Sejumlah karyawan sedang mengerjakan pembuatan HP xiaomi di PT Sat Nusapersada. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan. Kondisi tersebut berdampak pada industri yang bahan bakunya berasal dari luar negeri atau impor.

Salah satunya PT Sat Nusapersada, perusahaan perakitan Xiaomi di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Penjualan produk smartphone tersebut mengalami penurunan di kisaran 5-10 persen.

Presiden Direktur PT Sat Nusapersada Abidin Hasibuan mengatakan, sebagian bahan baku produk smartphone Xiaomi yang masih impor memang menjadi tantangan tersendiri. Terutama ketika terjadi pelemahan nilai tukar rupiah. Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk smartphone yang sudah mencapai 30 persen tidak begitu menekan biaya produksi.

“Pelemahan rupiah disebabkan banyak hal. Karena ekonomi tidak stabil dan kenaikan suku bunga (The Fed). Ini tentu berpengaruh. Daya beli masyarakat menurun. Apalagi industri kami bahan bakunya impor semua,” kata Abidin, Jumat (6/7).

Pemerintah harus mengambil sikap dengan berupaya tidak hanya menjaga stabilitas. Tetapi juga membuat terobosan. Sehingga rupiah kembali menguat. Menjaga stabilitas ekonomi dan menciptakan iklim investasi dengan aturan yang konsisten agar menarik investor.

Jika tidak segera ditangani, melemahnya daya beli masyarakat tentu akan semakin mengkhawatirkan. Akan semakin mempengaruhi gerak industri yang pada awal 2018 mengalami tren positif.

Pada awal 2018, Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Pemimpin teknologi global, Xiaomi menyelenggarakan Supplier Investment Summit (SIS). Kegiatan ini membuka peluang hadirnya investasi senilai $ 315 juta dan menyediakan 10.000 lapangan kerja.

Dalam prosesnya, sudah ada beberapa perusahaan asal Tiongkok yang telah melakukan pembicaraan lebih jauh. Mereka pun berencana mendirikan pabriknya di Batam.

(bbi/JPC)