Kantor BP Batam.
foto: putut ariyo / batampos.co.id

batampos.co.id – Director Indonesia Investment Promotion Centre Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia untuk Singapura, Riki Kusmayadi, meminta agar Badan Pengusahaan (BP) Batam fokus menarik investasi dari negara Singapura dan Malaysia. Menurutnya, investor dari negara-negara tetangga tersebut punya minat besar berinvestasi di Batam. Namun sayangnya, peluang itu belum dimanfaatkan optimal oleh Batam.

“Strategi pengembangan investasi Batam ke depan bisa difokuskan ke Singapura dan Malaysia. Karena dari laporan yang kami dapat, minat investor asal dua negara ini sangat tinggi untuk berinvestasi di Batam,” kata Riki di Grand I Hotel saat Diskusi Ekonomi dengan BP Batam, Rabu (4/7).

Riki mengatakan, pihak kedubes selalu menerima kunjungan investor. Dan pertanyaan paling umum yang mereka tanyakan adalah seputar kemudahan berinvestasi di Batam.

“Begitu juga ketika kami pergi ke Malaysia, pertanyaan yang sama juga muncul,” ungkapnya.

Batam, kata Riki, memang masih menjadi primadona bagi investor terdekat.

“Penyebabnya bisa dilihat baik secara ekonomis maupun geografis tentu akan dilihat dulu lokasi di Indonesia paling terdekat yakni di Batam,” ungkapnya lagi.

Makanya, dia sangat berharap BP Batam lebih gencar melakukan promosi investasi ke Singapura dan Malaysia. Hubungan baik antara Indonesia dan kedua negara tersebut akan semakin erat karena jalinan modal investasi.

Berdasarkan data yang dihimpun Kedubes Indonesia di Singapura, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia. Realisasi investasi di Singapura pada triwulan pertama 2018 mencapai 2.648 juta dolar Amerika. Sedangkan total investasi dari 2011 hingga kuartal pertama 2018 mencapai 44.005 juta dolar Amerika.

Investasi terbesar Singapura di Indonesia adalah di bidang properti. Terutama di bidang perumahan, kawasan industri, dan bangunan perkantoran.

“Terbagi dalam 126 proyek dengan total investasi 1.139,81 juta dolar Amerika,” katanya.

Investasi properti ini dilakukan oleh pengusaha-pengusaha lawas dari Singapura. Peluang ini bisa diambil oleh Batam melihat besarnya investasi sektor properti Singapura di Indonesia.

“Batam bisa menawarkan peluang-peluang investasi properti kepada investor Singapura yang sudah cukup berpengalaman di Indonesia,” jelasnya.

Potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk dikembangan secara kerjasama dengan kawasan-kawasan industri maupun real estate di Batam.

Pada kuartal pertama 2018, investasi Singapura lebih banyak diarahkan ke Jakarta, dengan total investasi 748,61 juta dolar AS. Riau dengan potensi investasi di sektor kelapa sawit menduduki peringkat kedua, dengan total investasi 443,9 juta dolar AS.

Sementara Kepri hanya menduduki peringkat 10 investasi Singapura di Indonesia dengan total investasi mencapai 58,7 juta dolar AS. Sementara lebih jauh lagi, investasi Singapura di Batam pada kuartal pertama 2018 hanya 9,336 juta dolar AS.

Nilainya masih sangat kecil dan ini harus menjadi konsentrasi dari BP Batam untuk semakin meningkatkannya. Karena berdasarkan data, investasi Singapura di Batam juga mengalami penurunan di tahun 2017 silam. Dari sekitar 256.955.800 dolar AS di tahun 2016, menjadi 175.557.300 dolar AS di tahun 2017. Sekitar 82 persen investasi Singapura di Batam ditanam di sektor manufaktur.

Saat ini sektor industri di Singapura telah bertransformasi menjadi industri manufaktur berteknologi tinggi. Dan tentu saja transformasi tersebut mengandalkan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten dibandingkan dengan kuantitas tenaga kerja.

Pariwisata, kata Riki, dapat menjadi sektor unggulan lainnya untuk mendatangkan investor dari Singapura dan Malaysia.

“Batam memiliki lokasi yang indah, namun sudah lama infrastrukturnya ketinggalan. Padahal Batam bisa menjadi Bali yang baru,” ungkapnya.

Pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat cukup baik dari tahun ke tahun. Pemerintah Singapura melalui Singapore Tourism Board juga turut membantu peningkatan kunjungan turis melalui paket-paket perjalanan ke Batam, Bintan, dan Karimun.

“Ini hasil kerja sama antara Indonesia dan Singapura yang terus digenjot,” paparnya.

Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri Gusti Raizal Eka Putra, Kadin Batam dan peleku usaha memberikan keterangan usai acara membedah dan menyikapi pertumbuhan ekonomi Batam triwulan I 2018 di Grand I Hotel Nagoya, rabu (4/7). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Sedangkan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan pihaknya memang sudah merencanakan akan mengoptimalkan peran negara terdekat dalam mendongkrak investasi di Batam.

“Singapura dan Malaysia, sebagai dua negara terdekat dengan Batam secara regional dan teritorial sangat berpotensi tambah investasi di Batam,” jelasnya.

Strategi yang akan dilakukan sudah dimulai sejak awal seiring dengan upaya pemerintah pusat yang berupaya menyederhanakan perizinan.

“Apa yang dilakukan BP Batam sudah seiring dengan pemerintah pusat. Dalam hal ini penerapan fungsi dari One Stop Service, I23J, dan sebentar lagi Online Single Submission (OSS) akan diluncurkan dalam waktu dekat. Mudah-mudahan akan menarik minat mereka,” jelasnya lagi.

Ia mengatakan, sudah saatnya BP Batam lebih baik fokus ke negara terdekat daripada mengincar negara yang jauh. “Singapura dan Malaysia akan kami optimalkan,” pungkasnya. (leo)