batampos.co.id – Merosotnya ekonomi masyarakat di Natuna mulai dirasakan pengusaha di Ranai. Mereka khawatir usaha yang sedang dijalani terancam tutup.
Kondisi ini dibenarkan mantan Bupati Natuna Ilyas Sabli, Jumat (13/7).

Menurut Ilyas yang saat ini membuka usaha jajanan serba ada di Kampung Batu Hitam, Ranai, mengaku, daya beli masyarakat saat ini sangat dirasakan jauh berkurang.
“Kalau sekarang, perputaran uang hanya dari pegawai pemerintah daerah yang belanja kebutuhan. Lebihnya hanya sebagian kecil saja dari kalangan swasta,” ungkap Ilyas Sabli, kemarin.

Ilyas Sabli yang pernah menjabat Bupati Natuna Periode 2011-2016 ini mengatakan, kondisi ini terjadi bukan semata atas kekeliruan pemerintah daerah, akan tetapi lebih kepada kebijakan pemerintah pusat yang memusatkan sebagian besar program kegiatan.
Akibatnya, pengusaha dan masya-rakat lokal kurang dapat mengambil peran dalam pembangunan yang semestinya bisa menjadi salah satu sumber pendapatan seperti tahun-tahun sebelumnya.

”Saya rasa ini terjadi karena kebijakan pemerintah yang dulu beda dengan yang sekarang. Dulu hampir semua kegiatan pemerintah dilelang di Natuna dan dikerjakan oleh pengusaha lokal Natuna,” katanya.

Menurutnya, beberapa tahun lalu sektor riil dan nonriil dapat berjalan seirama. Karena program kegiatan pembangunan terus dapat berjalan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Tetapi sekarang hampir semuanya berada di pusat.

”Dulu masyarakat bisa leluasa menjual batu, pasir dan lain sebagainya karena pemenang kontrak pembangunan rata-rata pengusaha lokal. Tapi sekarang semuanya serba luar ekondampak ekonomidaerah,” ucapnya.

Selain faktor tersebut, pemerintahan yang dulu juga masih mengedepankan sektor nonriil sebagai salah satu kegiatannya, seperti memberlakukan bantuan sosial untuk masyarakat melalui anggaran daerah.

”Sekarang bantuan sosial itu tidak ada, kalaupun ada mungkin jumlahnya kecil. Kondisi menurunnya pertumbuhan ekonomi ini dirasakan betul oleh masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang sulit memenuhi kebuhan, dan pedagang sulit menjual barang dagangannya, malah banyak ngutang-ngutang,” ujar Ilyas.

Imbas kurangnya perputaran uang di daerah menyebabkan petani sulit menjual hasil pertanian.(arn)

Respon Anda?

komentar