Kamis, 9 April 2026

Logistik Lancar, Bisnis Online Batam Bersinar

Berita Terkait

PETUGAS dari JNE mendata paket yang akan dikirim melalui terminal kargo Bandara Hang Nadim Batam, Rabu (27/06/2018).

Mi ayam bakso dengan kerupuk pangsit itu sudak cukup lama tersaji di atas meja. Bahkan kuah yang tadinya mengepulkan asap, sudah mulai terasa dingin. Namun si pemesan, Novita, belum juga menyentuhnya.

Tangan wanita 35 tahun itu masih sibuk dengan gawainya. Ia terlihat berbicara dengan seseorang melalui ponsel pintarnya itu. Usai menelpon, giliran jemarinya yang sibuk mengetik pesan. Hingga beberapa menit kemudian, pandangannya belum juga beralih dari layar ponsel ke mangkuk mi ayam bakso di atas meja, di depannya.

“Ya beginilah kalau emak-emak jualan online. Sibuk tak menentu,” kata Novita saat ditemui di sebuah kafe di Batamcenter, Batam, Sabtu (23/06/2018) lalu.

Novita menceritakan, siang itu ia menerima protes dari seorang pembeli dari Tulungagung, Jawa Timur. Pelanggan lamanya itu membeli tas impor merek terkenal pada Senin (18/06/201). Namun hingga Sabtu (23/06/2018), barang yang dipesan itu belum juga sampai ke tangan pembeli.

Padahal, kata Novita, seharusnya tas impor tersebut sudah sampai ke alamat pembeli Kamis (21/06/2018). Atau paling tidak sehari sesudahnya.

“Tapi ini sudah Sabtu belum sampai juga,” kata Novita.

Wanita berhijab itu menjelaskan, tas seharga Rp 450 ribu itu dikirim melalui perusahaan jasa ekspedisi yang dipilih sendiri oleh pelanggannya. Sehingga, kata dia, keterlambatan pengiriman itu mungkin memang karena tidak maksimalnya pelayanan perusahaan jasa ekspedisi tersebut.

Menurut dia, selama 2 tahun menjalankan bisnis online di Batam, Novita mengaku selalu menggunakan jasa ekspedisi JNE. Namun tak jarang pelanggannya memilih dan menentukan jasa tertentu. Ini biasanya atas pertimbangan biaya yang lebih murah.

Sebab, biaya pengiriman memang belum termasuk harga tas. Dan biaya pengiriman itu selalu dibebankan kepada pembeli. Sehingga tak heran jika kebanyakan pembeli memilih jasa ekspedisi yang tarifnya lebih murah.

“Padahal kadang selisihnya tak seberapa. Buat apa murah kalau pengiriman lambat. Sebenarnya ini salah customer sendiri,” kata Novita sambil mulai makan mi ayam pesanannya yang sudah dingin.

Wanita yang akrab disapa Novi ini menjelaskan, peran perusahaan logistik memang sangat penting bagi penjual online seperti dirinya. Karenanya, ia mengaku tak mau main-main dalam memilih jasa ekspedisi atau perusahaan logistik. Sebab kecepatan dan keamanan proses pengiriman barang akan menjadi nilai tambah bagi penjual online.

“Pembeli akan merasa puas jika barang cepat sampai dan dalam kondisi yang baik. Sehinga mereka akan repeat order,” katanya.

Bagi Novi, kepercayaan dan kepuasan pelanggan itu penting. Sebab sebagian besar pelanggan dia merupakan reseller. Artinya, mereka belanja untuk dijual kembali. Sehingga Novi merasa amat perlu menjaga kepercayaan pelanggannya itu dengan harapan mereka akan tetap menjadi pembeli setianya.

Soal tarif jasa ekspedisi, bagi Novi menjadi pertimbangan terakhir. Yang penting adalah pelayanan yang baik dan prima. Barang sampai tepat waktu dalam kondisi yang baik adalah prioritas utama.

“Cuma ya itu, kadang pembeli yang memilih ekspedisi tertentu. Kita nggak bisa menolak, karena biaya pengiriman itu dibebankan mereka. Jadi, ya, terserah mereka,” kata Novi.

Disinggung soal penghasilan, Novi mengaku berbisnis online di Batam cukup menjanjikan. Sebab Batam brand barang murah sudah terlanjur melekat di Batam.

Dan bukan sekedar ‘image’ belaka, harga komoditas jualan online di Batam memang lebih miring jika dibandingkan dengan daerah lain. Mulai dari jam tangan, tas, sepatu, baju, handphone, dan masih banyak lagi. Sebab barang-barang tersebut umumnya merupakan produk impor yang masuk ke Batam tanpa dikenakan bea masuk. Sehingga harganya lebih murah.

Sayangnya, Novi enggan menyebut berapa total penghasilannya per bulan dari toko online-nya yang diberi nama Vita Shop itu. “Yang jelas lumayan lah. Itung-itung bantu suami cari duit,” katanya sambil tertawa.

Sehingga tak heran, kata Novi, ada ratusan ibu rumah tangga seperti dirinya yang menjalani bisnis online di Batam. Tak hanya ibu rumah tangga, karyawan bahkan PNS pun banyak yang nyambi membuka toko online seperti dirinya.

Selain didukung status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas sehingga harga sejumlah komoditi lebih murah, bisnis online di Batam juga lancar karena dukungan perusahaan jasa ekspedisi.

