Orangtua siswa antre saat mendaftarkan anaknya saat pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMPN 42 Batam, Rabu (4/7). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Dinas Pendidikan Kota Batam sudah menyelesaikan proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) 5 Juli lalu. Berasarkan seleksi nilai masing-masing sekolah telah mendapatkan siswa yang akan menempati kuota yang mereka sediakan.

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pendidikan Batam, hendri Arulan mengakui tidak semua pendaftar tertampung di sekolah negeri. Dari data kelulusan tahun ini untuk tingkat TK yang lulus mencapai 252 ribu anak, sedangkan yang lulus sekolah dasar (SD) negeri hanya 15 ribu siswa. Hal ini juga berdampak di penerimaan siswa di tingkat SMPN yang daya tampungnya hanya 11 ribu.

“Solusinya tetap ke swasta. mau tidak mau,” tegasnya.

Mengenai penambahan rombongan belajar, pihaknya belum ada rencana. Sebab kuota sudah disesuaikan dengan kemampuan sekolah.

“Kalaupun ada tentu kami lapor kepada pimpinan terlebih dahulu. Tidak bisa ambil keputusan sendiri karena ini menyangkut kepentingan masyarakat,” lanjutnya.

Ia melanjutkan, permasalahan penambahan rombel ini tentu juga akan berdampak terhadap kebutuhan guru yang ada di masing-masing sekolah.

“Kalau kami paksakan nanti tidak efektif proses belajar mereka,” ujarnya.

Saat ini SD diisi 36 siswa dan SMP 32 siswa. Jumlah ini sudah maksimal untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar.

Berkaca dari tahun lalu satu kelas banyak sekolah yang memaksakan hingga 45 siswa. Jumlah ini sangat tidak efektif sehingga siswa tidak bisa menyerap ilmu dengan baik.

“Semua aspek harus diperhatikan sebelum menambah rombel,”sebutnya.

Kepala SDN 005 Sekupang, Sri Ningsih mengakui hingga saat ini belum ada informasi penambahan rombel di sekolah yang dikepalainya tersebut.

“Kami bekerja sesuai juknis saja. Ini saja sudah lebih dari 100 orang yang tersisih proses seleksi PPDB,” kata dia.

Setiap tahunnya sekolah memang selalu menghadapi kondisi seperti ini. Orangtua yang kecewa anaknya tak diterima pasti ada. Hanya saja bagaimana pihak sekolah meluruskan hal ini kepada mereka.

“Pasti mereka mengerti karena kita tak bisa memaksakan semua dengan kondisi saat ini,” tambahnya.(yui)