Nama Lalu Muhammad Zohri sedang viral. Itu setelah sprinter muda asal Lombok Utara itu mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia. Sebelum meraih gelar itu, Zohri punya perjalanan panjang. Berikut kisahnya.

Tampil di pentas dunia menjadi mimpi besar atlet Indonesia dari cabang olahraga manapun. Termasuk bagi Lalu Muhammad (LM) Zohri, sprinter muda Indonesia yang menghebohkan dunia atletik dunia dan Tanah Air. Ya, dia menjadi sprinter pertama Indonesia yang mencicipi gelar juara dunia, di Kejuaraan Dunia U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia, Kamis (12/7) dini hari WIB.

Berita tentang prestasi LM Zohri di kejuaraan dunia U-20 di Finlandia terus bedatangan.

Koran ini, langsung menelusuri keberadaan keluarga sprinter yang kini viral. Tepatnya di Dusun Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Salah satu warga di dusun itu rela mengantarkan ke rumahnya. ”Ini rumahnya,” tunjuk dia.

Rumah yang hanya berdinding kayu itu hanya dijaga karib Zohri, Zuliadi. Teman semasa kecil Zohri itu mengambil kunci rumah sepeninggalan almarhum oran tuanya. ”Rumah ini saya yang menjaganya. Kakak Zohri sibuk kerja di Gili Trawangan. Kalau Zohri pulang, istirahatnya di sini,” kata Zuliadi.

Rumah yang memiliki panjang 7×4 meter itu hanya disangga kayu balok. Ruang tamu dan ruang tidur hanya disekat papan.

Di kamar tamu hanya tersisa beberapa perabotan dapur mendiang ibunya, Saeriah. Perabotan itu ditutup menggunakan kardus.

Di kamar tidur, beberapa alat pertanian milik almarhum ayahnya, Lalu Ahmad, tersimpan rapi di bawah dipan kasurnya yang telah lapuk.

Tempat tidurnya, tak ada kasur empuk. Dipan itu hanya beralaskan tikar lusuh dan selimut.

Dinding kamar yang terbuat dari bedek ditempeli koran-koran bekas. Alas dan sekat lemari patah.

Kendati hidup serba kekurangan, Zohri tak pernah mengeluh. Bahkan, dia merasa nyaman dengan tempat tidur yang sederhana itu. “Dulu, kalau dia (Zohri, red) malas sekolah selalu dicari gurunya. Kalau dicari pasti dia sedang tidur di tempat tidur ini,” bebernya.

Zohri memang hidup dengan keterbatasan. Kakak pertamanya, Fadilah, rela bekerja keras untuk menyekolahkan Zohri. ”Saya dan adik nomor dua, bertekad untuk terus menyekolahkan Zohri,” kata Fadilah.

Semasa sekolah, Zohri sangat pemalas. Dia sangat sulit bangun pagi. ”Tiap pagi, saya selalu capek membangunkannya. Kalau tidak ada uang saku, dia tidak ingin sekolah,” ujarnya.

Sehingga, beberapa kali dia harus dicari gurunya ke rumah. Namun, setiap gurunya ke rumah, pasti Zohri ditemukan dalam keadaan tidur.

“Di sinilah, dia tidur kalau dicari sama gurunya,” kata Fadilah sambil merapikan dipan.

Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat menyedihkan bagi anak bungsu dari empat bersaudara itu. Ibunda tercintanya, Saeriah meniggal dunia karena penyakit tipes. ”Saya diberikan tanggung jawab sama almarhumah Ibu untuk menjaga dan menyekolahkan Zohri,” ujarnya.

Setelah ibunya meninggal, pria yang karib dengan panggilan “Badok” itu mulai berubah. Tiap azan subuh dia bangun sendiri. ”Saya tidak lelah lagi membangunkannya. Sekolahnya lebih rajin juga,” kata dia.

Sebelum ayahnya meninggal pada 2016, guru olahraganya di SMP 1 Pemenang, Rosida, pernah datang ke rumahnya. Dia meminta izin kepada bapaknya untuk mendorong Zohri untuk ikut olahraga atletik. ”Kalau dulu, Zohri ini hobinya bermain bola. Namun, setelah mendengar ceramah almarhum bapak, dia ingin terjun mengikuti olahraga atletik,” ujarnya.

