Iklan
Sejumlah turis mancanegara saat menikmati suasana Dataran Engku Putri Batamcenter, Minggu (11/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan memukul sejumlah sektor industri dan perekonomian di Batam dan Kepri. Namun di sisi lain, situasi ini bisa menjadi berkah tersendiri bagi industri pariwisata dan usah yang berorientasi ekspor.

Showroom Jati Mulya and Lighting di KDA Junction Blok E Nomor 07-09, Batam Center, sudah buka sejak pukul 09.00 WIB, Sabtu (7/7) lalu. Seorang karyawannya menyambut setiap pengunjung yang datang. Di dekat pintu masuk terpajang foto-foto para konsumen toko furniture spesialis jati dan rotan itu. Beberapa di antaranya orang bule dan lainnya sejumlah hotel dan resort di Batam.

Sementara di dalam showroom dipamerkan beragam furniture, hiasa dinding, dan aneka lampu hias. Semuanya terbuat dari kayu jati dan warna yang nyaris sama. Cokelat muda. Khusus furniture tersedia mulai dari kursi, sofa, bale-bale, rak, hingga bufet. Semua produk itu berbahan lokal. Harganya mulai Rp 3 jutaan sampai puluhan juta rupiah.

Sementara itu, si pemilik Jati Mulya and Lighting, Sari Dwi Mulyawaty, sedang berada di Jepara, Jawa Tengah. Pusat pembuatan produk Jati Mulya and Lighting memang di Jepara. Di sana, selama beberapa hari, wanita yang biasa disapa Sari ini sedang menyiapkan orderan dari Hotel Radisson Batam.

“Selain (Hotel) Radisson, kita juga dapat order dari Montigo, Turi Beach. Hampir semua hotel dan resort berbintang empat di Batam kita yang handel,” ungkap Sari yang juga pemilik Tesko Interior ini kepada Batam Pos.

Peraih Al Ahmadi Award bidang jasa dan industri kategori UMKM 2016 ini mengatakan, selain untuk pasar lokal, produknya juga berorienetasi ekspor. Sejak beberapa tahun lalu, Jati Mulya and Lighting sudah mengekspor berbagai furniture ke Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Hanya saja, dua tahun belakangan ini pasar ekspor sedang lesu sehingga menggerus porsi ekspor Jati Mulya and Lighting. Sebelum perekenomian global lesu, ia bisa mengekspor produk furniter sebanyak 20-40 kontainer dalam satu tahun. Namun dua tahun terakhir rata-rata hanya 10 kontainer per tahun.

“Kalau dulu bisa 40-60 persen dari omset, sekarang rata-rata hanya 20 persen. Ini efek dari penurunan harga minyak dunia,” kata Sari.

Saat ini, lanjutnya, pasar lokal lebih dominan. Daya jual lebih besar sebab banyak hotel dan resort yang baru buka di Batam. Mereka menjadi konsumen Jati Mulya and Lighting. Namun demikian, Sari terus mencari peluang untuk menggenjot ekspor. Ia terus menawarkan produknya kepada pembeli dari luar negeri.

“Tetapi secara umum pasar juga lagi lesu, “ujarnya.

Lalu bagaimana ketika terjadi penguatan dolar AS terhadap rupiah? Sari mengungkapkan sejauh ini ia belum merasakan dampak yang besar. Meski produknya menggunakan bahan baku lokal dan sebagian tujuan ekspor, pembeli tetap bertransaksi dalam mata uang rupiah. Mengikuti kebijakan pemerintah. Ia hanya memperkirakan jika dolar AS menguat, pembelian dari luar bisa meningkat.

Bagir Abunumay, pemilik toko ponsel dan elektronik Batam Gadget menyebutkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, pastinya berdampak pada sejumlah barang impor. Akan ada kenaikan harga. Tapi itu tak berlaku untuk ponsel, karena kenaikan harga alat telekomunikasi ini hanya tergantung pada kurs dolar Singapura.

Turis Singapura mengunjungi Pulau Ranoh, Kelurahan Pulau Abang, Galang, Minggu (29/4). Tempat wisata pasir putih ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan luar dan lokal.F Dalil Harahap/Batam Pos

“Di Batam ini kan, apa-apa kita pakai rate Sing dolar. Jadi kalau USD yang naik, nggak pengaruhlah untuk penjualan ponsel. Tapi kalau Sing yang naik, meski kenaikan pada poin Rp 100 pun, harga ponsel pasti naik. Batam ini memang unik,” ujar pedagang ponsel ini di Nagoya, Kamis (5/7) malam lalu.

