Karen Agustiawan bersaksi untuk Rudi Rubiandini dalam kasus SKK Migas. (Hendra Eka/JawaPos.com)

batampos.co.id – Kejaksaan Agung tetapkan mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan sebagai tersangka.

Ibu Kare diduga melakukan tindak pidana korupsi penyalahgunaan investasi pada PT Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009.

“Menetapkan tersangka inisial KGA, pekerjaan mantan Direktur Utama PT Pertamina,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung M Rum dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Tak hanya Karen, berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus tertanggal 22 Maret 2018, ditetapkan pula Chief Legal Counsel and Compliance PT Pertamina (Persero) Genades Panjaitan (GP), mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan (FS) ditetapkan sebagai tersangka.

Berdasarkan hasil perhitungan akuntan publik, mereka dituding merugikan keuangan negara senilai Rp 568 miliar.

Ketiganya disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun dugaan korupsi ini bermula pada 2009. PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (investasi nonrutin) berupa pembelian sebagian aset (Interest Participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia. Pembelian itu berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project pada 27 Mei 2009 senilai USD 31,9 juta.

Dalam pelaksanaannya, ditemukan dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan, tanpa adanya kajian kelayakan (feasibility study) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau final due diligence. Itu juga tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Akibatnya, perusahaan harus mengeluarkan uang sebesar USD 31,49 juta serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah AUD 26,8 juta yang tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada Pertamina guna penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.

Dalam kasus ini, Kejaksaan Agung sebelumnya juga telah menetapkan BK, mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu Pertamina. Sementara itu, 67 saksi telah diperiksa.

(dna/ce1/JPC)

Advertisement
loading...