batampos.co.id – Setelah mendapat lampu hijau dari Pemerintah Pusat, realisasi pembangunan Jembatan Batam Bintan (Babin) harus segera dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk menciptakan biaya transportasi yang murah dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kepri, khususnya Batam.

Deputi II BP Batam, Yusmar Anggadinata mengatakan efek dari pembangunan Jembatan Babin akan membawa nama Pulau Bintan lebih dikenal sebagai sentra produksi. Saat ini pemerintah daerah tengah merumuskan hal tersebut dimulai dari keberhasilan Galang Batang di Bintan mendapat status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Jembatan Babin harus cepat dibangun, supaya orang-orang yang kerja di Batam bisa pulang di Bintan. Di Bintan biaya kehidupan relatif lebih murah sehingga masyarakat bisa menabung untuk kesejahteraan. Makanya biaya transportasi dibuat murah dengan bangun Jembatan Babin,” jelasnya.

Namun, ia memiliki catatan penting bagi Pemprov Kepri yang akan menyusun Detail Engineering Desaign (DED) jembatan tersebut. Angga mengatakan jembatan tersebut harus dibangun dengan dwifungsi, yakni sebagai arus pergerakan barang dan juga penumpang. Ditambah lagi dengan menempatkan jalur khusus untuk transportasi massal seperti Light Rail Transit (LRT).

“Waktu mendesain, tak boleh semata-mata hanya bangun jembatan saja, tapi harus jembatan yang kalau bisa ada jalur LRT dan melayani arus pergerakan barang juga,” jelasnya.

Dengan konsep seperti ini, maka Bintan akan berperan sebagai sentra produksi dan Batam menjadi sentra logistik yang bertugas menjadi tempat penyimpanan barang dan mendistribusikannya dengan cepat ke daerah tujuan.

“Ini seperti meniru konsep Hongkong Shenzen, dimana Shenzen jadi pusat produksinya,” jelasnya.

Desain utilitasnya seperti jaringan air, listrik, terowongan angin juga harus ditata sedemikian rupa dan cermat. Dalam sudut pandangnya yang sudah malang melintang di BUMN, Angga melihat jika konsep DED sudah rampung, maka Jembatan Babin bisa diselesaikan dalam waktu dua tahun.

“DED-nya ini yang penting. Karena menyusunnya bisa dalam waktu lama. Karena harus cari kaki jembatan dimana dulu dan juga melihat konsep terowongan anginnya seperti apa. Untuk terowongan angin bisa enam bulan merampungkannya,” tambahnya lagi.

Kalangan pengusaha kawasan industri juga mendukung pembangunan Jembatan Babin tersebut. Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing melihat keberadaan Jembatan Babin sangat diperlukan supaya kawasan indsutri di Bintan bisa setara dengan yang ada di Batam.

“Jembatan Babin ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Bintan yang otomatis mendongkrak ekonomi Kepri,” ujarnya.

Selain itu, realisasinya juga sangat penting untuk mensinergikan pertumbuhan Batam Bintan Karimun yang dikenal sebagai BBK.”Sebenarnya ini kan sudah lama ditunggu dan kami menyambut baik untuk pertumbuhan ekonomi di Kepri,” pungkasnya.(leo)