Seorang petugas SPBU Regata, Kota Batam, Kepri sedang mengisi bahan bakar minyak Pertalite, Selasa (23/01/2018). Konsumsi BBM jenis Premium di Batam terus meningkat seiring semakin tingginya tingkat kesadaran konsumen akan BBM berkualitas yang ramah lingkungan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Lebih irit, nyaman, dan ramah lingkungan. Itulah tiga alasan utama Susanto Putra, 35, soal keputusannya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk motor matic-nya, sejak setahun terakhir. Sebelumnya, ia konsumen setia Premium.

Warga Batamcenter, Batam, ini kemudian membandingkan tingkat efisiensi antara Premium dan Pertalite. Dalam kondisi sama-sama tangki penuh, biasanya Premium di motornya akan habis dalam tiga hari. Namun jika diisi penuh dengan Pertalite, ia baru akan kembali mengisinya setelah empat hari kemudian.

“Rata-rata bedanya sehari. Pertalite lebih irit,” kata bapak dua anak ini, Kamis (29/03/2018) lalu.

Pria asal Medan, Sumatera Utara, ini memang tidak pernah menghitungnya berdasarkan catatan jarak tempuh sepeda motornya. Ia hanya membandingkan tingkat efisiensi Premium dan Pertalite berdasarkan jumlah hari pemakaian.

“Karena rata-rata aktivitas saya dengan motor ini tiap hari sama. Jadi saya bisa mengukur mana yang lebih irit,” kata dia.

Selain lebih irit, Susanto juga merasa lebih nyaman menggunakan Pertalite. Menurut dia, secara kualitas Pertalite lebih baik dibandingkan dengan Premium. Sehingga ia yakin, BBM berkualitas ini akan berdampak positif pada mesin motornya.

“Secara psikologis nyaman dan yakin mesin motor akan lebih awet,” kata dia.

Asisten supervisor di sebuah perusahaan oleokimia (oleochemicals) di Batam ini menambahkan, ia memutuskan untuk migrasi ke Pertalite karena BBM tersebut lebih ramah lingkungan dibandingkan Premium. Sehingga menurutnya, memakai BBM yang lebih ramah lingkungan seperti Pertalite adalah salah satu bentuk kepeduliannya terhadap kampanye perang melawan pemanasan global (global warming).

Lulusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara (USU) ini menjelaskan, di antara penyebab utama terjadinya efek rumah kaca dan pemanasan global adalah emisi gas buang yang dihasilkan dari sisa pembakaran kendaraan bermotor. Selain itu, emisi gas buang ini juga memicu terjadinya pencemaran udara.

Pertalite, kata dia, memiliki kandungan hidrocarbon (HC) dan carbondioksida (C2) yang lebih rendah dibandingkan Premium. Sehingga proses pembakaran mesin dengan bahan bakar Pertalite akan lebih sempurna dibandingkan mesin dengan bahan bakar Premium. Sehingga emisi gas buangnya juga semakin rendah.

“Mirip di tempat kerja saya, emisi gas buangnya dibatasi untuk mengurangi global warming,” kata Susanto sambil menyebut nama perusahaan tempat ia bekerja.

Susanto tak sendirian. Di Batam khususnya dan di Kepulauan Riau pada umumnya, migrasi konsumen BBM dari Premium ke Pertalite, atau BBM dengan kadar oktan yang lebih tinggi lainnya, sudah berlangsung cukup lama. Setidaknya dalam setahun terakhir.

Hal ini dibuktikan dengan perbandingan data realisasi distribusi BBM oleh PT Pertamina (Persero) di Batam selama 2016 dan 2017. Khususnya untuk Premium dan Pertalite.

Tahun 2016, distribusi atau pasokan Premium untuk wilayah Batam mencapai 332.293 kiloliter (KL). Namun sepanjang 2017, jumlahnya turun menjadi 264.523 KL. Dengan kata lain, distribusinya berkurang sebesar 67.770 KL.

