Selasa, 10 Februari 2026

Hutan Relang Sudah Dikonversi, Selangkah Lagi Jadi APL

Berita Terkait

ilustrasi lahan. foto: dalil harahap / batampos

batampos.co.id – Rencana menjadikan Rempang-Galang sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) menyeluruh semakin mendekati kenyataan. Status hutan buru yang merupakan bagian dari hutan konservasi ternyata sudah diturunkan menjadi hutan produksi yang bisa dikonversi. Selangkah lagi akan menjadi area peruntukan lain (APL). Jika sudah APL, maka sudah bisa dialokasikan ke pihak lain karena tak lagi berstatus hutan.

“Iya, status hutan konservasinya sudah diubah menjadi hutan produksi yang bisa dikonversi. Saya dengar dari DPR dan suratnya sudah ada,” ujar Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo, usai acara pelantikan Hipmi Kepri di Hotel Planet Holiday, Selasa (18/4).

Ia mengatakan BP Batam saat ini hanya tinggal menunggu pernyataan resmi dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup mengenai hal tersebut. “Kami sudah merencanakan beri surat untuk bertanya kira-kira kapan proses konversi tersebut rampung,” jelasnya.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, status hutan konservasi itu harus diturunkan menjadi hutan lindung. Dari hutan lindung, statusnya kemudian diturunkan menjadi hutan produksi. Selanjutnya diturunkan lagi menjadi hutan produksi yang bisa dikonversi. Selanjutnya diturunkan lagi menjadi area peruntukan lain yang menunjukkan kawasan tersebut bukan berstatus hutan lagi, sehingga sudah bisa dialokasikan ke pihak lain untuk kepentingan komersial atau investasi.

Lukita pun menggantung asa yang tinggi karena BP Batam sudah banyak berinvestasi di kawasan tersebut, sehingga sangat wajar Hak Pengelolaan Lahannya diberikan ke BP Batam.

“Jika HPL-nya sudah jelas ke siapa, maka kita bisa lakukan upaya pembangunan di sana karea sudah lama ditunggu,” jelasnya.

Di kawasan Relang, BP Batam memiliki wilayah kerja seluas 715 kilometer. Selain itu, institusi ini telah membangun sejumlah infrastruktur sejak tahun 1996. Dalam catatan BP Batam, ada enam jembatan dan jalan raya sepanjang 70 kilometer.

BP Batam sudah merencanakan pembangunan Relang yang terintegrasi dengan Batam. “Dalam pembangunan nanti, Barelang harus bisa terintegrasi, harus bisa saling mendukung kebutuhan di kota Batam dan sebaliknya,” jelasnya.

Ada kebutuhan di Batam yang bisa dipenuhi kawasan itu. Sebaliknya kawasan Remapang, Galang dan Galang baru nanti pasti membutuhkan akses infrastruktur yang dimiliki oleh Batam.

Lukita juga tak mempermasalahkan siapa yang ditunjuk pemerintah pusat untuk mengelola kawasan Rempang. Seperti halnya KEK Tanjungsauh yang tak masuk wilayah kewenangan BP Batam. Yang penting, pengembangan Rempang harus memberikan manfaat bagi perkembangan Batam.

“Walaupun yang mengelolanya berbeda, tapi BP Batam berharap pengembangan Rempang menjadi satu kesatuan Batam. Jika ini terintegrasi, bisa memacu pembangunan ekonomi di Kepri,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Perencanaan dan pengembangan BP Batam Yusmar Anggadinata mengatakan, Kawasan Rempang, Galang, dan Galang Baru perlu dipersiapan untuk menerima limpahan industri dari Batam.

Dalam perkembangannya, industri Batam akan mengerucut. Industri berteknologi rendah akan pindah untuk beroperasi di kawasn Bintan, Karimun, dan Relang. Sementara Batam akan berkonsentrasi pada industri berteknologi tinggi.

“Yang tadinya industri di Batam adalah low cost labour menjadi medium to high skill industri. Tapi kita tak mau yang Low Cost Labour pindah ke negara lain. Kita harus siapkan tempat baru untuk mereka. Termasuk Relang,” jelasnya.

BP Batam membuat strategi agar industri yang sensitif dengan upah minimum tetap ada di Kepri. Salah satunya adalah mempersiapkan kawasan Bintan, Karimun, Rempang dan Galang sedini mungkin.

Jika kawasan-kawasan tersebut sudah siap, industri yang secara alami tak lagi harmonis dengan kondisi upah minimum Batam bisa mengembangkan atau bergeser ke kawasan yang telah disiapkan.

Batam bersama-sama dengan Relang, Bintan, dan Karimun membagi peran. Karena infrastruktur, SDM dan sistem Batam sudah lebih mapan dan maju, maka diharapkan Batam mengambil peran sebagai motor konektifitas ke pasar global dan domestik. (leo)

Update