
DUDUK di sofa empuk tak membuat Brinanti Sandwika Jalius terlihat tenang dan nyaman. Tangan kanannya sibuk menggerak-gerakkan tetikus laptop yang ada di atas meja. Sementara tangan kirinya memegang sebuah ponsel. Sesekali, dengan tangan kirinya, ia terlihat mengetik pesan singkat.
Kedua mata Branch Manager Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kepri tak kalah sibuk. Sesekali ia memandangi layar laptop di hadapannya. Dalam sekejap, pandangan matanya sudah berpindah ke layar ponsel di tangan kirinya.
Hingga akhirnya, wanita berhijab itu bangkit dari duduknya. Setengah bergegas, ia berjalan menuju ruangan di sebelahnya. Namun sebelum benar-benar sampai di ruangan itu, ia terdengar berbicara dengan stafnya, Ramzi.
“Pak Ramzi, kita butuh beras, pakaian dewasa untuk pria dan wanita, serta baju anak-anak,” kata Brinanti Sandwika Jalius dengan suara setengah berteriak.
Yang diajak bicara pun cepat menanggapi. Ramzi, stafnya itu, memastikan semua barang yang dibutuhkan masih tersedia di gudang ACT Kepri. Namun Ramzi menyampaikan, stok beras tinggal satu karung.
Setelah memastikan semua komoditas yang diperlukan tersedia, Brinanti Sandwika Jalius kembali ke sofanya. Ia kembali duduk. Namun kali ini tidak lagi sibuk dengan ponsel dan laptopnya.
“Kami akan menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran di Kecamatan Belakangpadang, Batam,” kata Brinanti Sandwika Jalius saat ditemui di kantor ACT Kepri di Komplek Khazanah Plaza, Batam, Jumat (8/6) pagi.
Pagi itu, Brinanti Sandwika Jalius sibuk karena memang tengah memantau tim ACT Kepri yang tengah survei ke lokasi kebakaran di permukiman warga di Belakangpadang, Batam. Ia menunggu laporan dari lapangan terkait berapa korban dan bantuan apa saja yang dibutuhkan para korban kebakaran.
Wanita yang akrab disapa Ika itu mengatakan, berdasarkan laporan timnya, ada tiga rumah yang hangus dalam insiden kebakaran di Belakangpadang, Kamis (7/6) lalu. Tim survei juga mengabarkan, para korban membutuhkan bantuan sembako dan baju atau pakaian. Sebab sebagian besar pakaian korban ikut terbakar.
“Sesuai nama lembaga ini, kami harus cepat dalam menanggapi setiap bencana,” kata Ika.
Bantuan untuk korban kebakaran di Belakangpadang ini bukan satu-satunya aksi kemanusiaan yang dilakukan ACT Kepri. Meski ACT cabang Kepri ini baru resmi beroperasi per Januari 2018 lalu, sudah banyak kegiatan yang dilakukan di wilayah Kepri.
Mulai dari Mobile Social Rescue (MSR) yang melibatkan relawan tenaga medis, program santunan ke panti asuhan, program bersih-bersih masjid, program bagi-bagi snack setiap hari Jumat, hingga kegiatan edukasi di sekolah-sekolah melalui program ACT Back to School.
Selain itu, selama bulan suci Ramadan ACT Kepri juga menggelar berbagai kegiatan sosial. Mulai dari bagi-bagi takjil gratis di daerah permukiman pra-sejahtera, masjid, dan panti asuhan, hingga kegiatan road show bersama seorang syeh dari Palestina.
Dalam road show ini ACT Kepri ingin memberikan edukasi kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. Target kegiatan ini antara lain jamaah di masjid-masjid hingga ke sekolah. Tak hanya di Batam, kegiatan road show juga digelar di Bintan dan Karimun, Provinsi Kepri.
Tujuan dari kegiatan ini tak lain untuk menggugah hati para dermawan agar mau menyisihkan sedikit hartanya untuk membantu para korban di daerah konflik. Khususnya di Palestina.
Sementara di tingkat nasional, kegiatan ACT Indonesia tentu lebih luas lagi. Sebab menurut Ika, semua donasi yang diberikan para donatur terkumpul di pusat dan di kelola secara terpadu dan terkontrol.
Ika menyebutkan, di antara sekian banyak aksi kemanusiaan yang dilakukan ACT di dalam negeri adalah membantu para penderita gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua. Selain mengirimkan relawan medis, ACT Indonesia juga menyerahkan bantuan berupa 1.000 ton beras yang dikirim dengan Kapal Kemanusiaan ACT Indonesia.
