Nurafni, desainer Batik Gonggong Berangkai (tengah) bersama dua model menggunakan Batik Gonggong Berangkai saat Muslim Fashion Festival Indonesia di Jakarta, belum lama ini. F.Dokumentasi Nurafni untuk batampos.co.id

batampos.co.id Rancangan keluaran Amani Moeslim mengikat perhatian pengunjung Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 21 April kemarin. Nurafni Dwi Anggraini, perancang busana dadakan ini, melunaskan tekadnya memperkenalkan batik gonggong di kancah nasional.

Batik Gonggong yang merupakan karya membanggakan hasil goresan tangan seniman Efiyar M Amin, berhasil dirancang Nurafni menjadi gaun malam nan menawan. Hasil rancangan wanita yang akrab disapa Reni ini pun akhirnya dipamerkan pada ajang fashion muslim kebanggaan Indonesia, MUFFEST.

Busana yang ia rancang tampil menonjol dengan biota laut khas Kepri dan harmoni warna yang boleh dikatakan berani. ”Baru ini yang memang sempet dinilai beberapa kalangan di sana, waktu ngeliat hasil rancangan empat baju ini,” tutur Reni saat dijumpai Batam Pos, Senin (30/4).

Tidak hanya motif maupun warna, yang berhasil memenangkan ha­ti para pengunjung MUFFEST di Jakarta saat itu, karena karakter gaun yang menawan namun tetap menonjolkan sisi kenyamanan. Anggun namun tetap sederhana dan memesona. Reni meyakini, busana rancangannya tak luput dari karater gadis Melayu pada umumnya.
”Keempat busana yang saya bawakan ini pun memiliki ciri yang berbeda-beda,” tutur Reni.

Busana muslimah modern dengan sentuhan Melayu ini, dijelaskannya, menunjukkan keayuan, kemandirian, keelokan, dan kecerdasan. Pada busana yang melambangkan keayuan ini, Reni menambahkan bordiran berbentuk bunga gonggong. ”Gonggong berangkai yang berbentuk kuntum tapi juga simbol keramahtamahan,” terang Reni.

Lalu busana yang melambangkan kemandirian, dirancangnya dengan terusan berbelah pada sisi depan, pinggul kirinya. Sehingga terusan tersebut dipadankan dengan celana beraksen gelang kaki di lingkar kakinya. ”Dengan mengenakan celana yang disandingkan terusan ini, mewakili kemandirian yang dimiliki wanita Melayu,” papar Reni.

Kemudian busana mewakili lambang keelokan, dirancang dengan belahan tinggi pada bagian sampingnya. Kemudian busana melambangkan kecerdasan, masih menonjolkan terusan khas busana muslimah. Namun dilengkapi dengan lapisan luar yang dilengkapi ikat pinggang dengan taburan batu permata. Seluruh hasil rancangan Reni diakuinya, terinspirasi dari situasi di sekitarnya.

”Sebenarnya gak susah sih nyari inspirasinya. Dan saya sih lebih milih alam untuk masuk ke tiap detail rancangan saya,” tutur Reni lagi.

Wanita tiga anak yang juga Aparatur Sipil Negara (ASN) ini, mengaku harus cerdik dalam menyalurkan hobi yang berbuah manis ini. ”Karena inspirasi bisa datang kapan dan di mana saja, akhirnya saya harus luangkan wak­­tu sendiri di sela-sela kesibukan,” ucap wanita ayu.

Sembari menunggu, Reni mampu menghasilkan beberapa rancangan busana pada secarik kertas di dekatnya. Namun Reni tidak pernah absen meluangkan waktu tiap malam.
Di saat kerjaan hariannya telah usai, dan buah hatinya sudah tertidur, Reni menumpahkan kreativitasnya dengan pensil. Setiap goresan yang diayunkannya, membantu Re­ni semakin luwes dalam menghasilkan rancangan.

”Saya otodidak. Sama sekali tidak ada latar belakang pen­didikan desain busana atau apa pun. Tapi memang setiap ada bahan pakaian seneng aja ngerancang sendiri,” sambungnya.

Kesenangan ini lantas ia bagikan juga kepada keluarga terdekat hingga temannya. Setiap kali akan menjahitkan baju, Reni selalu memberikan ide segar untuk busana yang bakal dijahitkan. ”Dan mereka pun ketagihan. memang saya beruntung dengan men­dapatkan dukungan dari orang terdekat,” ucap dia.

Dukungan yang sama pun tidak terlepas dari komunitas-komunitas, seperti Hijaber Mums Community dan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Kepri. ”Bagaimana pun keberadaan komunitas ini yang akhirnya membantu perkembangan hobi yang akhirnya bisa ikut membanggakan daerah kita di nasional,” tutur Reni sumringah.

Melihat perjalanan Reni dalam menggiatkan hobi yang ia tekuni ini, Reni optimistis, cikal bakal lain di Kepri pun mampu membanggakan hingga ke nasional bahkan internasional.
”Terus aja lakuin hal yang kita suka, dan jangan lupa libatkan Allah dalam setiap usaha kita. Percaya deh,” pungkas Reni yang tidak mengaku inspirasi yang muncul tiba-tiba, harus ia alirkan pada secarik kertas. (aya)

Advertisement
loading...