NONARIA mendapat sambutan hangat dari pengunjung saat tampil di Java Jazz Festival (JJF) 2018 pada 2 Maret lalu. Penonton yang memadati panggung gazebo JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, tersebut begitu menikmati penampilan mereka.

Penikmat NonaRia yang digawangi tiga personel -Nesia Ardi (vokal dan snare), Nanin Wardhani (keyboard, piano, akordeon), dan Yasintha Pattiasina (biola)- bukan hanya kalangan dewasa muda. Ada anak-anak, remaja, paro baya, hingga lansia. Sebagian ikut bernyanyi karena hafal lagu mereka. Sisanya, ada yang berjoget riang karena asyik mengikuti irama.

Ada pula yang tersenyum melihat para personel bertingkah atau menyeletuk jenaka. Musik khas tempo dulu NonaRia ternyata sanggup menarik minat berbagai kalangan usia NonaRia terbentuk pada 2012. Awalnya, band pengusung gaya retro itu terdiri atas Nesia, Nanin, dan Rieke Astari yang memainkan akordeon.

Ketiganya merupakan sahabat karib yang sama-sama menggemari musik. Tapi, masing-masing punya kesibukan dan proyek sendiri-sendiri. “Katanya, kami bertiga mukanya mirip,” kata Nesia saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (8/3).

Berbekal kecintaan pada musik, tiga sahabat itu akhirnya membentuk band. Awalnya mereka mencoba jazz karena masing-masing akrab dengan genre tersebut. Namun, untuk bisa eksis, Nesia, Nanin, dan Rieke butuh sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak dimiliki grup musik lain. “Kalau cuma jazz standar doang, ya buat apa,” kata Nesia.

Nesia mengaku bahwa dirinya dan dua kawannya tidak jago-jago amat dalam bermusik. Maka, mereka ingin kuat atau unik dalam hal konsep. Pilihan mereka lantas jatuh pada konsep retro. Namun, bukan asal retro karena cukup banyak band atau musisi yang mengadaptasi gaya itu. Misalnya, band Naif yang mengadaptasi musik era 1970-an atau Clubeighties dengan gaya 1980-an. Ketiga personel ingin spesifik ke sebuah era.

NonaRia mengaku kagum pada lagu-lagu pop Indonesia era 1940 hingga 1950. Era saat musisi dan penyanyi seperti Ismail Marzuki, Bing Slamet, dan Sam Saimun berkibar lewat lagu yang mereka ciptakan atau bawakan. Akhirnya, untuk memberikan keunikan bagi gaya bermusik mereka, era 1940-1950 dipilih.

Ketiga personel sendiri memang tertarik pada konsep musik tempo dulu. Menurut mereka, segala musik vintage atau retro tak lekang oleh waktu. Nuansa tempo dulu bisa dinikmati di era kapan pun dan tidak kehilangan daya tariknya. Musiknya pun dinilai lebih harmonis dan rapi. “Dari segi lirik juga sederhana dan mudah dinikmati,” kata Nanin.

Tak hanya musik dan lagu, gaya retro pun juga diterapkan ke busana. Ketiga personel NonaRia suka dengan desain busana tempo dulu yang manis, sederhana, namun tetap berkelas. Dress yang terinspirasi dari busana tahun 1940 hingga 1950 menjadi kostum kebanggaan NonaRia ketika tampil. “Desainnya kami buat sendiri,” kata Nesia.

Karena belum memiliki lagu sendiri ketika awal terbentuk, NonaRia lebih sering meng-cover lagu-lagu pop Indonesia era 1940 hingga 1950-an. Sebut saja Sabda Alam, Tamasya, Juwita Malam, atau Kopral Jono. Saat tampil kali pertama di Klab Jazz Bandung pada 2013, NonaRia mendapat sambutan hangat. Dugaan mereka benar. Musik dan lagu khas era 1940 hingga 1950-an masih diminati. “Rata-rata mereka tahu lagunya, tapi sudah lama nggak dengar,” ujarnya.

Formasi NonaRia yang hanya tiga orang pun merupakan daya tarik tersendiri. Menurut mereka, komposisi tiga orang dengan alat musik mempertahankan kesederhanaan musik dan lagu. Malah, awalnya, Nesia tidak memainkan snare alias menyanyi saja. Sesekali, mereka mengajak additional player untuk instrumen lain. Atau, NonaRia juga berkolaborasi dengan grup atau musisi lain yang memainkan instrumen berbeda.

Dari penampilan perdana di Bandung, nama NonaRia langsung tenar. Mereka mengaku sudah lupa berapa banyak gig atau show yang melibatkan mereka sejak 2013. Sayang, di tengah popularitas dan banyaknya tawaran manggung, NonaRia ditinggal salah seorang personelnya. Pada 2014 Rieke menikah dan harus ikut sang suami pindah ke Papua.

