Minggu, 8 Februari 2026

BP Batam akan Selektif Terima Industri Asal Tiongkok

Berita Terkait

Industri di China | imgur

batampos.co.id – Rencana relokasi pabrik-pabrik Tiongkok ke Batam mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak. Di satu sisi, relokasi ini akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Namun pemerintah daerah harus waspada, karena hal ini bisa menjadi ancaman bagi kesehatan lingkungan.

“Kami memahami investasi sangat dibutuhkan, tapi di sisi lain kami tetap harus hati-hati soal lingkungan,” kata Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Lukita Dinarsyah Tuwo di Batamcenter, Minggu (4/3) sore.

Lukita mengakui, saat ini pihaknya sudah mengetahui ada sejumlah pabrik di Tianjin, Tiongkok, yang berencana akan memindahkan usahanya ke Batam. Pabrik-pabrik di sana sengaja ditutup pemerintah setempat karena dianggap menyebabkan polusi lingkungan dan udara.

Terkait hal ini, Lukita menegaskan pihaknya akan tetap selektif menerima investasi asing, terutama dari Tiongkok. Selain itu, BP Batam akan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan Kementerian Perindustrian.

“Ini erat kaitannya dengan sejauh mana kami bisa mengundang investor untuk berinvestasi di Batam,” ucapnya.

Secara khusus, Lukita enggan banyak komentar terkait wacana tersebut. “Bagaimana ke depan, saya belum siap bicara. Kami perlu bicara dengan pusat,” tambahnya.

Namun demikian, ia menyampaikan pengolahan limbah di Batam sudah mumpuni. Temasuk pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Jika kelak pabrik-pabrik asal Tiongkok itu masuk ke Batam, ia menyampaikan sudah seharusnya mereka ikut dan tunduk pada peraturan yang ada di Indonesia.

“Pastinya tidak boleh melanggar ketentuan yang ada,”ujarnya.

Lalu bagaimana dengan ketersediaan lahan? Walau belum memastikan berapa kebutuhan lahan yang diperlukan pabrik-pabrik tersebut kelak, Lukita memastikan di beberapa kawasan industri di Batam yang memiliki ketersediaan lahan.

“Saya kira ada beberapa kawasan-kawasan industri yang siap menampung, seperti di Kawasan Industri Tunas, juga tempat lain,” imbuhnya.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hioeng membenarkan, saat ini memang masih ada lahan tersedia di sejumlah kawasan industri di Batam. Baik lahan kosong maupun bangunan yang bisa langsung diisi perusahaan-perusahaan tertentu. Namun demikian, ia menyampaikan beberapa kawasan industri Batam memiliki aturan atau tata tertib yang sangat ketat. Terutama jika menyangkut masalah lingkungan dan pengelolaan limbah.

“Pada dasarnya kami sambut baik ada rencana relokasi industri dari Tiongkok ke Batam. Tapi beberapa kawasan industri punya aturan atau regulasi yang tidak mau menerima industri yang polutan,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, sebagian besar industri atau pabrik di Batam juga sangat peduli dengan kesehatan lingkungan. Sehingga ia memastikan, mereka akan ikut menolak masuknya industri yang polutan.

“Kalau mereka menerima tenan-tenan lain dalam kawasan tertentu, akan terganggu dan komplain. Misalnya soal bau dan segala macam” kata Tjaw.

Namun pria yang akrab disapa Ayung ini mengatakan, sejauh ini tidak semua perusahaan asal Tiongkok yang akan relokasi ke Batam itu adalah industri polutan. Menurut dia, ada juga industri yang bergerak di sektor pendukung ponsel pintar (smartphone).

“Kalau ini tak masalah, kami welcome. Rata-rata kawasan industri di Batam menerima ini, kalau untuk kegiatan seperti sampah plastik tidak semua kawasan menerima. Kebanyakan kami kawasan non-polutan industry, light industry, ini di sampaing oil and gas ya,” ucapnya. (adi)

Update