
batampos.co.id – Potensi aset berupa lima unit rumah susun (rusun) akan dimanfaatkan Badan pengusahaan (BP) Batam untuk mengakomodir kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Batam. Hingga saat ini, tingkat okupansinya masih sangat rendah dibawah 60 persen sehingga diimbau bagi MBR agar segera menempatinya karena BP Batam menerapkan tarif yang terjangkau.
“Rusun, kami punya lima lokasi yakni di Mukakuning, Kabil, Batuampar, Sekupang dan Tanjunguncang. Rusun paling ramai ada di Mukakuning sedangkan di Tanjunguncang masih dibangun. Masih banyak yang kosong,” kata Direktur Pengembangan Aset BP Batam Dendi Gustinandar di Gedung Marketing Centre BP Batam, Rabu (28/3).
Rusun-rusun yang memiliki empat hingga lima lantai ini akan diprioritaskan unutk mengakomodir kebutuhan pekerja terutama pekerja baru di Batam. Tarifnya cukup terjangkau. Tarif termahal mencapai Rp 172.500 per orang per bulan di luar tarif air dan listrik dan lokasinya ada di lantai-lantai bawah. Sedangkan tarif termurah mencapai Rp 127.500 perorang per bulan dan lokasinya ada lantai-lantai teratas.
“Secara keseluruhan jumlah kamar dari seluruh rusun milik BP Batam ada 1820 unit, satu kamar cukup untuk empat orang. Fasilitasnya adalah tempat tidur, lemari, air dan listrik dan gorden. Ada juga community centre-nya,” tambah Dendi.
Dendi mengimbau kepada warga-warga yang saat ini tengah bermukim di rumah liar agar segera pindah ke rusun karena sekarang fasilitasnya sudah banyak yang dibenahi dan keamanannya terjamin. Dilengkapi juga dengan sarana olahraga.”Lebih baik tinggal di rusun karena merupakan tempat tinggal yang layak. Daripada di ruli yang tidak legal dan tak bersih,” paparnya.
Berdasarkan data yang dimiliki BP Batam, rusun dengan kamar terbanyak ada di Mukakuning. Jumlahnya 576 kamar. Kemudian rusun di Kabil dengan 418 kamar. Lalu rusun di Batuampar dengan 256 kamar. Rusun di Sekupang memiliki 64 kamar dan terakhir rusun yang masih proses pembangunan di Tanjunguncang punya 160 kamar.
“Di Mukakuning dan Kabil rusunnya memiliki lantai dan lainnya punya empat lantai. Untuk tingkat huniannya, kenaikan mencapai 6 persen dari Januari 2018 sebanyak 2661 orang menjadi 2822 orang pada Februari lalu,” katanya.
Tarif sewa rusun perbulan ini nanti akan menjadi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang nanti akan digunakan untuk pembangunan kota Batam. Pada tahun lalu, BP Batam memperoleh Rp 7,679 miliar hanya dari tarif sewa rusun ini.
Dukungan pemerintah untuk memberikan hunian yang layak kepada MBR memang sangat diharapkan pengembang. Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Batam Achyar Arfan pernah mengatakan setiap tahun Batam mendapat target untuk membangun rumah murah bersubsidi. Namun masalah yang menghadang adalah BP Batam tidak akan mengalokasikan lagi lahan untuk pembangunan rumah tapak.
“Pembangunan menuju pemukiman vertikal itu bagus. Tapi harganya rumah tapak subsidi jauh lebih murah dari apartemen subsidi,” jelasnya.
Harga rumah murah melalui pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih bisa dijangkau. Harganya Rp 129 juta per unit dan merupakan ketetapan dari Kementerian Perumahan Umum dan Pekerjaan Rakyat.
Sedangkan jika berfokus untuk membangun pemukiman vertikal, maka pasaran harganya belum bisa dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Harganya masih dua kali lipat dari harga rumah tapak subsidi berdasarkan ketetapan dari pemerintah.(leo)
