Jumat, 8 Mei 2026

Disperindag Janji segera Turun Sidak Harga ke Pedagang

Berita Terkait

ilustrasi

batampos.co.id – Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Batam, Adisti mengaku belum mengetahui harga daging sapi di hampir seluruh pasar di Batam melambung tinggi hingga melebihi HET yang sudah ditetapkan Rp 80 ribu per kilogram.

“Ini kami belum mengecek harganya. Kami biasanya mengecek harga kebutuhan pokok seperti daging sapi misalnya, tiap hari Selasa dan Jumat. Kalau memang harga daging sapi sudah di luar batas kewajaran, kami akan menurunkan tim untuk mengecek langsung ke lapangan,” ujar Adisti, Kamis (3/5) siang.

Masih kata Adisti, dua hari lalu harga daging sapi sendiri seperti misalnya di Pasar Mitra Raya ataupun di Pasar Penuin, daging sapi beku paling mahal, dibanderol dengan harga Rp 83 perkilogramnya. Kalau saat ini harga daging sapi sudah mencapai Rp 90 ribu perkilogramnya, Adisti mencurigai hal tersebut dimainkan oleh para pedagang di pasar sendiri, bukan dari distributornya.

“Kalau untuk distributor daging sapi di Batam, mereka semua tak ada satupun yang menjual daging sapi di atas HET. Semuanya dijualnya di bawah HET. Soal stok daging sapi hingga Idul Fitri nanti, dari distributor menjamin aman, tak akan ada kekosongan barang. Begitu juga harganya juga akan stabil antara Rp 65 ribu hingga Rp 79 ribu,” terangnya.

Menanggapi tingginya harga daging sapi hampir seluruh pasar di Batam yang menembus Rp 90 ribu perkilogramnya, atau di atas HET Rp 10 ribu, anggota Komisi II DPRD Batam yang membidangi ekonomi, Idawati Nursanti meminta Pemko Batam, dalam hal ini Disperindag Batam segera turun ke lapangan menggelar sidak harga daging sapi.

“Kalau dari distributor sudah menegaskan, pihaknya tak akan menjual daging sapi di atas HET, berarti tingginya harga daging sapi yang sudah tak wajar itu, ulah para pedagang di pasar sendiri yang memanfaatkan momen jelang Ramadan dan Idul Fitri. Disperindag harus segera tertibkan dan seragamkan itu harga daging sapi di pasar. Jangan karena ulah curang segelintir pedagang daging sapi eceran di pasar yang memanfaatkan momen jelang hari besar keagamaan, asyik main menjual dengan harga suka-suka,” terang politisi yang juga bergelar dokter umum ini.

Diberitakan sebelumnya, tingginya harga daging sapi di hampir seluruh pasar se-Batam, membuat beberapa pemilik distributor daging sapi seperti PT Batam Frozen Food dan PT Dewi Kartikan Inti keberatan dan hendak mengajak Disperindag untuk turun sidak harga.

Mereka keberatan lantaran ulang nakal pedagang daging eceran di pasar yang menaikkan harga tak wajar atau di atas HET yang ada. Hal tersebut membuat permintaan akan daging sapi di pasaran menurun drastis atau sedikit sekali karena dipengaruhi faktor harga yang mahal.

“Saya kaget begitu baca berita di koran Batam Pos, banyak pedagang pasar jual daging sapi di atas HET yang ada saat ini. Sebab dari kami distributor daging sapi, belum ada kenaikan kok dari distributor utama terkait harga daging sapi. Masih stabil di harga antara Rp 65 ribu hingga Rp 79 ribu saja,” ujar William.

Masih kata William, dirinya sudah turun langsung ke pedagang pasar jaringannya yang ia pasok daging sapi di beberapa tempat seperti di pasar daerah Batam Kota dan Nagoya-Jodoh, harga daging sapi per kilogramnya masih sama di harga antara Rp 75 ribu hingga Rp 85 ribu, tak sampai Rp 90 ribu.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh pemilik distributor daging PT Dewi Kartika Inti, Acin. Ia membantah kalau harga daging sapi saat ini di harga Rp 90 ribu per kilogramnya.

“Itu harga yang katanya di koran kemahalan itu. Kami aja masih ada jualan ke pedagang daging sapi di pasar mulai Rp 65 ribu kok dan paling mahal Rp 80 ribu. Masak mau dijual ke masyarakat Rp 90 ribu per kilogramnya. Ambil untungnya sudah kelewat batas. Ini yang kami antardistributor daging di Batam mau turun ke lapangan untuk membantu pemerintah menstabilkan harga daging sapi agar tak dimonopoli pedagang pasar,” ujar Acin.

Acin juga mengeluh seandainya pedagang di pasar menjual daging sapi dengan harga selangit. Sebab, hal tersebut akan berdampak besar pada penjualannya yang menurut drastis karena harga tersebut tak terjangkau oleh masyarakat.

“Kalau sampai pedagang daging sapi di pasar yang kami pasok, kami dapati mematok harga berlebih, kami akan stop itu pasokan dagingnya. Terserah mereka mau ambil ke distributor lainnya, daripada merusak usaha kami,” terang Acin. (gas)

Update