ilustrasi

batampos.co.id – Dampak masih tingginya harga daging ayam buras dan daging sapi beku ternyata tak hanya dirasakan ibu rumah tangga. Para pedagang juga mengeluhkan omset penjualan yang turun dari biasanya karena tingginya harga.

Iklan

Mansur pedagang daging di pasar Tos 3000 misalnya, mengaku omset penjualannya turun. Sebelum kenaikan, ia bisa menjual daging sapi beku lebih dari 50-70 kilo sehari. Namun saat ini, penjualnya kadang hanya 30 kilo perharinya.

“Pembeli juga jadi sepi. Ada yang beli cuma jumlahnya sedikit-dikit aja. Jarang yang beli per kilo,” imbuhnya.

Menurut dia, jika pun ada yang membeli jumlah banyak, itu karena langganan punya warung makan. Sedangkan ibu rumah tangga biasa, rata-rata membeli kurang dari setengah kilo.

“Harga masih Rp 88 ribu perkilo. Itu untuk daging padat, kalau daging berlemak harganya agak murah Rp 85 ribu perkilo,’ jelas Mansur.

Hal yang sama juga berlaku untuk daging ayam. Dimana, harga perkilo daging ayam Rp 35 ribu. Omset penjualannya ikut menurun dari yang seharinya bisa menghabiskan 100 kilo, saat ini paling banyak hanya 70 kilo.

“Nah mereka minta potong ukuran agak kecil. Biasanya potong 8 untuk perekornya, sekarang kadang minta potong sampai 10,” jelas Mansur.

Kondisi yang sama juga dikatakan Abi, penjual daging lainnya. Menurutnya pembeliaannya berkurang lantaran harga daging sapi tinggi. Keberadaan daging kerbau, ternyata tak berpengaruh juga terhadap harga daging sapi beku.

“Kalau daging kerbau saya tak ambil. Jarang yang mau beli, meski sudah ditawari. Jadi saya tetap jual daging sapi,” imbuhnya.

Dikatakan Abi, waktu harga daging sapi beku belum naik ia bisa menjual lebih dari 50 kilo perhari. Namun saat ini, penjualnnya menurun.

“Tak sampai 50 kilo, bisa 30 atau 40 kilo sehari. Tergantung hari juga sih. Biasanya Jumat sampai Minggu agak ramai,” ujar Abi.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Zarefriadi belum bisa dikonfirmasi terkait masih tingginya harga daging sapi dan ayam. (she)