Setiap selesai salat subuh, dia selalu menyempatkan diri untuk berlari ke bangsal. Larinya pun tanpa menggunakan sepatu. ”Setelah lari baru dia mandi dan berangkat ke sekolah,” ingatnya.

Dari situ, Fadilah melihat, semangat Zohri untuk menekuni olahraga atletik. Setiap hari, kerjaannya hanya berlari. ”Sebelum dan sepulang sekolah dia berlari tanpa menggunakan sepatu,” ungkapnya.

Pada 2016, Zohri meminta izin untuk mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar tingkat kabupaten/kota di Mataram. Sebelum mengikuti kejuaraan, dia meminta uang ke Fadilah untuk membeli sepatu.

Sayangnya, saat itu, kakaknya tidak memiliki cukup uang untuk membelikannya sepatu. ”Dia minta waktu itu Rp 400 ribu. Tapi, satu sen pun uang saya saat itu tidak ada,” ujarnya.

Syukurnya, guru olahraganya, Rosida yang memberikannya sepatu untuk mengikuti kejuaraan itu.

”Ibu Rosida memiliki jasa yang besar terhadap Zohri,” kata dia.

Dia mendengar kabar, kalau Zohri meraih juara satu di kejuaraan itu. Lalu, dia diminta untuk masuk ke Pemusatan dan Latihan Pelajar (PPLP) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tapi, ayahnya sempat menolak. Karena, tidak ada yang menemaninya di rumah. ”Kalau menjadi atlet PPLP itu kan harus tinggal di asrama. Nah, ayah saya tidak setuju,” ujarnya.

Lagi-lagi, guru olahraganya Rosida datang ke rumah. Dia meyakinkan ayahnya supaya Zohri diizinkan ke PPLP. ”Saya tidak tahu bahasanya Ibu Rosida sehingga ayah saya melunak dan mengizinkan Zohri ke PPLP,” ceritanya.

Zohri pun masuk PPLP pada pertengahan 2016. Dia mendengar, kalau Zohri mendapatkan medali perak di kejuaraan nasional atletik antar PPLP. ”Saya dan ayah, bangga sekali mendengarnya,” ujarnya.

Pada akhir 2016, ayahnya yang terkena sakit sesak napas meninggal. Dia dan Zohri merasa terpukul melihat ayahnya yang terbaring di dipan yang lusuh itu. ”Saya ingat di dipan ini ayahnya saya meninggal. Di sini kedua orang tua saya menghabiskan waktunya bersama,” kata Fadilah sambil mengusap air matanya.

Meskipun sederhana, namun rumah reot ini sangat bersejarah bagi Zohri. ”Dari sini Zohri dibesarkan dan kini bisa menjadi juara dunia. Itu sangat membanggakan,” kenang Fadilah yang terus menangis.

”Saat ini, ayah dan ibu pasti tersenyum melihat anaknya yang sudah menjadi juara dunia,” kata dia dengan terbata-bata.

Semenjak kematian ayahnya, karir Zohri terus melesat di dunia atletik. Di tiap kejuaraan nasional (kejurnas) atletik tingkat pelajar Zohri selalu menyumbangkan emas untuk NTB.

Kerja keras yang dilakukan Zohri terus membuahkan hasil. Dia pernah menyumbangkan dua medali emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017 di Jawa Tengah.

Di Popnas, Zohri mencatatkan waktu 10,29 detik. Dia mengalahkan pesaing terberatnya di nomor lari 100 meter Izrak asal Gorontalo Izrak Hajulu yang mencatatkan waktu 10,32 detik.

Catatan waktu yang direngkuh Zohri membuat tim talent scoating dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) kepincut membawanya ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

Sejak saat itu, torehan medali emas tetap dia persembahkan untuk Indonesia di ajang internasional. Mulai dari ajang Asian School Games, Tes Event Asian Games, dan puncaknya di kejuaraan dunia Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia, Kamis (12/7) dini hari WIB.

Zohri menjadi yang terbaik di nomor lari 100 meter putra, sekaligus mempersembahkan gelar pertama untuk Indonesia di ajang bergengsi ini.

Pelari yang masih tercatat sebagai siswa SMA Ragunan itu mencatatkan waktu terbaik 10,18 detik. Catatan waktu tersebut mengungguli dua pelari Amerika Serikat, Anthony Scwartz dan Eric Harrison yang sama-sama mencatatkan waktu 10,22 detik. (suharli, lombok)

Advertisement
loading...