batampos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menilai, pemerintah daerah perlu merespon pertumbuhan ekonomi Kepri 4,47 persen di triwulan pertama tahun ini. Menurut dia, respon cepat ini sangat diperlukan, terutama dalam mengenjot pertumbuhan ekonomi di triwulan dua.

Iklan

“Kita harus belajar dari tahun 2017 lalu. Kalau tidak bisa babak belur,” kata Kepala BPS Kepri, Panusunan Siregard di Batam, Kamis (14/5).

Ia mencontohkan, ketika BPS merilis pertumbuhan Kepri triwulan satu 2017 yang hanya sebesar 2,02 persen, ia sudah mengingatkan gubernur dan Sekda Kepri. Tujuannya agar direspon untuk selanjutnya didiskusikan bermasa, guna mencari jalan lain agar kondisi ekonomi tetap stabil.

“Saat itu tidak ada respon. Kemudian triwulan dua saya rilis lagi, ekonomi Kepri anjlok 1,51 persen dan baru ada respon,” sebut Panusunan.

Saat itu ia merekomendasikan agar gubernur merevisi target pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,5 persen. Sebab, bila melihat pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 1,51 persen akan sangat mustahil bisa mencapainya. Bahkan Bank Indonesia sendiri juga menetapkan target 3,5 persen.

“Seharusnya dengan adanya singayl-sinyal positif ini, kita duduk bersama. Sektor mana saja yang mesti ditingkatkan lagi,” tutur dia.

Panusunan optimis eknomi Kepri bisa terus bangkit asalkan ada kerja keras. Menurut dia, ada empat hal yang perlu disikapi. Pertama, industri pengolahan yang menjadi mesin penggerak ekonomi Kepri. Sejauh ini masih ada industri pengolahan mandek sehingga perlu dorongan pemerintah. Sementara industri pengolahan yang mengalami kontraksi serta tidak berjalan mesti didongkrak sehingga bisa beroperasi lagi.

Turis luar negeri berjalan di teras Mall Kepri Mall. Turis dari luar negeri banyak masuk ke Batam. Mereka menikmati ke indahan Kota Batam, belanja, makan SPA. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Selanjutnya sektor pariwisata. Diakui Panusunan, dibandingkan enam tahun belakangan, baru di tahun ini jumlah kunjungan wisatawan asing di atas 200 ribu per bulan. Hal itu terjadi di bulan Februari dan Maret 2018, dimana wisman yang datang berada di angka 200 ribuan perbulan.

“Biasanya dalam enam tahun saya amati, kunjungan wisaman di atas 200 ribuan itu hanya satu bulan saja yakni Desember, karena ada Natal dan Tahun Baru. Tapi ini tidak, ada peningkatan yang signifikan akibat dari even yang diselenggarakan pemerintah daerah,” paparnya.

Sektor pariwisata ini, lanjut Panusunan harus didorong. Pemerintah harus mampu mensiasati bagaimana menghadirkan even dan kegiatan yang mampu mengundang wisman berkunjung ke Kepri. Karena lewat sektor ini juga lah ekonomi bisa tumbuh serta menggerakan perekonomian di Batam.

“Yang jelas kontribusi pariwisata sangat tinggi di dua bulan ini,” paparnya.

Ketiga, kata Panusunan, sektor ekpor. Batam menjadi pusat kegiatan ekspor di Kepri dinilai kurang terancang dengan baik. Sebab, bila dari perkembangannya terjadi penurunan dari tahun ke tahun. Padahal, Batam sendiri menjadi potensi ekspor manufaktur yang paling besar di Kepri.

“Industri manufaktur yang diadakan di Batam inikan berorientasi ekspor, tapi seakan tidak tanpak. Ini yang saya katakan, ekspor harus digenjot, karena dengan ekpor ini penggerak roda pertumbuhan ekonomi kita,” terang Panusunan.

Kemudian dari sisi pengeluaran, peran APBD di triwulan satu 2018 ini cukup signifikan. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan dana APBD yang cepat menyebabkan perputaran uang jadi kencang. Pemerintah diminta juga merespon hal ini, sehingga di triwulan dua bisa digenjot lagi.

“Meski tidak signifikan, tapi peran APBD sangat merespon pertumbuhan ekonomi,” bebernya.

Ia menyarakan, belanja konsumen juga mesti ditingkatkan. Tahun lalu, kata Panusunan, pertumbuhan ekonomi Kepri yang rendah masih bisa bertahan dari kontraksi akibat belanja konsumen. Untuk itulah diharapkan, pemerintah menahan daya beli masyarakat dan sekaligus menjaga kestabilan harga. Inflasi juga harus ditekan serendah mungkin, sehingga tidak terjadi ketimpangan antara ketersedian barang dan harga.

“Terakhir investasi, bagaimana mengajak orang berinvestasi. Faktor-faktor inilah yang harus direspon cepat,” jelasnya. (rng)