
batampos.co.id – Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) bersolek. Kini, sudah dibuka untuk umum setelah lebih dari tiga tahun ditutup. Seperti apa wajah barunya?
Bangunan putih dengan arsitektur bergaya Eropa berada persis di simpang empat Jalan Ketapang, seakan baru bangkit dari tidur lamanya. Bangunan yang dulunya merupakan sebuah sekolah telah lama dialihfungsikan menjadi museum. Satu-satunya museum di ibu kota Provinsi Kepri.
Tercatat, tiga tahun lamanya museum ini ditutup. Selama itu, pemerintah daerah getol mencari bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat untuk pemugaran dan rehabilitasi. Membenahi museum yang juga berstatus sebagai benda cagar budaya, beda dengan gedung lain pada umumnya. Konsultasi dengan pihak-pihak ahli pun mesti ditempuh.
Hasilnya moncer. Seiring dengan HUT ke-234 Kota Tanjungpinang awal Januari lalu, Museum SSBA sudah dibuka untuk umum. Sekilas dari luar, nyaris tidak ada yang berbeda. Keaslian bangunan masih dijaga sebagaimana adanya. Namun, selangkah memasuki beranda, baru terasa sentuhan anyarnya.
Di bagian depan, dahulu dibiarkan lapang begitu saja. Kini sudah ada meja pelayanan. Petugas yang berjaga siap membimbing setiap pengunjung untuk lebih mengetahui tentang koleksi museum. “Diisi dulu daftar tamunya,” ucap salah seorang penjaga yang sedang bertugas.
Pada umumnya, belum ada penambahan koleksi di sana. Namun, yang cukup menyenangkan untuk berlama-lama di museum adalah penataan ruang pamer yang sarat aksen modern. Jika dahulu benda-benda bernilai sejarah itu hanya digeletakkan dan disorot begitu, saja, kini ditata dengan lebih rapi dan punya kedudukan yang bagus. Belum lagi, di bagian dalam ruangan museum kini juga sudah disediakan tempat duduk. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Warna ruangan pun berganti. Dahulu, hanya dominan warna putih. Tapi kini, bagian dalam ruangan sarat warna jingga yang senada dengan perkakas lain yang ada di sana. Sekat pun dikemas lebih berwarna dan informatif. Pamflet-pamflet pun tersedia di tiap ruangan.
“Kalau mau dibawa, silakan pamfletnya,” kata penjaga yang ikut menemani Batam Pos berkeliling di museum, beberapa waktu lalu.
Puas berkeliling lima ruang koleksi museum, di luarnya pun tak kalah asyik untuk bersantai. Kini disediakan beberapa sudut yang bisa menjadi lokasi berfoto bagi pengunjung. Hal ini diberlakukan, kata penjaga tersebut, museum bisa memberi daya tarik bagi generasi muda. “Jadi bisalah foto-foto di sini dan di-upload ke media sosial mereka,” katanya.
Sebenarnya, tujuan utama dari rehabilitasi museum ini adalah menjadikannya sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda. Utamanya para siswa dari beragam jenjang sekolah di Tanjungpinang, diharapkan bisa diajak berkunjung ke museum.
“Jadi mereka bisa lebih kenal dengan sejarah daerahnya sendiri,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjungpinang, Reni Yusneli, belum lama ini.
Agar hajatan ini tercapai, pihak museum, kata Reni, diimbaunya agar lebih aktif bersosialisasi ke sekolah-sekolah. Tidak hanya itu saja, kalau perlu, sambung dia, membuat surat undangan agar sekolah bisa mengirim siswanya datang ke museum.
“Jangan sampai lagi sudah mahal-mahal direnovasi tapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal keberadaannya,” pungkas Reni. (aya)
