Membangun tim yang solid itu tidak mudah. Namun bukan suatu keniscayaan.

Pengalaman luar biasa ini saya dapat saat penerbangan dari Pekanbaru menuju Batam menggunakan pesawat Lion Air nomor penerbangan JT-234, Sabtu 14 April lalu.
Saat itu, saya baru saja menghadiri rapat evaluasi triwulan Riau Pos Group. Saya duduk di kursi 18 D. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, saya bersebelahan dengan mantan anak buah saya sewaktu di Kaltim.

Dulu dia adalah penjual koran. Rendi namanya. Koko panggilannya.

Kini setelah tidak lagi berjualan di lampu merah, ternyata dia menjadi salah satu distributor elektronik. Bisnisnya sudah mulai menjajah Sumatera. Kebetulan, saat itu dia hendak ke Surabaya transit Batam.

Usianya masih sangat muda. Lebih tua saya tiga tahun. Dia 28, saya 31. Usia 28 tahun sudah jadi bos dan punya perusahaan sendiri. Sedangkan saya, usia 31 tahun masih karyawan yang jadi direktur. Hehehehehe.

Obrolan pun berlangsung hangat. Lantaran sama-sama anak muda, gaya ngomongnya pun agak ngaco. Sedikit jorok. Kwakakakak.

Kali ini, saya banyak belajar darinya. Saya kaget dengan cara dia membesarkan perusahaan. Awalnya sih coba-coba. Ternyata setelah berhasil di awal, dia ketagihan. Bahkan terus mendapat order. Hebat. Sangat-sangat hebat.

Bagaimana cara dia membangun perusahaan yang tangguh dalam waktu singkat? Kuncinya satu: membangun kekompakan.

Untuk membangun kekompakan ini memang agak susah-susah gampang. Karena, tidak semua orang-orang di tim kita punya watak sama. Ada yang rajin, pemalas, pintar, sok pintar, atau apalah. Komplit.

Namun, di sinilah tantangannya. Sama seperti sepak bola. Tim yang tangguh dibentuk dari kekompakan. Kekompakan dapat menentukan hasil akhir.

Bayangkan jika setiap pemain tidak memiliki koordinasi dan komunikasi dengan pemain lainnya. Atau, pemain menunjukkan bahwa hanya dialah yang paling hebat. Sudah pasti tim tersebut akan babak belur.

Bahkan, ada juga pemain yang merasa lebih hebat daripada pelatihnya. Padahal, setiap pelatih punya rencana dan strategi untuk timnya.

Contoh saja saat pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy menempatkan penyerangnya, Jajang Mulyana menjadi seorang pemain belakang. Tidak masuk akal memang. Seorang bek bernomor 10 yang selama kariernya menjadi tukang gedor, malah menjadi palang pintu pertahanan.

Tapi hasilnya, Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1 musim lalu.
Bayangkan kalau Jajang Mulyana mementingkan egonya. Bisa jadi dia jadi pemain cadangan lantaran tumpul di depan, sementara lini belakang Bhayangkara FC keropos. Bisa-bisa, Bali United yang juara musim lalu.

Sama halnya dengan berperusahaan. Terkadang, ada seorang karyawan yang tidak terima karena ditempatkan di departemen yang tidak sesuai dengan bidangnya. Padahal, pimpinan itu mengerti betul kebutuhan perusahaan. Melihat ada potensi lebih. Tujuannya adalah untuk memperkuat perusahaan. Juga memberi ilmu baru.

Tapi kenyataanya, banyak juga karyawan yang tidak mau menerima. Kerja malas-malasan. Sudah terlalu nyaman di zonanya. Susah untuk diajak bekerja. Hasilnya, dia jadi benalu. Tidak produktif. Mengabaikan kekompakan demi kepentingan diri sendiri.

Kalau sudah begitu, sudah pasti kariernya terhenti. Sulit mendapat kepercayaan lagi. Tinggal tunggu pensiun saja. Ini pernah pula saya alami. Hehehehehe.

Dalam membangun kekompakan, semua karyawan harus memiliki tujuan dan arahan sama. Harus punya visi dan misi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam perusahaan tersebut. Karyawan yang tidak bisa diajak bekerja sama, lebih baik ditinggal.

Itu yang dilakukan Rendi. Dia pun sudah terbiasa melihat karyawan di perusahaannya keluar-masuk. Ada yang berhenti karena tidak tahan. Namun ada juga yang bertahan hingga saat ini dengan semangat tinggi dan berapi-api untuk mencapai kesuksesan bersama perusahaan.

Memang, dalam sebuah perusahaan itu tidak bisa menghindari perbedaan pendapat. Namun, hal itu sangat biasa. Karena, setiap orang punya ide masing-masing dan cara yang berbeda dalam bekerja. Hanya saja, tujuannya sama. Ada yang ngotot dengan pendiriannya. Ada pula yang demokratis. Ada juga yang kecewa karena pendapatnya kalah oleh keputusan bersama. Namun, itulah ujiannya. Yang “kalah” pendapat harus berbesar hati, sedangkan yang “menang” harus ikut merangkul.

Karena tidak jarang dari perbedaan pendapat itu muncul kolaborasi yang dahsyat.
Rasa saling percaya harus ditumbuhkan. Atmosfer seperti itu harus dijadikan budaya. Bukan lagi budaya gosip. Si A ngomongin si B, si B ngomong si C, si C ngomongin si A, dan seterusnya. Sehingga, komunikasi yang intensif harus terus dilakukan. Tidak boleh dianggap sepele.

Kebanyakan, rasa ketidakpercayaan timbul akibat komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Yang tidak kalah penting tentu saja saling menghargai kinerja sesama karyawan. Jangan merasa bahwa, si A punya beban kerja lebih besar, sedangkan si B kecil. Padahal, belum tentu bobot pekerjaan itu sama. Inilah yang menyebabkan kacaunya sebuah perusahaan. Sikap iri dan dengki pun menjelma menjadi gosip. Hehehehe.

Sebuah tim yang kompak akan saling menopang. Semua akan melindungi. Bukan saling menyalahkan dan melemparkan tanggung jawab. Memang, itu semua tidak mudah untuk dibangun. Perlu proses yang cukup panjang.

“Yang ajari saya mecat karyawan kan abang,” celetuk Rendi kepada saya. Abang yang dimaksud dia adalah saya. Saya kaget. Saya mau belajar sama dia, eh dianya bilang belajar ke saya. Kwakakakakakak.

Sayang, pertemuan kami sangat singkat. Perjalanan pesawat dari Pekanbaru ke Batam cukup cepat. Sekira 45 menit. Selepas itu, kami pun berpisah. Saya turun dari pesawat, dia bersama beberapa penumpang lainnya tetap di dalam pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Tiba di pintu kedatangan, saya pun berharap bertemu dengan mantan anak buah saya yang hebat itu lagi. *

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos

Advertisement
loading...