batampos.co.id – Pemerintah kabupaten Natuna mengusung konsep Marine Ekowisata dan Arkeologi (MEA) mengembangkan pariwisata.
Kepala dinas pariwasata pemkab Natuna Erson, mengatakan konsep tersebut karena kandungan khazanah kekayaan Natuna. Memiliki 150 pulau yang dilengkapi secara natural dengan pantai dan ekosistemnya yang beraneka ragam. Lautnya yang luas sudah barang tentu menjadi satu unsur pariwisata yang luas.
Dari sisi ekologi, Natuna dinyatakan kaya dengan flora dan fauna serta seluruh makhluk hidup yang terintegrasi dari puncak gunung dan bukit hingga ke dasar laut. Fakta ini mendorong Natuna menjadikan ekowisata sebagai baigan dari komsep kepariwisataan.
“Natuna sudah mashur di se antero dunia dengan kekayaan benda purbanya. Potensi kuno yang dimiliki Natuna bukan hanya terkandung di darat tapi juga di laut yang dikenal dengan Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) dan kapal-kapal kuno yang berada di kolong Laut Natuna Utara,” sebut Erson kemarin.
Kepariwisataan Natuna terfokus untuk mengekploitasi yang dimiliki. Di Natuna punya laut yang luas, ekologi yang bagus dan kepurbakalaan yang banyak dengan berbagai usia. Konsep sudah tetapkan sebagai MEA.
Erson mengaku, konsep tersebut dapat dikembangkan dan laku dijual pada pasar pariwisata internasional. Karena tidak sedikit daerah maupun negara lain yang telah sukses.
“Ketiga faktor ini bisa kita garap dan laku untuk pariwisata. Ketiganya jadi trend pariwisata dunia sejak dulu. Alasan ini juga sebenarnya yang mendorong membuat konsep MEA,” sebutnya.
Untuk merealisasikannya, pemerintah tengah gencar melakukan indetifikasi terhadap spot – spot yang bernilai tingggi terhadap pariwisata.
“Kita sedang melakukan maping kepariwisatan. Nantinya sebuah lokasi akan kita tentukan jenis wisatanya sesuai dengan kandungnya agar tidak keluar dari konsep MEA,” jelasnya.
Pemerintah juga tengah gencar melakukan sosialisasi mengenai MEA kepada masyarakat dan penikmat wisata agar masyarakat sebagai pelaku usaha pariwisata menjadi lebih proaktif.
“Karena mereka yang paling mengetahui lingkungannya sendiri dan mengatahui kandungannya. Upaya dan konsep ini harus didukung oleh masyarakat,” ujarnya.(arn)
