Peringati HUT ke 54 LPKA kelas II B Baloi, sebanyak 41 anak bermasalah hukum (ABH) mengikuti prosesi membasuh kaki ibu, Selasa (17/4). Seorang anak yang mentato bagian tubuhnya, juga tak enggan menunjukkan rasa hormat terhadap Ibunya dengan mengikuti prosesi yang baru pertama kali digelar tersebut. F.Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos

batampos.co.id – Tagis haru itu pecah di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II B, Baloi, Batam, Selasa (17/4). Sebanyak 41 anak bermasalah dengan hukum (ABH) tak kuasa membendung air matanya saat membasuh kedua kaki ibu mereka. Teringat salah dan dosa yang mereka buat.

Iklan

Tak hanya 41 ABH itu yang menangis, ibu dan sanak keluarga ABH, petugas LPKA, dan sejumlah undangan yang datang juga tak kuasa membendung air matanya. Semua ABH dan ibundanya sesegukan, hingga sang anak dan ibu saling berpelukan.

Di balik tangis itu tedengar kata “maaf” dari sang anak kepada ibundanya. Sang bunda yang memeluk erat anaknya mengangguk sambil mengelus-elus pundak anaknya. Sang ibu menguatkan anak-anak mereka. Sembari meminta mereka tabah menjalani pembianaan. Supaya setelah keluar nanti menjadi anak yang berbakti dan tak mengulangi perbuatannya.

Aksi basuh kaki ibu itu memang sengaja digelar oleh LPKA Kelas II B Baloi, Batam. Bahkan, aksi yang dikemas dalam Family and Society Gathering ini tak hanya digelar di LPKA Batam, tapi di seluruh LPKA di Indonesia, hingga meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia).

“Ada 33 LPKA yang serentak menggelar kegiatan ini termasuk Batam. Aksi basuh kaki ibu ini pertama kalinya digelar serentak di Indonesia,” kata kepala LPKA Baloi, Novriadi, kemarin.

Ia menjelaskan, kegiatan bertema; Selalu Ceri Meraih Asa, ini merupakan rangkaian peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HUT LPKA) ke-54, yang jatuh pada 27 April nanti. “Secara nasional, kegiatannya berpusat di LPKA Kelas I A Tangerang yang dibuka Menteri Hukum dan HAM,” terangnya.

Novriadi menjelaskan kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa hormat anak terhadap orang tua, terutama ibu mereka. Aksi basuh kaki ibu juga diharapkan membekas di hati ABH, sekaligus menggugah kesadaran mereka bahwa tindakan yang menyeret mereka ke masalah hukum adalah salah dan mengecewakan orang tua mereka.

Selain itu, momen aksi basuh kaki ibu ini juga bertujuan mengeratkan kembali hubungan anak yang bermasalah dengan hukum ini dengan ibunya. Sekaligus momentum meminta maaf dan momentum bagi orang tua untuk menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa masih ada cinta untuk mereka, selalu, dan selamanya.

“Di hadapan orang tualah mereka dapat meluapkan penyesalannya guna meraih ridha ibu untuk kembali menjadi anak yang baik dan berbakti,” papar Novriadi.

Tidak hanya membasuh kaki ibu, Family and Society Gathering di LPKA Baloi juga diisi kegiatan Khatam Alquran yang diikuti 20 peserta. Ada juga kegiatan melukis di atas kanvas yang diikuti 20 peserta. “Total ABH di sini ada 67 anak,” sebutnya.

Novriadi menambahkan, di LPKA Baloi kegiatan tersebut dibuka Kepala Divisi Permasyarakatan Kemenkum & HAM Kepri Dedi Handoko. Juga dihadiri pimpinan lembaga dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap perkembangan anak.

“Salah satunya disponsori TCW & Friends Community (TFC) yang memberikan bantuan berupa baju serta makanan,” ujar Novriadi didampingi ketua TFC, Raraciku.

Rara mengaku, pihaknya tergerak untuk ikut andil di kegiatan tersebut mengingat tepatnya konsep kegiatan yang diangkat.

“Momennya sangat bagus sekali, karena mengaitkan kedekatan anak dengan orang tua, dan hal ini juga sesuai dengan visi misi TFC dalam menggelar aksi sosial,” ungkap Rara. (nji)