Hal ini dibenarkan Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra. Suburnya bisnis online di Batam tak lepas dari dukungan perusahaan penyelenggara logistik atau ekspedisi.

“Karena jasa pengiriman menjadi bagian yang sangat vital dalam bisnis online ini,” kata Gusti, Kamis (28/6/2018).

Sayangnya, Gusti mengaku pihaknya tidak memiliki data resmi terkait berapa jumlah pelaku bisnis online di Batam saat ini. Juga angka atau nilai transaksi harian dari bisnis online di Batam.

Namun yang jelas, kata dia, saat ini jumlah pelaku bisnis online di Batam sangat banyak. “Ini bisa dilihat dari nilai transaksi toko dan usaha konvensional yang terus turun. Semua karena beralih ke sistem online,” kata Gusti.

Bahkan Gusti menilai, Batam memiliki potensi yang besar untuk dijadikan pusat logistik bisnis online di Indonesia. Ini karena lokasi Batam yang sangat strategis. Selain berbatasan dengan Singapura dan Malaysia, Batam didukung segala infrastruktur yang memudahkan pengiriman barang ke seluruh Indonesia.

Wacana Batam menjadi pusat logistik regional ini juga pernah diutarakan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo. Menurut Lukita, dengan segala potensi dan infrastruktur yang ada, Batam juga sangat potensial menjadi pusat gudang bagi pelaku bisnis online di seluruh Indonesia.

Menguasai Pasar
Tingginya transaksi pelaku bisnis online di Batam ini bisa dilihat dari banyaknya barang kiriman ke luar Batam. Baik dari melalui pelabuhan maupun Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim Suwarso mengatakan, saat ini jumlah paket barang yang dikirim keluar Batam melalui terminal kargo Hang Nadim rata-rata mencapai 30 ton per hari. Ia memastikan, sebagian besar barang tersebut merupakan paket atau produk yang dibeli secara online oleh para konsumen di luar Batam.

“Kebanyakan berupa tas, sepatu, dan produk fashion lainnya,” kata Suwarso, Kamis (28/06/2018)

Dari rata-rata 30 ton kargo per hari itu, Suwarso menyebut sebagian besar merupakan barang kiriman milik Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE. Selebihnya merupakan milik perusahaan logistik lainnya.

“Saat ini ada sekitar 20 perusahaan ekspedisi yang ada. JNE yang terbesar,” kata Suwarso.

Menurut dia, jumlah pengiriman paket melalui terminal kargo Hang Nadim cenderung terus meningkat, terutama dalam dua tahun terakhir. Saking banyaknya, pernah beberapa kali terjadi penumpukan barang di terminal kargo Hang Nadim Batam.

Kondisi ini terjadi lantaran jumlah kiriman dengan kapasitas bagasi pesawat yang melayani penerbangan dari Batam tak seimbang. Jumlah barang kiriman lebih besar dari kapasitas pesawat yang tersedia.

Karenanya, sejumlah maskapai penerbangan melakukan upgrade kapasitas pesawat. Lion Air, misalnya. Maskapai tersebut sudah mengganti beberapa pesawat tipe Boeing 737 menjadi Boeing 747 seri 400 dengan kapasitas bagasi yang lebih luas. Selain Lion, ada beberapa maskapai lain yang juga melakukan hal yang sama.

“Sehingga tumpukan paket kiriman dari jasa ekspedisi bisa dikurangi, bahkan dihilangkan,” katanya.

Sementara Sales Retail PT JNE Cabang Batam Fachrizal Haqqi mengakui bisnis online di Batam tumbuh cukup pesat, terutama dalam dua tahun belakangan. Ini terlihat dari banyaknya paket kiriman berupa produk jualan yang dikirim melalui JNE.

“Terutama tahun 2017 lalu. Peningkatan kiriman paket sangat terasa,” kata Fachrizal, Kamis (28/06/2018).

Pria yang akrab disapa Fachri ini mengatakan, kebanyakan paket kiriman melalui JNE berupa produk fashion wanita dan pria. Seperti tas, sepatu, sandal, baju, dan lainnya. Namun saat ditanya berapa jumlah kiriman melalui JNE setiap harinya, Fachri mengaku tak memegang datanya.

“Bagian operasional yang tahu itu,” kata dia.

Fachri mengakui, bisnis online di Batam yang tumbuh subur ini turut berdampak positif bagi JNE. Secara bisnis, kata dia, JNE juga turut berkembang seiring tumbuhnya bisnis online di Batam.

Hal ini setidaknya bisa dilihat dari jumlah agen JNE di seluruh Batam. Fachri mencatat, saat ini ada 90 agen JNE yang tersebar di seluruh wilayah di Pulau Batam. Pesatnya pertumbuhan jumlah agen JNE ini, menurut Fachri, menunjukkan naiknya tingkat kepercayaan pelanggan terhadap JNE.

Disinggung soal strategi JNE menguasai pasar logistik dan ekspedisi di Batam, Fachri menyebut kuncinya ada pada kualitas pelayanan. Selain dijamin cepat, JNE menjamin keamanan paket kiriman milik konsumennya.

“Kalau soal harga itu relatif ya. Bahkan ada ekpedisi yang lebih mahal dari JNE,” kata dia.

Selain terus meng-update teknologi, pihaknya juga terus menambah SDM yang berkualitas guna mendukung perbaikan kualitas layanan kepada konsumen. “Dan tentunya menambah sarana, seperti armada angkutan, yang memadai,” kata Fachri. (Suparman)

Update