Meski sedang berada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), Ef, seorang anak yang bermasalah dengan hukum tetap menjalani hidup seperti seorang pelajar. Siswa ini masih tercatat aktif di sebuah SMP swasta di Batam. Ia pun mengikuti UNBK, dengan harapan bisa lulus dan melanjutkan sekolah ke tingkat SMP.

Iklan

Tidak seperti biasanya, suasana agak hening di dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), Kamis (26/4) pagi. Berbeda dengan hari biasanya, yang selalu terdengar riuh di dalam LPKA di pagi hingga siang hari. Ternyata di sana ada seorang anak yang sedang menjalani ujian akhir. Tentunya anak yang bermasalah dengan hukum.

‘Harap tenang ada ujian’ begitulah ada tulisan kertas yang ditempel di sebuah papan yang diletakkan di depan ruangan kasi pembinaan LPKA, Mulyo Utomo. Di ruang sebelahnya Ef, 15, sedang mengikuti ujian akhir bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam. Ia duduk membelakangi pintu masuk. Sedangkang pengawas silang yang ditugaskan Dinas Pendidikan, Sahri Ali dan petugas LPKA duduk persis di depannya.

Saat menggelar ujian, Ef tidak mengenakan baju tahanan atau narapidana. Tetapi mengunakan seragam sekolah SMP. Baju putih dan celana panjang biru. Layaknya di dalam kelas. Bedanya, Ef hanya mengenakan sandal.

Layaknya ujian di sekolah, semua yang berbau kertas selain lembar soal mata pelajaran IPA dan jawaban tidak ada di atas meja. Selama ujian berlangsung, Ef, sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara. Hanya gerakan tubuh yang ia lakukan. Sesekali ia menggaruk kepala. Sesekali ia menghela napas. Ia selalu menunduk dan terlihat sangat fokus terhadap lembar soal yang ada di depannya.

Sekitar pukul 11.30 WIB, pengawas ujian Sahri Ali menghentikan ujian. “Maaf ya nak, waktunya sudah habis. Sudah selesai kan, ayo dikumpulkan,” katanya.

“Sudah, Pak. Ini lembar jawabannya,” jawabnya singkat.

Setelah berdiri dari kursinya, Ef menghela napas panjang. Ia mengaku lega karena ujian sudah selesai. “Akhirnya selesai juga,” katanya.

Ia pun bergegas meninggalkan ruangan berukuran sekitar 4×6 meter tersebut. Ia hendak bergabung dengan teman-temannya. Ia mengaku ujian IPA tidak terlalu sulit baginya. Waktu sekitar 1,5 jam menurutnya sudah cukup. Kendala yang ia hadapi adalah mengatasi rasa groginya.

El, Seorang anak di LPKA Kelas IIA mengikuti IPA disaksikan oleh Kasi Pembinaan LPKA Mulyo Utomo (tengah), Kasubsi Pendidikan dan Bimkemas, makmur (kanan) dan pengawas silang, Sahri Ali (kiri), Jumat (26/4). | Alfian Lumban Gaol/Batam Pos

“Saya grogi karena ujian sendiri sementara pengawas langsung satu meja dengan saya. Apalagi petugas di rutan ini juga ikut langsung melihat saya,” katanya.

Ia yakin akan mendapatkan nilai yang bagus dari hasil ujiannya. Hanya dua mata pelajaran yang menurut dia agak susah yakni Matematika dan Bahasa Inggris.

“Tapi saya yakin saya akan lulus,”katanya.

Untuk menghadapi ujian ini, persiapan yang ia lakukan sangat terbatas. Tentunya belajar sendiri. Tidak ada guru yang tiap hari bisa membimbingnya. “Jadi kalau istilahnya ada soal yang sulit maka tidak bisa kita tanya. Kalau di sekolah kan bisa langsung tanya sama gurunya,” katanya.

Selama 21 hari mendekam di dalam LPKA, ia belajar sendiri. Tidak ada harinya yang ia lewatkan tanpa membaca buku. Setiap hari pasti membaca buku. “Tekad saya hanya satu, saya mau lulus dan masih mau terus sekolah,” katanya.

Anak kedua dari empat bersaudara ini mengaku dijebloskan ke dalam tahanan karena tersangkut kasus pencurian. Ia divonis 10 bulan kurungan penjara.

“Saat saya masuk ke sini, saya menangis dan merasa bersalah. Saya sangat menyesal karena membuat malu orangtua saya,” katanya.

Ketika sudah di LPKA, ia langsung meminta keluarganya membawa buku-buku sekolahnya. “Penyesalan saya itu yang membuat saya semakin kuat untuk tetap harus sekolah. Saya tidak mau menambah beban orangtua saya dengan tidak bersekolah. Saya harus tetap lulus,” katanya.

Ia mengaku terlibat dalam kasus pencurian sepeda motor beberapa waktu lalu atas bujuk rayu temannya. Uangnya hendak dipakai untuk bersenang-senang.

“Kalau ayah sama ibu sangat perhatian ke saya, tetapi karena saya terpengaruh hasutan orang saja,” katanya.

Sementara itu, Kepala LPKA Kelas II Batam Novriadi melalui Kasi Pembinaan Mulyo Utomo mengapresiasi Ef yang memang mempunyai niat yang gigih untuk melanjutkan sekolah. Ia mengatakan pihak LPKA pasti akan berusaha keras memfasilitasi dan membina anak-anak di dalam LPKA.

“Maunya semua anak di sini jangan terkendala sekolah. Tetapi kami tidak bisa memaksa. Meski memang di dalam sini beberapa kegiatan ketrampilan tetap kami lakukan. Yang paling utama adalah pembinaan etika dan moral,” katanya.

Ujian paket B dan Paket C juga selalu rutin dilakukan di dalam LPKA. Tentunya bagi mereka anak binaan yang masih ingin bersekolah. Di dalam tahanan, kata Novriadi, bukan berarti masa depan anak-anak selesai. Karenanya, pihaknya selalu berupaya agar saat kembali ke masyarakat nanti, anak-anak tersebut bisa kembali berbaur dan diterima dengan baik.

“Mereka itu punya cita-cita dan itu harus diusahakan agar terwujud,” katanya.  (ALFIAN LUMBAN GAOL, Batam)