batampos.co.id – Pasar saham masih lesu setelah berakhirnya libur panjang. Aliran dana asing terus keluar. Kemarin (20/6) indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan penurunan 1,83 persen ke level 5.884,04. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp 2,04 triliun di seluruh market.

Iklan

Tercatat ada 112 saham yang menguat, 290 saham melemah, dan 92 saham stagnan. Mayoritas penyebab indeks melemah adalah saham sektor keuangan yang menurun hingga 3,54 persen. Disusul saham-saham sektor properti yang merosot 2,96 persen.

Penurunan market tersebut sejalan dengan sentimen yang terjadi akhir-akhir ini. Yakni, sentimen eksternal berasal dari perang dagang AS dan Tiongkok serta menguatnya mata uang dolar AS (USD). ”Seluruh mata uang pasar berkembang terpukul telak oleh USD yang menguat secara umum. Rupiah terancam terus melemah pekan ini,” kata analis FXTM Lukman Otunuga kemarin.

Ancaman Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif baru terhadap barang dari Tiongkok membuat pasar finansial bergejolak. Investor pun waspada. Hal tersebut mengakibatkan selera risiko menurun dan harga minyak melemah. Selain minyak, harga emas mengalami penurunan.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menambahkan, perang tarif impor antara AS dan Tiongkok memperburuk situasi setelah The Fed menaikkan suku bunganya. Akibatnya, Bank Indonesia (BI) juga harus segara merespons kondisi global tersebut. ”Hal ini menyebabkan posisi rupiah terdepresiasi terhadap USD,” ungkapnya.

Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi menilai, market yang lesu setelah libur panjang adalah hal yang biasa terjadi. Yang unik, investor lokal masih mampu menahan penurunan itu. ”Kita tidak usah takut. Kepemilikan investor domestik di saham sudah 52 persen, 50:50 itu sudah bagus,” tutur perempuan yang kerap disapa Kiki tersebut.

Kemarin investor lokal mencatat beli bersih sekitar Rp 2,1 triliun. Menurut Kiki, ke depan dana asing masih berpeluang masuk. Asalkan, investor melihat kondisi keamanan Indonesia terjaga menjelang perhelatan event-event besar seperti pilkada serentak, Asian Games, serta Annual Meeting IMF-World Bank. Kepercayaan investor asing juga akan meningkat apabila pembangunan infrastruktur terlihat nyata dan kondisi utang negara serta emiten terkelola dengan baik. (rin/c7/fal)