Orangtua siswa antri saat akan melakukan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) sistem zonasi di kota Batam menyisakan sederet kisah sedih.

Memilukan.

Mari jalan ke Batuaji. Dikawan padat penduduk ini ada ratusan anak yang akan masuk SMA yang terancam putus sekolah sebab tidak ada lagi SMAN yang menampungnya. Ups…

Di sana hanya da SMAN 23. Inilah satu-satunya sekolah negeri.

Fatalnya tahun ini baru memasuki tahun ajaran pertama. Lebih fatal sekolah ini belum memiliki gedung.

Pelajar akan numpang belajar di gedung SMAN 5 Batam. Meski demikian kondisinya, yang mendaftar lebih dari kuota yang ada.

Sekolah baru ini menerima 108 siswa saja.

Panitia PPDB SMAN 23 Bahtiar mengakui fenomena ini. “Ya karena inilah satu-satunya SMAN yang murni masuk zonasi Batuaji. Memang tidak seimbang tapi mau gimana lagi kami hanya pelaksana saja.”

Jumlah daya tampung tersebut sangat tidak seimbang dengan jumlah anak yang akan masuk SMA.

Adalah Ridwan, Camat Batuajihanya mengelus dada, “Itulah persoalan yang dihadapi masyarakat di sini. Kami hanya bisa menerima keluhan saja sebab kami bukan pemangku kebijakan. Kami hanya bisa menyuarakan ke Dinas terkait.”.

Kala pengumuman tiba, tak sedikit orangtua kelimpungan. Tak tahu harus sekolah dimana anak mereka.

Ada kisah unik pada PPDB di SMAN 23.

“Sudah keliling semua SMAN yang ada di Batuaji dan Sagulung tapi belum ada hasil. Anak saya kemarin daftar di SMAN 23 tapi tak lolos. Padahal sudah beli seragamnya. Bingung sekarang mau sekolah dimana lagi anak saya ini,” ujar Rudi, warga Buliang, Batuaji.

Rudi dan sejumlah warga lainnya mengaku tak mampu menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta sebab biaya sekolah lebih mahal. (eja)

Advertisement
loading...