NonaRia sempat kehilangan arah. Mereka bingung bagaimana bisa tampil memukau dengan formasi dua orang saja. Ditambah lagi, kesibukan Nesia dan Nanin menyita waktu. NonaRia sama sekali tidak tampil, menciptakan lagu, ataupun merilis single dan album. Mereka vakum alias mati suri.

Walaupun vakum, keinginan Nesia dan Nanin untuk tetap bermusik bersama tetap kuat. Akhirnya, pada 2016, sebagai pengganti Rieke, mereka menggandeng Yasintha, pemain biola NonaRia hingga kini. Sebelumnya Yasintha sempat menjadi additional player.

“Kalau ditambahin biola, musik NonaRia bisa lebih oke,” kata Nesia.

Kembali ke belantika musik pada 2016 dalam formasi tiga orang, NonaRia tampil lagi di event Sisterhood Gigs. Yakni, event musik untuk mewadahi para musisi perempuan dalam berkarya. Namun, untuk bisa tampil di acara itu, NonaRia harus punya lagu ciptaan sendiri. Ketiga personel pun bingung. Mereka baru saja bangun dari tidur panjang dan sama sekali belum pernah membuat lagu lantaran vakum.

Akhirnya, sebuah lagu pun diciptakan Nanin. Judulnya Antri Yuk, lagu dengan irama ragtime retro. Isi liriknya seputar ajakan untuk lebih tertib saat berlalu lintas atau antre guna mengurangi kemacetan dan kekacauan.

Rupanya, Antri Yuk sukses membuat banyak orang antre untuk menyaksikan penampilan NonaRia. Rupanya, comeback NonaRia setelah dua tahun vakum disambut baik oleh penggemar musik. Dari situ, Nanin, Nesia, dan Yasintha semakin bersemangat menciptakan lagu baru. Apalagi, cukup banyak yang bertanya kapan NonaRia akan merilis album.

Mereka pun berniat serius mengembangkan NonaRia dan merilis album perdana. Dengan bantuan Hendrawan Revianto, mantan drumer band Notturno dan Beben Jazz Quartet yang kini menjadi manajer NonaRia, ketiga personel mulai fokus. Di bawah arahan dan bimbingan Hendrawan, NonaRia mulai mengerjakan album pertama.

“Awalnya mau bikin minialbum saja, tapi katanya nanggung,” tambah Yasintha.

Dimulai proses pembuatan lagu oleh ketiga personel. Mereka konsisten memasukkan ciri khas lagu-lagu pop lawas Indonesia dalam album perdana yang dirilis pada Januari lalu. Dari segi lirik, lagu-lagu ciptaan NonaRia sangat beragam. Ada yang jenaka, filosofis, puitis, bertutur tentang sebuah pengalaman, memberikan nasihat, hingga mengajak bersukaria.

Menurut Yasintha, salah satu daya tarik lagu dengan langgam lawas adalah bisa dinikmati banyak kalangan lantaran liriknya beragam. Kisah lirik yang diangkat dari kehidupan sehari-hari juga bikin orang nyambung dengan lagu.

“Temanya bukan soal cinta melulu, yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu,” ujar Yasintha. Karena itu, setiap kali NonaRia tampil, penontonnya berasal dari berbagai golongan usia.

Gaya musik yang digunakan untuk mengiringi lirik pun mengingatkan pendengar pada lagu-lagu lawas. Ditambah lagi, efek suara gemerisik yang muncul ketika lagu diputar membuat seolah album diputar di gramofon atau pemutar piringan hitam. Benar-benar terasa sekali nuansa tempo dulunya. Irama musik juga dibuat bervariasi. Ada yang lambat, sedang, dan cepat.

Album perdana yang diberi nama NonaRia mendapat sambutan hangat. Mereka pun melakukan tur untuk mempromosikan album yang juga mendapatkan respons positif dari para Kawan Ceria -fans mereka- di enam kota. Yakni, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, dan Malang.

Kesuksesan NonaRia menunjukkan bahwa musik dengan langgam tempo dulu masih menjadi idaman dan tren di masyarakat. Mereka juga menjadi bukti bahwa musisi perempuan juga mulai diakui.

“Sebenarnya kami membentuk band hanya untuk iseng, bukan karena minimnya band perempuan,” sahut Nanin.

Kini, setelah meluncurkan album perdana dan tampil di JJF 2018, NonaRia semakin banyak menerima tawaran manggung. Keinginan mereka adalah membawa “Hari Bahagia” dan memberi “Sebusur Pelangi” yang indah untuk para penikmat musik. Persis seperti dua judul lagu di album perdana mereka. Juga, memberikan keceriaan bagi banyak orang. Sama dengan nama NonaRia. Tiga nona yang selalu ceria.

(GLANDY BURNAMA, Jakarta)

Respon Anda?

komentar