batampos.co.id – Komisi II DPRD Batam menggelar Inspeksi Mendadak (Sidak) di Gudang Bulog Batam, Batuampar, Rabu (7/3). Hasilnya, dari 1.186 ton beras di bulog hanya 386 ton yang bisa didistribusikan kepada masyarakat. Sisanya berkualitas buruk, sehingga harus diproses ulang dulu sebelum dilakukan distribusi.
“Kita sebutnya turun mutu sekitar 800 ton. Untuk pendistribusiannya harus diproses dulu,” kata Kepala Gudang Bulog Sufatno.
Menurut dia beras turun mutu ini berasal dari Jawa Timur. Selain kondisinya yang memang kurang bagus, beras ini sudah dua tahun disimpan di gudang bulog. Kondisi beras juga cukup menghawatirkan untuk dikonsumsi. Selain bewarna kuning, beras hancur dan berkutu. Selain itu, beras ini juga sudah mulai berdebu.
“Untuk proses pembersihan kita buang debu dan kutunya. Ada mesin khusus yang membersihkan,” tuturnya.
Suyatno sendiri memastikan beras ini masih layak dikonsumsi setelah berkordinasi lembaga yang bergerak untuk inspeksi pengujian sertifikasi, konsultasi, dan pelatihan, Sucopindo.
“Mereka merekomendasikan kalau beras ini masih layak dikonsumsi dengan catatan diproses dulu dengan menghilangkan debunya,” kata dia.
Sufatno menambahkan, rata-rata setiap bulan bulog mendistribusikan 250 ton beras kepada masyarakat. Itu artinya dengan ketersediaan beras layak konsumsi yang saat ini hanya 386 ton hanya cukup untuk satu setengah bulan. Namun demikian, Sufatno memastikan ada penambahan stok beras didatangkan dari Bulog Dumai.
“Dalam minggu ini sekitar 500 ton dari Dumai. Jadi stok kita masih aman,” paparnya.
Sementara itu proses pendistribusian sendiri diakui Sufatno sesuai jadwal dan arahan direksi Bulog.
“Kalau ada arahan atau operasi pasar kami distribusikan, rata-rata setiap bulan 250 ton. Selain bantuan langsung, kita juga miliki sisi komersial, yakni menjual beras yang dengan kualitas premium,” jelas Sufatno.
Anggota Komisi II DPRD Batam, Dandis Rajagukguk mengatakan, sidak hari ini dengan tujuan untuk mengetahui kondisi stok beras di Bulog Batam. Menurut dia, dengan adanya beras yang tak bisa diistribusikan (turun mutu) ini, Bulog seharusnya mencari alternatif lain untuk mencukupi ketersediaan stok beras di Batam.
“Kita apresiasi ada tambahan dari Dumai. Tapi kan masih rencana. Kalau misalnya terlambat dari waktu yang ditentukan kita tak punya stok dong,” katanya.
Anggota Komisi II Idawati Nursanty menambahkan, gudang bulog memiliki kapasitas 3.500 ton beras seharusnya mampu menampung stok beras. Apalagi melihat Batam bukan daerah penghasil, yang dikhawatirkan akan berdampak kepada harga beras.
“Saya berharap bulog memperhatikan ini, kita bukan daerah penghasil,” katanya. (rng)
