batampos.co.id – Dam Sei Harapan memasuki masa kritis. Penyebabnya adalah pendangkalan parah sehingga menyebabkan daya tampung dam yang berlokasi di Sekupang itu berkurang drastis.

Menurut Presiden Direktur ATB Benny Andrianto, rationing atau penggiliran air terpaksa harus dilakukan pada bulan Juli mendatang untuk daerah Sekupang. Ia juga mengatakan setelah rationing, maka Dam Sei Harapan paling lama akan bertahan selama empat bulan saja.

Loading...

“Karena pendangkalan ini, banyak curah hujan pun, Dam Sei Harapan sudah tak bisa menampung lagi. Empat bulan saja dari Juli nanti, jika memang tak fungsi lagi,” ujarnya di Hotel Davienna, Selasa (5/6).

Pendangkalan disebabkan sedimentasi atau pengendapan lumpur. Dan akibat pendangkalan tersebut, saat ini tingkat elevasi di Dam Sei Harapan sudah berada di angka minus 2,7 meter. ATB kata Benny hanya bisa mengambil air hingga batas minus 5 meter.

“Ini bagian yang membuat kami prihatin. Apalagi pelanggan tak mau tahu. Ini akan jadi konsen ATB karena bagi Batam yang ambil air dari curah hujan, maka kebutuhan air baku ini luar biasa sekali,” ungkapnya.

ATB sebenarnya punya skenario lain agar rationing tidak perlu diberlakukan. Caranya adalah mensuplai air bagi daerah Sekupang dari Dam Sei Ladi dan Dam Duriangkang.

“Namun, akibatnya daerah sekitar Dam Sei Ladi akan terganggu suplainya. Sehingga nanti akan disuplai lagi dari Duriangkang. Jika seperti itu nanti seluruh pulau akan terganggu,” jelasnya.

Ada harapan jika Dam Tembesi beroperasional, maka suplai air baku Batam akan tercukupi meskipun Dam Sei Harapan tak berfungsi lagi.

“Namun Dam Tembesi belum layak operasi. Karena airnya payau dan belum ada instalasi Water Treatment Plant (WTP) disana,” katanya.

Sehingga opsi terbaik saat ini adalah melakukan rationing di Sekupang sampai ada upaya dari pemerintah daerah untuk membuat Dam Sei Harapan normal kembali.

Memang sebelumnya, Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai pemilik aset Dam Sei Harapan pernah berencana untuk mengeruk dam tersebut.

Dalam operasionalnya, BP akan menggunakan dana dari Bank Dunia. Rencana tersebut sudah bergulir sejak musim kekeringan akibat El-Nino tahun 2015 silam.

“Saat El-Nino 2015, sudah dijanjikan pengerukan. Namun hingga saat ini belum ada progres,” katanya.

Dam Seiharapan.
F. Dalil Harahap/Batam Pos

Terpisah, Kepala Kantor Pengelolaan Air BP Batam Binsar Tambunan mengatakan pihaknya tengah berupaya menggesa agar dana dari Bank Dunia bisa dicairkan untuk mengeruk Dam Sei Harapan.

“2016 sudah kita usulkan. 2017 belum termasuk kita, baru rencana tahun ini dan tahun depan. Masih diproses,” katanya.

Solusi jangka pendek dalam mengatasi persoalan ini, Binsar mengatakan ATB harus segera menuntaskan interkoneksi untuk distribusi air bersih.

“Tiap waduk punya interkoneksi. Jadi semua nyambung dari Sei Ladi ke Sei Harapan. Dari Duriangkang ke Nongsa. Semua tersambung distribusinya,” paparnya.

Sehingga ketika musim kemarau panjang terjadi, maka suplai air di Batam tak akan terganggu. Apalagi saat ini total kemampuan seluruh dam di Batam dalam mendistribusikan air mencapai 3.800 liter perdetik. Dan saat ini baru 3.200 liter detik yang digunakan.

“Jadi tidak ada alasan untuk melakukan rationing,” tegas Binsar.

Tapi, Binsar mengakui memang kondisi Dam Sei Harapan secara operasional hanya 50 persen saja. Dan butuh penanganan segera agar bisa kembali seperti kondisi semula.

“Ini sebagai peringatan kepada kami sebagai pengelola waduk. Ini akan kami sikapi segera,” tuturnya. (leo)

Loading...