Becak motor melintas di jalan tanah yang berlumpur menuju Perumahan Bagaman, Tanjunguncang, Batuaji, Sabtu (7/7). Jalan ini sudah ebrtahun-tahun tidak diaspal-aspal. Warga kesusahan bila melintas jalan ini. Bila hujan banjir, becek,berlumpur dan bila kemarau berdebu. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Jalan masuk menuju perumahan Sumberindo, Bagaman, Center Park, Marina Green, Marina Garden dan Glori Cahaya Permai di kelurahan Tanjunguncang, Batuaji sunggu memprihatinkan. Selama musim hujan ini jalan yang belum tersentuh semenisasi bagaikan kubangan. Becek dan lumpur benar-benar merepotkan warga dari enam perumahan itu.

Warga tak punya pilihan lain sebab jalan yang baru berupa ratahan tanah itu satu-satunya akses keluar masuk ke perumahan mereka. “Beginilah kondisinya setiap hujan (becek dan berlumpur). Kalau panas berdebuh,” ujar Risna, warga Perumahan Bagaman, Minggu (8/7).

Kepada Batam Pos, Risna menuturkan kondisi jalan yang tak nyaman itu sudah lama berlangsung, namun hingga saat ini belum ada perbaikan ataupun semenisasi. “Tahun 2014 pindah ke sini memang sudah seperti ini. Sampai sekarang tak berubah-ubah. Jadi tak nyaman,” ujarnya.

Jika musim panas, akses jalan masuk itu berubah jadi lautan debuh. Debuh yang diterbangkan oleh lalu lalang kendaraan masuk sampai ke rumah-rumah warga. Situasi jalan yang masih berupa ratahan tanah itu benar-benar tak memberikan pilihan kepada warga di sana. Setiap hari harus berhadapan dengan persoalan yang sama yakni jika tak becek dan berlumpur tentunya berdebuh.

Arnold, toko masyarakat setempat mengaku sudah menyampaikan persoalan itu ke instansi pemerintah mulai dari tingkat kelurahan sampai Pemko Batam, namun belum ada tanggapan sama sekali.

Semenisasi jalan lingkungan yang diharapkan dari program Percepatan Infrastruktur Kelurahan (PIK) juga ada hasil. Padahal setiap kali musrembang masyarakat di sana selalu mengusulkan semeninasi jalan tersebut. “Sudah sering kami usulkan ke musrembang, tapi itu tadi belum ada tindakan apapun,” ujar Arnold.

Situasi jalan yang tak nyaman itu membuat masyarakat di sana merasa dianak tirikan oleh Pemko Batam. Meskipun masih berada di dalam kota yang sama namun perhatian pemko Batam ke wilayah Tanjunguncang umumnya masih minim. “Mungkin kami di wilayah pinggiran jadi tak perlu diperhatikan. Kami juga bayar pajak pak. Kami warga Batam juga,” keluh Arnold.

Siti, warga lainnya menambahkan beberapa waktu lalu, Lurah Tanjunguncang juga sudah turun ke lokasi tersebut saat sedang banjir besar. Menurut Siti, lurah berjanji akan memperbaikinya. Namun hingga saat ini tidak juga terealisasi. “Katanya mau dibouksit dulu. Tapi sampai sekarang mana ada. Masih rusak seperti dulu,” kesalnya. (eja)