foto: eusebius / batampos

batampos.co.id – Camat Sagulung Reza Khadafi apresiasi kepada jajaran Polda Kepri yang mengamankan lima unit truk pengangkut tanah di lokasi reklamasi penimbunan hutan bakau di belakang kaveling Flamboyan, kelurahan Seipelenggut, Sagulung akhir pekan lalu.

Dia berharap penertiban serupa juga dilakukan pada lokasi tambang pasir di sepanjang bibir dam Tembesi, Sagulung.

Kepada Batam Pos Reza menegaskan, apapun tindakan kepolisian untuk menertibkan aktifitas illegal yang berdampak lingkungan sangat didukung oleh pihaknya. Penahanan lima truk pengangkut tanah itu diakui Reza, sudah seharusnya dilakukan sebab melanggar aturan yang ada dan berdampak bagi lingkungan sekitar.

“Aktifitas truk itu mengotori jalan lingkungan masyarakat di lokasi proyek. Sudah begitu proyek itu (reklamasi) tidak memiliki izin dari DLH. Sudah seharusnya ditindak tegas seperti itu,” tutur Reza.

Dia juga berharap agar penertiban serupa juga dilakukan di lokasi tambang pasir di Tembesi. Bagaimanapun aktifitas tambang pasir dan truk-truk pengangkut pasir di sana berdampak buruk bagi lingkungan sekitar.

“Kita berharap sama juga (penertiban truk pengangkut pasir dari lokasi tambang pasir illegal di Tembesi). Kita sudah surati DLH. Intinya apapun kegiatan yang berdampak bagi lingkungan harus ditindak tegas,” ujarnya.

Harapan ini diakui Reza cukup beralasan sebab aktifitas tambang pasir di sekitar dam Tembesi masih terus beroperasi hingga saat ini. Teguran dan penertiban yang dilakukan oleh Direktur Pengamanan Badan Pengusahaan (Ditpam BP) Batam sebelumnya tak digubris oleh pelaku penambang pasir di sana.

“Kami tak punya wewenang untuk ambil tindakan. Kami hanya bisa lapor ke instansi terkait. Harapannya ya sama harus ambil tindakan tegas. Kalau tidak rusak semua lahan di sekitar dam itu,” ujar Reza.

Seperti yang diketahui Polsek Sagulung menahan lima truk pengangkut tanah sejak, Jumat (6/4) lalu. Truk-truk tersebut diamankan dari lokasi proyek penimbunan hutan bakau di belakang kaveling Flamboyan, kelurahan Seipelenggut, Sagulung.

Informasi yang diterima di lapangan, penahanan lima truk beroda sepuluh itu berkaitan dengan aksi protes warga selama ini. Warga protes karena aktifitas proyek itu merusak lingkungan sekitar. Selain merusak lokasi hutan bakau yang menjadi lokasi resapan air, proyek tersebut juga mengotori jalan lingkungan di sekitar lokasi proyek. Beberapa waktu proyek itu sudah dihentikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Batam karena tidak mengantongi izin kajian lingkungan, namun belakangan pihak proyek kembali beraktifitas sehingga ditertibkan pihak kepolisian.

Kapolsek Sagulung AKP Hendrianto saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui secara pasti terkait penahanan lima truk pengangkut tanah tersebut. Itu karena truk-truk tersebut diamankan oleh Satuan Ditreskrimum Polda Kepri.

“Polda yang amankan. Saya belum tahu apa persoalannya. Di sini hanya dititipkan sementara saja,” ujar Hendrianto.

Meskipun demikian Hendrianto tak menampik jika penangkapan truk-truk itu karena keluhan warga dan juga aktifitas proyek yang tidak mengantongi perizinan yang lengkap.

“Bisa jadi, karena belakang sering dikomplain proyek itu,” ujar Hendrianto. (eja)

Advertisement
loading...