batampos.co.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri, TS. Arif Fadillah mengatakan pelaksanaan proyek multiyears di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang masih dalam proses penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL). Amdal tersebut diharapkan sudah keluar April nanti.

“Ketika Amdal sudah terbit, maka proses lelang akan disegerakan,” ujar Arif menjawab pertanyaan media awal pekan lalu di Kantor Gubernur Kepri, Tanjungpinang.

Rampungnya mega proyek itu nanti, kesan kumuh perkotaan ini akan berganti menjadi kota yang modern. Tanjungpinang akan dibangun menjadi Water front city. Proyek Gurindam XII yang digagas Pemprov Kepri atau sebelumnya disebut Proyek Jalan Lingkar akan dimulai tahun 2018 ini dengan dana awal sekitar Rp 110 miliar.


Pembangunan akan terus berlanjut hingga tiga atau empat tahun ke depan. Anggaran di Dinas Pekerjaan Umum Pemprov Kepri untuk Proyek Gurindam XII ini sekitar Rp 530 miliar. Di luar anggaran yang melekat di Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Pemprov Kepri yang juga mencapai seratusan miliar. Total anggaran untuk Gurindam XII ini bisa mencapai Rp 600 miliar secara bertahap.

Lebih lanjut katanya, pembangun infrastruktur butuh waktu yang lama. Ia yakin, dengan pembangunan itu nanti, sangat banyak perubahan pembangunan di Tanjungpinang yang bermuara pada peningkatan wisata dan ekonomi dengan pembangunan Proyek Gurindam XII ini. Tahun 2018 ini, Pemprov Kepri mulai menimbun kawasan depan Gedung Daerah yang menjorok ke laut sekitar 150 meter.

“Tapi tidak mengganggu alur pelayaran karena sudah dilakukan survei lapangan,” paparnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemprov Kepri, Abu Bakar menambahkan, laut akan ditimbun dengan lebar sekitar 50 meter. Di pinggir lokasi penimbunan akan dipasang pemecah ombak. Sehingga tanah timbunan tidak longsor saat ombak. Di atas timbunan ini akan dibangun jalan dengan lebar sekitar 30 meter dengan tiga lajur.

Panjang penimbunan tahun ini sekitar 800 meter dari Pelabuhan Sribintan Pura (SBP) hingga depan Jembatan Penyebarangan Tanjungbuntung. Dengan penimbunan ini, maka tepilaut akan berubah menjadi daratan dengan luas sekitar 4,8 hektare.

“Ini akan kita jadikan RTH (Ruang Terbuka Hijau) menambah yang sudah dibangun Pemko saat ini,” jelasnya, kemarin.

Di ruang terbuka hijau ini, akan dibangun berbagai fasilitas lainnya baik untuk permainan masyarakat, parkir, termasuk perluasan taman. Dengan demikian, ke depan akan semakin luas tempat singgah yang bisa dilalui turis, wisnus maupun masyarakat Tanjungpinang sendiri.

Kemudian, sekitar pertengahan Gedung Gonggong dengan Gedung Daerah, akan dibangun jalan untuk menyatukan jalan yang sudah ada saat ini dengan jalan baru yang dibangun di atas tanah timbunan tersebut.

Jalan ini menjadi alternatif bagi masyarakat sekaligus mengurai kemacetan di daerah Tepilaut dan pasar. Pekerjaan penimbunan akan berlanjut dari Jembatan Penyeberangan Tanjungbuntung ke depan SMAN 5 Tanjungpinang. Kemudian, disiapkan juga kawasan untuk pembangunan Gedung Tunjuk Langit sesuai adat Melayu. Di gedung ini masyarakat bisa menggelar acara besar-besaran.

“Karena di lokasi ini juga, akan kita sediakan lahan parkir yang sangat luas. Motor dan mobil bisa muat ribuan unit. Untuk parkirnya saja, kita siapkan lahan sekitar 1,62 hektare,”bebernya lagi.

Untuk penimbunan dari depan Jembatan Penyeberangan hingga depan SMAN 5 Tanjungpinang, akan menyisakan laut menjadi area darat dengan luas sekitar 21,84 hektare. Pembangunan akan berlanjut lagi untuk tahap berikutnya dari depan SMAN 5 Tanjungpinang hongga Batu Hitam. Namun, untuk pembangunan di daerah ini tidak menggunakan timbunan. Yakni akan dibangun jembatan sekitar 1.205 meter baik itu jembatan beton maupun jembatan kaki seribu.

“Dari Batu Hitam, pembangunan berlanjut lagi ke Pantai Impian yang sudah menjorok ke darat dengan panjang sekitar 865 meter,” jelasnya.

Selanjutnya, dari Pantai Impian akan dilakukan pembangunan jembatan dengan panjang sekitar 1.800 meter. Dari arah Pelabuhan Sri Bintan Pura, pembangunan berlanjut hingga Pelantar I-II dan Pinang Maryna dengan panjang sekitar 1.900 meter.
Jika ditotal, maka panjang jembatan dan tanah timbunan nanti bisa mencapai 6 kilometer.

Kemudian, akan dibangun rest area sebanyak 7 unit sesuai jumlah kabupaten/kota di Kepri. Sepanjang jalan yang akan ditimbun dan tanah darat yang muncul akibat penimbunan laut itu, akan dibangun berbagai wahana. Sehingga, ketika pengunjung datang ke Tanjungpinang, mereka tidak ada bosannya untuk menelusuri jalan sepanjang 6 kilometer tersebut. Konsep ini sudah sangat matang dipikirkan gubernur mengubah wajah Tanjungpinang sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri.

“Yang terpenting dari proyek ini selain mengubah Tanjungpinang menjadi kota yang modern, maka akan penguatan ekonomi dan wisata,” tutupnya.(jpg)

Loading...