamping itu, penyebab utama mengapa pembangunan Pelabuhan Tanjungsauh tak kunjung terealisasi adalah terkait statusnya yang berada di luar Kawasan Perdagangan Bebas Batam. Sehingga membuat investor yang berminat kabur karena tidak mendapat kepastian.

“Statusnya juga nanti akan diperjuangkan,” jelasnya.

Usulan pembangunan Tanjungsauh ini telah selesai dibuat. Dan dalam waktu dekat akan dipublikasi di depan Presiden Jokowi. Tanjungsauh akan dikembangkan sebagai pelabuhan terpadu, dimana akan dibangun juga kawasan industri dan permukiman.

Potensi Tanjungsauh sebagai pelabuhan kontainer sangat besar. Ada sekitar 80 ribu kapal yang lewat di Selat Malaka dengan mengangkut kontainer 70 juta TEUs per tahun. Potensi besar itu juga ditangkap oleh Singapura yang menaikkan targetnya dari 30 juta TEUs menjadi 70 juta TEUs per tahun.

Luas kawasan yang akan dibangun direncanakan 1.200 hektare dengan 120 hektare khusus untuk kawasan terminal. Target kontainer awal 500 ribu-1 juta TEUs per tahun dan target akan naik seiring perkembangan waktu. Lama pembangunan diperkirakan 10 tahun.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus digenjot lewat pembangunan infrastruktur sesegera mungkin.

“Kami sudah buat pemetaannya, dimana ekonomi bisa tumbuh jika infrastruktur dikembangkan. Jika bisa dieksekusi secara cepat, maka akan ada dampaknya terhadap produk domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja,” paparnya.

Ia memberikan saran agar usulan pembangunan Pelabuhan Tanjungsauh segera direalisasikan agar segera bisa mendorong investasi tumbuh.

“Intinya jika ingin melihat capaian ekonomi yang bagus, maka harus segera dieksekusi,” tegasnya. (ian/leo)