Minggu, 19 April 2026

Peringkat Pemberian Imunisasi ke Masyarakat di Batam Jeblok

Berita Terkait

Sekertaris Daerah Kota Batam Jefridin bersama Kadis Kesehatan Kepri Tjetjep Yudiana, dan Kadinkes Batam Didi Kusmardjadi menadatangani komitmen lintas sektoral pada acara advokasi sosialisasi dan koordiansi kampanye dan introduksi imunisasi Measles dan Rubella (MR) di Hotel Sahit Batam, Selasa (26/6). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Dinas Kesehatan Provinsi Kepri dan Kota Batam menggelar Pertemuan Advokasi Sosialisasi dan Koordinasi Kampanye dan Introduksi Maesles and Rubella (MR) Tingkat Kota Batam di Hotel Sahid Batam Kota, Selasa (26/6) pagi.

Pada pertemuan kemarin, membahas rencana tentan pemberian vaksin MR ke seluruh anak balita hingga usia sekolah di Batam yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus serta September tahun ini, agar semua anak Batam bebas dari penyakit campak maupun rubella.

“Untuk bulan Agustus pelaksanaan pemberian vaksin ke masyarakat akan dilakukan ke seluruh sekolah setingkat SD dan SLTP di Batam. Sasarannya umur yang akan diimunisasi vaksin MR nanti mulai dari umur sembilan bulan hingga 15 tahun atau usia remaja,” ujar Kadinkes Batam, Didi Kusmaryadi.

Sedangkan untuk di bulan September, pemberian vaksin ke masyarakat akan dilaksanakan ke seluruh fasilitas kesehatan yang ada, baik itu di pemerintah maupun swasta mulai dari klinik, posyandu, puskesmas, rumah sakit dan lain-lain.

“Untuk selanjutnya nanti program vaksi MR ini akan dilaksanakan sebagai imunisasi rutin,” terang Didi.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjejep menegaskan, program pemberian vaksi MR massal tersebut, semuanya dibiayai Kemenkes. Target nasional kami tahun 2020 ingin melenyapkan penyakit campak dan rubella. Memang secara garis besar, antara campak dengan rubella jauh berbeda. Namun kedua penyakit tersebut selalu bersinggungan.

“Dari berbagai penelitian dan bahkan sudah diteliti oleh WHO, bahwa dari 100 yang terduga campak, yang positif hanya 29 persen saja. Sedangkan rubella dari 100 yang terduga, yang positif sebanyak 34 persen. Sehingga sisanya yang merupakan 37 persen itu merupakan gabungan, bukan penyakit campak ataupun rubella,” ujar Tjejep.

Penyakit rubella sendiri lebih berbahaya dan lebih besar prosentasenya dari hasil penelitian WHO. Rubella akan menyebabkan penyakit jantung. Salah satunya disebabkan oleh penyakit rubella, bisa berakibat katarak, kebutaaan hingga ketulian.

“Ini yang harus kita berantas bersama-sama. Suatu kehormatan bagi saya, jajaran kesehatan mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Batam serta ketua tim penggerak PKK Batam,” katanya.

Dua tahun sebelumnya, lanjut Tjejep, untuk di Batam sendiri presentase tingkat penyelenggaraan vaksinasi ke anak-anak melalui pekan imunisasi, gagal total. Dari yang harusnya ditargetkan 95 persen, Batam saat itu mentok hanya mampu capai 82 persen saja.

Angka tahun sebelumnya itu prosentase tingkat penyelenggaraan vaksinasi ke anak di Batam itu jeblok, diperingkat terbawah yakni pencapaiannya sama dengan di Papua.

“Inilah yang mau kami ubah atau balikkan, Batam maupun Kepri harus masuk 10 besar bahkan menjadi contoh daerah lainnya. Ini sangat penting saya laporkan, karena saya tidak ingin kejadian itu terjadi kembali. Saat itu kami langsung turun survei dan sweeping ke tiap rumah warga. Ternyata hasilnya banyak penduduk saat itu di Batam termasuk di kediaman elite, mereka tidak tahu ada pelaksanaan pekan imunisasi. Padahal hal itu program nasional. Ada juga keluarga tersebut juta tak maul divaksin akrena mereka mengaku sudah divaksin di rumah sakit pilihannya,” terang Tjejep.

Nantinya pada pelaksanaan program pemberian vaksi MR, pihaknya akan bersinergi dengan semua pihak seperti Ikatan Dokter Indonesia Batam maupun Kepri, Ikatan Bidan Indonesia Kota Batam, kepolisian, TNI dan Pemko Batam serta Provinsi Kepri sendiri.

“Kami akan turun door to door, ke setiap klinik, rumah sakit, puskesmas, posyandu bahkan mendatangi masing-masing rumah warga dengan melibatkan 3.600 kader, 700 petugas kesehatan ke tiap sekolahan. Untuk TK di Batam yang akan divaksin atau diimunisasi sebanyak 529 sekolah TK, SD dan SMP ada 390 sekolah, serta SMP sederajat ada 169 sekolah se-Batam,” terang Tjejep.

Kadinkes Kepri dan Batam sendiri juga berkoordinasi dengan MUI untuk ikut turun memberikan pemahaman bagi sekolah-sekolah yang masih menganggap takut atau haram vaksi yang akan disuntikkan pada imunisasi nantinya.

“Ada fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 yang menegaskan pemerintah wajib menjamin kesehatan masyarakatnya. Jangan dipersoalkan vaksinnya nanti halal atau haram, tapi terpenting, bagaimana masyarakat ini nantinya sehat, terhindar dari penyakit berbahaya. Ini sudah ada komitmen dari MUI dan Kemenag bahwa kita harus menjamin generasi di Indonesia nantinya sehat semua,” ujar perwakilan Kemenag Batam, Zainuddin.

Sementara Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Batam, Soritua Sarumpaet menegaskan komitmennya untuk mendukung sepenuhnya program pemberian imunisasi vaksi MR di Batam nantinya.

Kami akan lebih menekankan ke anggota kami sebanyak 700 dokter yang tersebar se-Batam supaya bisa mensukseskan program tersebut. Sosialisasi imunisasi berupa pemberian vaksi MR nanti juga akan kami rangkaikan dengan kegiatan Hari Bakti Dokter Indonesia yang akan berlangsung sebentar lagi,” ujar dokter senior ternama di Batam ini mengakhiri. (gas)

Update