Sabtu, 11 April 2026

Prof Dawam Rahardjo Berpulang

Berita Terkait

Dawan Rahardjo

batampos.co.id – Indonesia kembali kehilangan salah seorang tokoh besar. Cendikiawan Dawam Rahardjo mengebuskan napas terakhir di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Lama berjuang melawan diabetes yang dia derita, tokoh kelahiran 20 April 1942 itu meninggal dunia sekitar pukul 21.35 WIB Rabu malam (30/5). Meski telah tiada, jasanya terhadap bangsa dan negara tidak akan hilang.

Seperti disampaikan oleh Presiden Joko Widodo kemarin (31/5). Menurut dia, Dawam merupakan cendikiawan yang mampu memberikan banyak gagasan melalui berbagai karya yang dia buat. ”Lewat tulisan memberikan gagasan-gagasan yang baik bagi negara ini,” ungkapnya ditemui usai melayat di rumah duka. Melalui gagasan itu, sambung presiden, sedikit banyak cendikiawan lain belajar.

Mantan gubernur DKI yang akrab dipanggil Jokowi itu mengungkapkan bahwa Dawan termasuk salah seorang yang sangat konsisten melawan diskriminasi. Tidak jarang Dawam membela orang-orang yang dia nilai diperlakukan secara tidak adil. ”Saya kira kita sangat kehilangan beliau. Seorang cendikiawan muslim yang gagasan dan tulisannya sangat tajam dalam menyikapi setiap peristiwa-peristiwa di negara kita,” bebernya.

Orang nomor satu di Indonesia itu pun menyampaikan, dirinya terakhir kali bertemu Dawam di Istana Bogor. ”Beliau memang sudah kelihatan sakit. Beliau sudah lama sakit,” imbuhnya. Senada disampaikan oleh putra kedua almarhum Dawam, Jauhari Rahardjo. Dia menyampaikan bahwa ayahnya sudah sembilan bulan terakhir harus bolak-balik ke rumah sakit. ”Sudah sembilan bulan ini sakit,” kata dia.

Selam hidupnya, Jauhari mengenal Dawam sebagai sosok yang sederhana dan tidak pernah neko-neko. Pesan yang disampaikan sebelum wafat juga tidak banyak. Ayah dua anak itu hanya meminta untuk dimakamkan di dekat makam Nurcholish Madjid atau lebih dikenal Cak Nur. ”Disampaikan kepada ibu saya. Sudah lama disampaikan,” imbuhnya. Sesuai pesannya, Dawam mendapat tempat peristirahatan terakhir di dekat makam Cak Nur.

Sebagai salah seorang tokoh yang pernah mendapat Bintang Mahaputra Utama, Dawam berhak dimakamkan di dekat makam Cak Nur di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Penghargaan itu dia peroleh dari B. J. Habibie ketika masih bertugas sebagai presiden pada 1999. Bukan penghargaan biasa, Bintang Mahaputra Utama merupakan salah satu tanda kehormatan tertinggi untuk masyarakat sipil.

Dawam semasa hidup memang punya banyak sumbangsih. Alumunis Universita Gadjah Mada (UGM) itu pernah menjadi ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia  (ICMI) pusat pada 1995 sampai 2000. Dia juga sempat dapat kepercayaan sebagai ketua tim penasihat presiden B. J. Habibie pada 1999. Tidak hanya itu, Dawan juga dikenal sebagai salah seorang cendikiawan yang aktif bergerak di lapangan.

Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie mengungkapkan bahwa Dawam merupakan tokoh yang lengkap. Sebab, almarhum bukan sekedar pemikir hebat. Melainkan juga aktivis yang punya idealisme tinggi. Itu dibuktikan Dawam saat mejabat direktur LP3ES. ”Aktif di dalam agenda-agenda aksi, agenda gerakan sosial,” kata Jimly kemarin. Khususnya, sambung dia, gerakan yang berkaitan dengan sosial ekonomi dan ekonomi kerakyatan.

Karena itu, Jimly pun menuturkan bahwa meninggalnya Dawam merupakan kehilangan besar. Sebab, tidak banyak tokoh seperti Dawam. ”Banyak orang yang aktif sekali dalam aksi. Menjadi aktivis tanpa refleksi. Tidak terlibat dalam pemikiran,” ungkap dia. Di lain sisi, masih kata Jimly, banyak juga pemikir dan ilmuan yang sangat hebat. ”Tapi, tidak terlibat dalam kegiatan aksi. Nah, beliau (almarhum Dawam) dua-duanya,” ujarnya.

Sebagai pimpinan ICMI saat ini, Jimly berharap besar cendikiawan muda di tanah air meneladani Dawam. Sehingga ada generasi selanjutnya yang mampu meneruskan kiprah suami dari Sumarni itu. Serupa dengan pesan yang disampaikan kepada keluarga, kepada Jimly, Dawam juga menitip pesan untuk di makamkan di dekat makam Cak Nur. ”Beliau lebih muda (dari Cak Nur). Tapi, sangat akrab,” kenangnya.

Bila Cak Nur lebih concern terhadap agama dan filsafat, Dawam punya perhatian lebih terhadap ekonomi dan gerakan sosial. Lantaran sudah pernah mendapat Bintang Mahaputra Utama, Jimly lantas menyampaikan pesan itu kepada Mensesneg Pratikno. ”Alhamdullilah dapat tanah beberapa makam dari makam Cak Nur,” ucap dia. Dengan begitu, keinginan terakhir Dawam sudah terpenuhi.

Kemarin, jenazah almarhum diserahterimakan kepada negara melalui upacara militer. Proses itu dilakukan setelah jenazah disalatkan di Masjid Baitussalam, Jakarta Timur. Pun demikian dengan pemakamannya, dilakukan dengan upacara militer. Dawam meninggalkan seorang isteri, dua anak, satu mantu, dan lima cucu. Selain presiden Jokowi dan Jimly, kemarin sejumlah pejabat seperti Mensesneg Pratikno dan Gubernur DKI Anies Baswedan juga melayat ke rumah duka. (syn/)

Update