Sebuah lubang menganga akibat jalanya ambles di Komplek Batam Center Square, Rabu (27/6/2018).
F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam menurunkan tim Satuan Petugas (Satgas) untuk mengawasi proyek penanaman pipa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bengkong Sadai.

Hal ini terjadi menyusul banyaknya keluhan masyarakat terkait proyek tersebut yang dianggap mengganggu kenyamanan.

“Pengawasan BP dilakukan lewat tim Satgas yang bertugas mengawasi proyeknya,” kata Deputi IV BP Batam Eko Budi Soepriyanto di Gedung BP Batam baru-baru ini.

Satgas ini akan mengawasi 23 titik pemasangan pipa IPAL.”Namun pengawasan tak bisa lekat terus. Masyarakat juga bantu berikan kami informasi,” jelasnya.

SebelumnyaBP sudah banyak memutus kontrak subkon yang mengerjakan proyek IPAL ini.

“Ini merupakan pekerjaan spesialis. Bukan hanya gali dan tutup lubang saja. Ini juga terkait elevasi. Dan untuk Batam, ini baru pertama kali dilakukan,” ujarnya.

Meskipun banyak mendapat komplain, Eko mengatakan pihaknya tetap akan menggunakan jasa subkon lokal. Subkon lokal sebelumnya yakni PT Global Batam Jaya dianggap gagal sehingga kontraknya diakhiri.

“Subkon itu harus dari lokal. Kita akan berikan kesempatan ke subkon lokal untuk dapatkan pekerjaan ini,” jelasnya.

Persoalan mengenai proyek pipa IPAL ini memang mengemuka di tengah masyarakat. Banyak yang menganggap subkon yang bertanggungjawab mengerjakan tugasnya secara asal-asalan.

Contohnya adalah jalan di depan Hotel Harmoni One yang belum diperbaiki hingga sekarang.

Pantauan Batam Pos, jalan tersebut masih hanya ditutup plat besi. Dan masih banyak bagian yang dibiarkan berlumpur sehingga mengganggu kenyamanan masyarakat.

Sedangkan di Bengkong Sadai, bagian tubuh jalan yang ditanami pipa memang telah diaspal.

Namun sepertinya dikerjakan tidak dengan optimal. Karena bagian jalan tersebut malah saat ini bergelombang.

Sedangkan Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Kepri Supriyanto mengatakan praktek keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja (K3) seharusnya menjadi aspek utama dari proyek penanaman IPAL ini.

“Masyarakat dirugikan. Karena kalau ada banjir, karena lumpurnya kemana-mana,” jelasnya.

Penerapan K3 sangat penting untuk menjamin keselamatan agar tidak ada pengguna jalan yang dirugikan.

“Subkon yang mengerjakan itu harus mengerti K3. Jangan hanya menggali suka-suka saja,”paparnya.

Untuk itu, ia berharap agar ada tim pemantau yang bertugas mengawasi pekerjaan subkon.

“Harus ada tim pemantau,” pungkasnya.(leo)