Ia melanjutkan, meski pemerintah membuat kebijakan transaksi satu kurs menggunakan Rupiah, warga Batam juga menggunakan mata uang dolar Singapura sebagai mata uang keduanya. Tak heran, beberapa jenis usaha menyesuaikan kurs untuk penetapan harga.

“Seperti sewa kos di Kampung Utama, sewa ruko, dan juga beli handpone, kita ratenya menyesuaikan mata uang dolar Singapura, bukan dolar Amerika. Seperti sekarang, saya cek kurs dolar Singapura masih stabil, jadi pasti nggak ada pengaruhlah,” ungkap Bagir.

Dia pun melihat kenaikan kurs dolar AS, belum memengaruhi transaksi penjualan ponsel dan alat elektronik di pusat penjualan Lucky Plaza. Masih berjalan seperti biasa. Tidak ada penurunan daya beli masyarakat. Beberapa konter, masih dipenuhi para konsumen.

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan sepanjang pekan lalu. Berdasarkan informasi kurs Moneter Bank Indonesia per Jumat (6/7) lalu, nilai tukar per 1 dolar AS berada pada poin Rp 14.481 kurs jual, dan Rp 14.337 untuk kurs beli.

Ketua Kadin Batam Jadi Rajagukguk mengatakan pelemahan rupiah ini bukan hanya terjadi secara regional, melainkan secara nasional. Beberapa sektor ada yang bakal diuntungkan dan ada yang dirugikan.

“Kalau yang merugi itu biasanya kontraktor atau pengusaha properti. Di Batam, para kontraktor ini sebagian besar bahan bakunya impor. Ya besar kemungkinan harga properti pasti naik, menyesuaikan. Fluktuatif-lah,” ujar Jadi.

Sementara salah satu sektor yang resist dan cenderung diuntungkan terhadap pelemahan nilai rupiah ini adalah pariwisata.

“Sektor pariwisata dan sektor khusus pendukungnya akan diuntungkan. Value of money bertambah. Batam harus segera memanfaatkan situasi ini,” ungkapnya.

Hanya saja, Batam saat ini harus semakin jeli memanfaatkan potensi kunjungan dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia kalau mau pendapatan perekonomiannya meningkat.

“Sembari membangun infrastruktur, kalau pemerintah dananya terbatas untuk mengembangkan wisata, segera libatkan sektor private, swasta,” jelas Jadi.

Menurutnya, Batam saat ini tidak mempunyai lokasi wisata mumpuni. Masih sebatas kategori tempat rekreasi. Karenanya, pemerintah perlu bersinergi membangun kawasan wisata, atau memoles tempat-tempat yang sudah ada menjadi layak kunjung bagi dunia internasional.

Ia mencontohkan Singapura. Negara kota itu sebenarnya sangat minim
objek wisata. Hanya saja pemerintahannya bekerjasama dengan sektor swasta membangun lokasi-lokasi wisata kelas dunia.

Sejumlah turis asal Singapura asyik berfoto dengan latar belakang welcome to Batam. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

“Semuanya design by human made. Tapi maju kan? karena apa, karena mereka bersinergi. Kita butuh itu di Batam,” ungkapnya.

Batam, kata Jadi, bisa mengembangkan wisata air, sport tourism. Manfaatkan keterbatasan lahan di Malaysia dan Singapura. “Para pelaku usaha berpikir simpel saja, tapi pemerintah harus mendukung,” lanjut Jadi.

Dalam hal lain, untuk semakin menguatkan Batam kala terjadi pelemahan rupiah seperti ini, Jadi juga mengungkapkan perlunya diterapkan peraturan multicurrency. “Pemerintah perbolehkan saja transaksi menggunakan mata uang asing untun bidang tertentu seperti ekspor-impor, dan industri. Tapi tetap, tidak untuk transaksi umum. Dengan begitu kan, tidak dipusingkan dengan fluktuasi kurs,” jelasnya.

