Mesin menyedot pasir dan mobil mengangkut pasir dari galian pasir ilegal di Tembesi, Sagulung, Jumat (8/7). F dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Camat Sagulung Reza Khadafi kembali angkat suara terkait maraknya aktifitas tambang pasir darat di pinggir Dam Tembesi. Dia kembali menyurati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Batam agar segera ditindak lanjuti.

Saat dijumpai di Tembesi, Kamis (12/7) Reza mengaku cukup gerah dengan aktifitas illegal itu. Tambang pasir tersebut sudah merusak lingkungan sekitar terutama Dam Tembesi yang menjadi cadangan air bagi warga Batam kedepannya. Dam terancam kembali tertutup karena aktifitas tambang tersebut.

“Bukan itu saja. Lama-lama kalau dibiarkan bisa sampai ke jalan raya (Trans Barelang). Inikan bahaya kalah dibiarkan,” ujar Reza.

Keluhan dari warga diakui Reza, terus mengalir hingga siang kemarin. Warga merasa terganggu dengan aktifitas tambang tersebut.

“Yang komplain sudah banyak. Sampai sekarang masih terus dikomplain. Seolah-olah ada pembiaran dari kami kecamatan,” katanya.

Sebagai tindak lanjutnya, dia sudah kembali menyurayi DLH kota Batam agar segera berkoordinasi dengan isntansi atau aparat penegak hukum terkait.

“Secara resmi kami harus melalui DLH. Tapi secara pribadi dan kedekatan saya juga sudah komunikasikan langsung dengan Ditpam BP Batam. Mereka yang berwenang makanya kami minta berharap agar segera ditindak lanjuti,” ujar Reza.

Sementara itu pantuan di lapangan, sampai siang kemarin aktifitas tambang pasir darat itu masih terus berlanjut. Mesin pompa untuk menyedot pasir terus beroperasi sepanjang hari. Begitu juga dengan pekerja dan truk pengangkut pasir ramai hilir mudik di sekitar lokasi tambang pasir.

Di lokasi tersebut terpantau ada dua lokasi tambang pasir. Satu persis berada di bibir dam satu lagi dekat pinggir jalan Trans Barelang jaraknya hanya sekitar 200 meter. Dua lokasi tambang pasir itu masih aktif sampai siang kemarin.

Sejumlah pekerja saat dimintai tanggapan enggan memberikan komenter. Mereka berdalih hanya sebatas pekerja yang tak tahu apa-apa dengan legalitas tambang pasir tersebut.

“Wah kalau itu sama bos saja. Kami hanya pekerja,” ujar seorang penambang pasir, kemarin.

Sehari sebelumnya Rudi seorang pekerja di lokasi tambang pasir dekat bibir Dam menuturkan, kalau aktifitas tambang pasir itu sudah berlangsung lama. Namun demikian aktifitas ilegal itu berjalan lancar sebab jarang mendapat teguran ataupun penertiban dari instansi pemerintah terkait. Pasir hasil tambang dibawa ke toko-toko material di berbagai penjuru kota Batam dengan harga jual pertruk roda enam Rp 800 ribu. (eja)