Warnet. | Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Warung internet (warnet) kembali disoroti masyarakat di Batuaji dan Sagulung. Tidak membatasi usia pengunjung dan beriberi hingga 24 jam kerap menimbulkan persoalan sosial yang cukup serius bagi masyarakat di sana. Banyak anak remaja hingga orang dewasa yang nekad melakukan berbagai aksi kriminal akibat kacanduan warnet yang tidak membatasi usia pengunjung ataupun jadwal operasional tersebut.

Dua pekan terakhir ini polisi di sana sedikitnya mengungkap tiga kasus kriminal akibat para pelaku kecanduan warnet. Kasus yang paling miris dilakukan oleh Dwi Yudha Harianto, warga Seilekop Sagulung. Pemuda 24 tahun ini nekad membobol kotak infaq masjid Babussalam, Sabtu (26/5) lalu. Aksisnya kepergok warga sehingga dia babak belur diamuk masa. Saat diperiksa polisi, Dwi mengaku sudah tiga kali mencuri uang dari kotak amal tersebut. Uang hasil kejahatannya itu hanya untuk bermain game online di salah satu warnet di ruko Limanda, kelurahan Buliang Batuaji.

“Disitu (warnet) buka 24 jam, saya bebas main sampai pagi,” ujar Dwi.

Sebelumnya Polsek Batuaji juga mengungkap dua remaja pelaku curanmor, Kamis (17/5). Ibr dan Rhn dua remaja tersebut mencuri dua sepeda motor warga di Bengkong Indah. Sepeda motor itu hendak dijual dengan murah demi menyalurkan hasrat mereka untuk bermain warnet di Kaveling Nato, Sagulung.

“Curi motor untuk main warnet mereka (dua pelaku),” kata Kapolse Batuaji Kompol Syafruddin Dalimunthe.

Begitu juga yang dilakukan Padeli dan Falevi, kelompok curanmor yang dibekuk di oleh Polsek Sagulung, Sabtu (25/5) lalu. Kedua pemuda ini mengaku mendapat ide sebagai spesialis pencuri sepeda motor di kawasan Industri dari warnet di kaveling Nato, Sagulung. Keduanya juga kecanduan warnet sehingga nekad melakukan aksi kriminal itu agar bisa berlama-lama di warnet.

Dengan adanya kejadian-kejadian itu, pihak kepolisian juga menyoroti keberadaan warnet di dua wilayah padat penduduk tersebut. Polisi berencana akan turun razia warnet bersama pihak kecamatan.

“Kami akan koordinasi dengan pihak kecamatan. Bagaimanapun ini (warnet) sudah meresahkan masyarakat,” kata Dalimunthe.

Rencana pihak kepolisian itu didukung baik oleh masyarakat di Batuaji dan Sagulung. Masyarakat berharap agar penertiban warnet yang bandel secepatnya dilakuan.

“Memang banyak kali dampak buruknya daripada yang baik warnet-warnet itu. Anak sekolah jadi lupa belajar karena dibuat betah di warnet itu,” ujar Sanusi, warga Genta I, Batuaji.

Camat Batuaji Ridwan saat dikonfirmasi mengaku akan segera turun melakukan penertiban tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPM PTSP) dan Satuan Polisi Pamong Praja serta pihak kepolisian untuk sama-sama turun menertibkan warnet-warnet bandel tersebut.

“Sudah banyak laporan dan masukan dari masyarakat termasuk pihak kepolisian. Ini akan ditindak lanjuti bersama instansi terkait lain,” ujar Ridwan.

Senada disampaikan Camat Sagulung Reza Khadafi yang mengaku akan koordinasi ulang terkait keberadaan warnet-warnet yang membandel tersebut. (eja)