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Lukita Dinarsyah Tuwo juga menyebutkan bahwa sektor pariwisata diuntungkan jika terjadi penguatan dolar AS. Menurut dia, di mata turis penguatan dolar AS atau pelemahan rupiah memberikan keuntungan bagi mereka. Sebab ketika datang membawa dolar AS, mereka mendapatkan harga-harga yang relatif murah.

“Dalam situasi menurunnya nilai rupiah, ya pariwisata di Batam ini sangat diuntungkan,” tegas Lukita.

Karena itu, Lukita menyebutkan, Batam harus jeli melihat potensi ini. Mengingat, Batam posisinya sangat strategis dengan bertentangga dua negara seperti Malaysia dan Singapura yang kunjungan wisatanya selalu tinggi setiap tahun.

“Kita perlu membenahi berbagai bidang yang berhubungan dengan pariwisata. Untuk BP sendiri, tahun ini kita bekerja sama dengan BI untuk meluncurkan program KUR khusus untuk UKM pariwisata.” jelasnya.

Kata Lukita lagi, melihat situasi secara nasional, dimana adanya tekanan terhadap rupiah dan ekonomi global belum stabil, serta perang dagang antara negara besar, pasti akan berdampak pada Batam. Hal ini harus diwaspdai jika berlarut-larut. Tetapi juga menjadi peluang yang sangat besar bagi Batam untuk memberikan konstribusi pada perekenomian nasional. Sebab sebagian besar industri di Batam ditujukan untuk pasar ekspor. Jadi ia mendorong peningkatan ekspor.

“Kalau yang sumber dayanya lokal, kemudian dijual ke luar (ekspor) akan mendapatkan manfaat yang besar,” kata Lukita.

Namun akan yang berat jika sumber inputnya adalah impor. Menurut Lukita, karena harganya lebih mahal, sementara akan dijual di pasar lokal tentu akan terkena dampak yang besar. Sementara, bila sumber dayanya impor, kemudian diekspor, harus melihat porsinya. Lukita pun menegaskan bahwa porsinya relatif seimbang.

“Kira-kira gambarannya ke sana. Makanya kalau tadi kita bilang ini pariwisata salah satu potensi dalam situasi (Rupiah) yang sedang melemah. Itulah sebabnya pemerintah secara nasional akan menggenjot pariwisata. Termasuk meluncurkan KUR untuk pariwisata,” katanya.

***

Turis dari Negara Korea berjalan di kawasan Batam Centre | Dalil Harahap/Batam Pos

Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengatakan jika melihat struktur ekonomi di Batam dampak penguatan dolar AS terhadap rupiah itu tergantung kepada sektornya. Menurutnya sektor yang paling terkena dampaknya adalah industri yang memiliki konten impor yang sangat besar.

“Itu menjadi PR kita ke depan. Harus ada strategi yang dikembangkan untuk mendorong nilai tambah hasil produksi di Batam dengan memanfaatkan bahan baku lokal,” ujar Gusti di Grand i Hotel Nagoya, Rabu (4/7) lalu.

Gusti menambahkan situsasi moneter yang kurang kondusif saat ini bukan saja masalah di Batam tetapi juga masalah nasional. Karena itu BI saat ini bersifat mendorong untuk menjaga stabilitas dalam jangka pendek. Ia pun mengharapkan gelombang ini segera mereda. Tetapi ia juga mengingatkan agar bersiap-siap, sebab defisit transaksi berjalan (ekpsor-impor) ini bukan terjadi pada tahun ini.

“Sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan kita sedikit terlambat mereformasi struktur ekspor-impor. Pemerintah pun melakukan banyak hal dengan mensyaratkan bahan-bahan tambang itu diproses di smelter. Namun membangun smelter itu juga tidak mudah. Tidak bisa sehari-dua hari. Perlu waktu,” paparnya.

Sejauh ini, katanya, semua rencana yang diterapkan pemerintah treknya sudah benar. Batam sebagai bagian dari pada regional tentu mendukung ekonomi nasional, jadi juga ikut mendorong ekspor. Karena jika dibandingkan negara-negara di Asean Five, Indonesia sedikit mengalami defisit.

“Singapura dan Malaysia, mereka surplus sehingga pelemahan mata uangnya tidak signifikan jika dilihat beberapa tahun terakhir,” jelasnya. (cha/uma/leo/aya)

Advertisement
loading...