Bukan hanya di Papua, menurut Ika ACT Indonesia juga telah banyak membantu korban bencana di Tanah Air. Seperti korban banjir, korban gunung meletus, korban tanah longsor, dan masih banyak lagi.
“Karena kami ingin selalu hadir dan membantu dalam setiap musibah dan bencana di masyarakat,” kata Ika.
Tak hanya di dalam negeri, aksi kemanusiaan ACT Indonesia juga sampai ke wilayah konflik di Timur Tengah. Seperti Suriah dan Palestina.
Sama seperti aksi kemanusiaan ke Papua, ACT Indonesia juga mengirimkan bantuan beras ke Palestina dan Suriah selain bantuan pakaian dan obat-obatan. Baru-baru ini, bantuan beras sebanyak 2.000 ton telah tiba di Palestina. Bantuan beras itu juga dikirimkan dengan Kapal Kemanusiaan ACT Indonesia.
Ika menyebutkan, 2.000 ton beras untuk Palestina itu merupakan tahap pertama pengiriman. Sebab tahun ini, ACT Indonesia menargetkan akan mengirim bantuan 10 ribu ton untuk warga Palestina.
“Mengapa beras? Karena melalui bantuan beras ini kami ingin menyampaikan pesan asa atau harapan di setiap butirnya,” kata Ika dengan penuh semangat.
Ika berharap, melalui bantuan beras ini akan muncul semangat dan harapan bagi para korban konflik di Timur Tengah, khususnya di Palestina. Juga semangat bagi para donatur untuk mendonasikan sebagian kecil hartanya bagi para korban.
Beras dipilih sebagai komoditas bantuan ke Palestina karena ACT Indonesia melihat kekacauan di Jalur Gaza merupakan isu kemanusiaan. Bukan isu politik apalagi agama.
“Jadi kami memilih memberikan butir-butir beras. Bukan butiran peluru,” katanya.
Selain meringankan para korban, kata Ika, bantuan beras ini juga menguntungkan para petani dalam negeri. Sebab semua beras yang dikirimkan dalam aksi kemanusiaan, baik di dalam maupun luar negeri, dibeli dari petani lokal. Tepatnya dari petani Desa Wakaf di Blora, Jawa Tengah.
Sementara Humas ACT Kepri Ilham Hafizd mengatakan, selain memberikan bantuan berupa bahan makanan dan pakaian, ACT Indonesia juga banyak membuat program bantuan berkelanjutan. Misalnya di Papua, selain membantu beras dan bahan pangan lainnya, ACT Indonesia memberikan lahan wakaf kepada warga di ujung timur Indonesia itu.
Lahan wakaf ini kemudian dimanfaatkan untuk lahan pertanian bagi warga di Papua. Sehinga ke depan mereka bisa mandiri secara ekonomi.
“Ibarantya kami tidak hanya memberi ikan, tapi juga memberi kail supaya mereka mandiri,” kata Ilham.
Sementara di Kepri, ACT Kepri menggelar sejumlah program sosial sepanjang bulan suci Ramadan ini. Mulai dari sosialisasi tentang Palestina, hingga bagi-bagi takjil untuk kaum dhuafa. Seperti yang digelar di Tanjung Uma, Batam, Minggu (27/5) lalu. ACT Kepri membagikan takjil gratis kepada warga setempat. Dalam sekejap, takjil gratis tersebut ludes diserbu warga.
“Kalau di Jakarta namanya food truck. Kami di Kepri pakai istilah food van,” kata Ilham.
Ilham menjelaskan, aksi bagi-bagi takjil gratis ini digelar setiap hari selama Ramadan. Lokasinya berpindah-pindah. Namun diutamakan di kawasan permukiman pra-sejahtera.
Selain itu, aksi bagi-bagi takjil gratis ini juga digelar di sejumlah musala, masjid, hingga ke panti asuhan (PA). Takjil gratis tersebut, kata Ilham, merupakan hasil sumbangan para donatur.
“Alhamdulillah, selama Ramadan ini ada saja donatur yang menyumbang,” katanya.
Menurut Ilham, program Food Van ini merupakan bagian dari program kemanusiaan yang digelar ACT Indonesia bertajuk Beri Indonesia Ramadan Terbaik.
Selain program food van, selama Ramadan ini ACT Kepri juga mengadakan acara road show sosialisasi dan edukasi tentang Palestina. Dalam program ini, ACT Kepri menghadirkan pembicara langsung dari Palestina.
Disamping menggelar aksi sosial, ACT Kepri juga terus menggalang dana untuk aksi kemanusiaan untuk Palestina dan negara-negara konflik lainnya. Semua dana akan dikumpulkan di ACT pusat dan akan disumbangkan untuk para korban di daerah konflik. (Suparman)
