Iklan
Dinsos Bintan melakukan sosialisasi penutupan lokalisasi, kemarin. F. Slamet Nofasusanto/batampos.co.id

batampos.co.id – Rencana penutupan lokalisasi Bukit Indah Batu 24 Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Bintan, menuai pro kontra. Banyak masyarakat yang meminta tempat maksiat itu ditutup total, namun ada juga yang keberatan.

Mereka yang keberatan umumnya pedagang makanan di sekitar lokalisasi yang selama ini menggantungkan hidup mereka dari para tamu yang datang dan berbelanja di warung mereka.

Ketua RW 03 Toapaya Asri Abdul Manaf menyampaikan bahwa dirinya tidak keberatan jika lokalisasi ditutup. Namun menurutnya, pemerintah sebaiknya memikirkan nasib masyarakat yang mencari rezeki dengan berjualan di lokalisasi ini.

”Banyak masyarakat yang mencari nafkah di sini. Kalau sampai tutup, sebaiknya dipikirkan solusi untuk mereka,” kata lelaki berkulit putih tersebut.

Dia tidak mempersoalkan rencana pemerintah yang akan menjadikan lokalisasi sebagai desa wisata atau akan membangun islamic center. Hanya jika sampai lokalisasi ditutup sebaiknya masyarakat yang ada di sana menerima ganti rugi dan direlokasi ke luar lokalisasi.

Jika tidak, masyarakat akan kesulitan mencari nafkah karena akses jalan yang jauh dari keramaian. ”Doli saja yang ditutup cuma lokalisasinya tapi aktivitasnya tetap jalan. Saya lebih setuju kalau lokalisasi ini ditutup dan menjadi Bintan 24 Entertainment,” sarannya.

Sementara Lurah Toapaya Asri Nepy Purwanto mengatakan, segala masukan dari masyarakat akan disampaikan ke pimpinan daerah. ”Ya, nanti diakomodir apa saja yang menjadi masukan masyarakat,” katanya.

Kasi Rehabilitasi dan Sosial di Dinsos Bintan Sumiati menjelaskan, rencana penutupan lokalisasi merupakan instruksi pemerintah pusat yang dimulai 2014. Di Bintan, tahun 2015 dan 2016 sudah dilakukan sosialisasi dan tahapan lainnya. Hanya karena defisit anggaran jadi belum dilakukan. Tahun 2019 katanya, pemerintah daerah diminta untuk menyelesaikannya dan menjadikan 2019 bebas lokalisasi. Oleh karenanya Dinsos Bintan menggesa di 2018.

”Saat ini kami masih sosialisasi. Tahap-tahapan dilakukan mulai menawarkan apakah mereka mau kembali ke kampung asalnya atau tetap di sini tentunya memiliki usaha misalkan yang hobi menjahit atau salon akan dikursuskan,” katanya.(met)

Advertisement
loading...