Berbeda dengan Premium, konsumsi Pertalite di Batam terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2016, konsumsi Pertalite di Batam hanya mencapai 33.216 KL. Namun pada 2017 lalu, angkanya melonjak menjadi 104.872 KL atau bertambah 71.656 KL.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Sumbagut, Rudi Arifianto, mengatakan turunnya pasokan Premium ke wilayah Batam ini dikarenakan berkurangnya permintaan konsumen di wilayah tersebut. Begitu juga dengan meningkatnya jumlah pasokan Pertalite, Rudi menyebut hal itu karena menyesuaikan permintaan dan kebutuhan konsumen.

“Saat ini Premium sudah mulai ditinggalkan,” kata Rudi, Jumat (30/03/2018) malam.

Rudi membenarkan, jika dibandingkan dengan Premium, Pertalite memang lebih berkualitas. Dari segi kandungan oktan  (Research Octane Number/RON), Pertalite memiliki kandungan oktan lebih tinggi, yakni 90. Sedangkan RON Premium hanya 88.

Begitu juga dengan kandungan komponen penyusun lainnya. Pertalite jauh lebih unggul dibandingkan Premium.

Dengan kandungan oktan yang lebih tinggi, Pertalite juga lebih ramah lingkungan sehingga penggunaannya akan berdampak pada pengurangan pencemaran lingkungan, khususnya udara. Selain itu, BBM berkualitas ini juga akan memberikan banyak keuntungan lain bagi konsumen, termasuk mesin kendaraan.

“Mesin jadi awet, tarikan enteng, dan jarak tempuh lebih jauh,” katanya.

Rudi menambahkan, pihaknya terus berupaya menghadirkan BBM berkualitas sesuai dengan standar emisi internasional. Selain Pertalite, saat ini Pertamina juga memiliki sejumlah produk BBM berkualitas dengan RON tinggi.

Sebut saja Pertamax RON 92, Pertamax Plus RON 95, Pertamax Turbo RON 95, dan Pertamax Racing RON 100. Pertamina, kata Rudi, juga terus berupaya mendorong konsumen bermigrasi ke BBM berkualitas dangan RON lebih tinggi untuk membantu mengurangi pencemaran udara di dalam negeri, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta atau Medan.

“Dengan mengonsumsi BBM ramah lingkungan, kita akan membantu menjaga dan melestarikan lingkungan,” kata Rudi.

Komitmen Pertamina ini sejalan dengan tuntutan dan kebijakan pemerintah Indonesia yang akan segera menerapkan standar emisi Euro IV. Sesuai dengan standar tersebut, maka BBM yang boleh digunakan minimal harus memiliki RON 92.

Terkait hal itu, Rudi mengatakan Pertamina akan terus berbenah. Sehingga ke depan semua BBM yang beredar di masyarakat adalah BBM yang sesuai standar emisi gas buang internasional.

“Pertamina terus melakukan upaya inovasi dan perbaikan sehingga lebih baik dalam melayani masyarakat. Kami juga mengimbau kepada masyarakat yang punya masukan, kritik, dan saran untuk langsung menghubungi ke 1 500 000,” kata Rudi lagi.

Sementara itu, data di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Batam juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi Pertalite. Sebaliknya, pembelian BBM jenis Premium mengalami tren penurunan dalam dua atau tiga tahun belakangan.

Di SPBU PT Sinar Agung Kencana, misalnya. Penjualan Premium sepanjang Januari 2018 lalu mencapai 344 kiloliter (KL). Sedangkan penjualan Pertalite selama Januari 2018 mencapai 346 KL.

“Sekarang sudah lebih banyak yang pakai Pertalite dibandingkan Premium,” kata Foreman SPBU PT Sinar Agung Kencana, Edward, Sabtu (31/03/2018) siang.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2017, terjadi peningkatan penjualan Pertalite yang cukup drastis. Dimana pada Januari 2017, SPBU tersebut menjual Premium sebanyak 648 KL. Sedangkan Pertalite hanya 192 KL.

Apalagi jika dibandingkan dengan penjualan Premium dan Pertalite sepanjang Januari 2016. Perubahannya sangat siginifikan. Penjualan Premium di SPBU yang berada di Simpang KDA, Batamcenter, itu mencapai 778 KL. Sedangkan Pertalite saat itu hanya terjual 48 KL.

Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Kapital Raya, Batamkota. Menurut Foreman SPBU Kapital Raya, Yanto, penjualan Pertilite di SPBU tersebut saat ini terus meningkat. Menurut dia, peningkatan itu terjadi murni karena adanya kesadaran konsumen yang memang ingin bermigrasi ke BBM yang lebih berkualitas.

Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah antrean konsumen di jalur pengisian BBM (dispenser) di SPBU tersebut. Kata Yanto, meskipun Premium dan Pertalite sama-sama tersedia di waktu yang bersamaan, konsumen tetap cenderung memilih antre di jalur pengisian Pertalite.

“Kalau mau lihat datang sore pas jam pulang kerja. Konsumen cenderung tetap memilih Pertalite,” kata Yanto, Sabtu (31/03/2018) siang.

 Ramah di Kantong, Semua Jadi Untung

Selain ramah lingkungan, BBM dengan RON tinggi seperti Pertalite, Pertamax, dan sejenisnya ternyata juga ramah bagi kantong para konsumennya. Dari beberapa kali hasil pengujian, konsumsi Pertalite dan Pertamax ternyata jauh lebih hemat dibandingkan Premium.

“Untuk satu liter Premium hanya cukup untuk jarak tempuh 11 kilometer,” kata Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Sumbagut, Rudi Arifianto, belum lama ini.

Sementara satu liter Pertalite cukup digunakan untuk jarak tempuh 13 kilometer. Dan dengan volume yang sama, Pertamax cukup untuk perjalanan sejauh 14 kilometer.

Jika untuk perjalanan jarak pendek, secara ekonomis menggunakan Premium memang lebih hemat. Karena harga Premium memang lebih murah dibandingkan dengan Pertalite atau Pertamax. Namun untuk jarak jauh, penggunaan Pertalite dan Pertamax ternyata justru jauh lebih efisien.

Dalam hal ini, Pertamina bersama sejumlah pakar juga telah melakukan pengujian untuk menghitung berapa kebutuhan BBM selama perjalanan. Sehingga bisa diketahui berapa jumlah rupiah yang dibutuhkan.

Saat pengujian dilakukan, harga Premium masih 6.450 per liter, Pertalite Rp 7.100, dan Pertamax Rp 7.550. Pengujian dilakukan untuk perjalanan mobil dengan jarak tempuh 550 kilometer.

Hasilnya, kendaraan yang menggunakan BBM Premium akan menghabiskan 50 liter Premium. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 322.500. Sedangkan jika menggunakan Pertalite, kendaraan tersebut hanya membutuhkan 42,3 liter atau Rp 300.330.

Sementara dengan Pertamax, akan lebih hemat lagi. Sebab untuk jarak tempuh yang sama, yakni 550 kilometer, hanya akan membutuhkan 39,2 liter Pertamax atau Rp 295.960.

Bukan hanya bagi konsumen, dari sisi bisnis penjualan Pertalite dan BBM dengan RON tinggi lainnya juga jauh lebih menguntungkan bagi pengusaha SPBU. Sebab Pertamina memberikan margin yang lebih besar untuk Pertalite dan Pertamax.

“Kami lebih untung jualan Pertalite daripada Premium,” kata Foreman SPBU PT Sinar Agung Kencana, Edward, Sabtu (31/03/2018) siang.

Sayangnya, Edward enggan menyebutkan berapa margin dan keuntungan tersebut. “Itu rahasia perusahaan,” kilahnya. (Suparman)

 

Advertisement
loading...