Ratusan warga korban kebakaran rumahnya berkupul di tempat penampungan sementara di parkiran kantor Dispenda, Batamcentre, Sabtu (14/7). Dalam kebakaran ini tidak ada korban jiwa. tetapi rumah mereka habis dilalap sijago merah. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Aktifitas belajar anak-anak korban kebakaran di Ruli Beverly, kelurahan Buliang, Batamkota di hari pertama masuk sekolah, Senin (16/7) pagi belum berjalan maksimal. Rasa trauma serta seragam yang kebesaran membuat mereka kaku menghadapi kegiatan mereka di lingkungan sekolah.

Ini disampaikan warga korban kebakaran yang memiliki anak usia sekolah kepada Batam Pos saat dijumpai di gedung bersama yang dijadikan tempat penampungan sementara para korban kebakaran, Senin (16/7) pagi.

Anak-anak mereka kaku lantaran perlengkapan sekolah yang dikenakan tidak sesuai dengan ukuran mereka. Seragam dan sepatu sekolah misalkan banyak yang kebesaran sebab diambil dari bantuan yang diberikan masyarakat dan pemerintah ke posko penampungan. Anak-anak di sana tidak punya pilihan lain sebab seragam dan sepatu yang dipersiapkan sebelumnya sudah ludes dilahap api.”Jadi kasian lihat dua anak saya pagi tadi. Satu sudah kelas empat dan adiknya baru mau masuk sekolah. Sama-sama di SDN 04 (Batamkota). Seragam mereka terbakar jadi mau tak mau pakai saja seragam yang dibagikan orang posko tapi kebesaran semua,” ujar Hendro, seroang warga.

Hendro mengaku cemas dengan kondisi tersebut sebab dua anaknya terlihat canggung saat diantar ke SDN 04 pagi kemarin. “Abangnya yang paling canggung karena seragam yang kebesaran tadi. Kalau adiknya mungkin belum terlalu mengerti dengan penampilan, tapi saya sedih sebab hari pertama masuk sekolah kok begini kondisinya,” kata Hendro.

Senada disampaikan Heru warga lain yang anaknya sudah SMP. Meskipun sang anak tampak semangat berangkat ke sekolah Heru tetap cemas. Itu karena seragam yang dikenakan anaknya juga kebesaran. “Yang lebih takut lagi anak saya ini sepertinya trauma. Semenjak kebakaran itu sering diam dia. Takut terganggu belajarnya di sekolah karena musibah ini,” tutur Heru.

Lurah Belian Kamarul Azmi mengakui adanya persoalan itu. Seragam sekolah yang dikenakan anak-anak korban kebakaran umumnya tidak sesuai dengan ukuran masing-masing. Ada yang kebesaran ada juga yang kekecilan. Itu karena seragam tersebut sumbangan dari pemerintah, lembaga sosial ataupun masyarakat yang berempati . “Tapi secara umum tidak terganggu. Anak-anak semua tetap sekolah hari ini. Seragam dan sepatu memang ada yang tidak sesuai tapi bisa dikenakan. Semoga kedepannya tetap berjalan lancar,” ujar Kamarul.

Untuk kembali menstabilkan kondisi anak-anak tersebut, pihak kelurahan akan terus bekerkoodinasi dengan dinsos Batam baik untuk kelengakapan sekolah ataupun penanganan spikologis anak yang trauma. “Tetap jadi perhatian kami kedepannya. Tapi belum bisa dilakukan semuanya. Sekarang perhatian masih terbagi termasuk yang di posko ini,” ujar Kamarul.

Selain persoalan anak sekolah, musibah kebakaran itu juga menimbulkan berbagai kecemasan baru bagi korban kebakaran pada umumnya. Selain memikirkan tempat tinggal baru yang belum pasti, warga juga pusing memikirkan dokumen pribadi yang juga ludes dilahap si jago merah. “Semua dokumen keluarga saya terbakar karena disimpan dalam satu tempat. Mulai dari KTP, KK, Ijazah hingga surat-surat lainnya tak ada yang luput,” kata Heni, seorang warga.

Menanggapi itu Kamarul mengaku, akan membantu para korban kebakaran dalam pengurusan ulang dokumen mereka. “Kami usahakan KTP dan KK dulu bagi keluarga yang tak ada lagi KTP dan KK. Yang lainnya nyusul karena KTP dan KK syarat utama untuk ngurus dokumen mereka yang lain,” ujarnya.

Saat ini pihak kelurahan masih terus mendata masyarakat korban kebakaran yang kehilangan dokumen-dokumen penting mereka. “Pendataan melalui RT. Nanti kalau sudah ada data maka akan diajukan ke Pemko agar KK dan KTP mereka segera dibuat,” ujar Kamarul.

Warga korban kebakaran ruli Beverly, kata Kamarul total ada 185 kepala terdiri dari 545 jiwa. Jumlah tersebut berbeda dengan data awal yang mencapai 195 KK atau sekitat 600 jiwa. “Kemarin data awal masih simpang siur setelah sortir kembali total ada 185 KK yang terdiri dari 545 jiwa,” ujarnya.

Untuk anak yang masih sekolah diantaranya 63 murid SD, 18 siswa SMP dan 10 siswa SMA dan SMK.

Para korban kebakaran itu akan ditampung di tenda pemampungan sementara hingga seminggu kedepan. Untuk tempat tinggal para korban selanjutnya, belum bisa dipastikan sebab masih dipertimbangkan oleh Pemko Batam. “Kalau saol itu nanti ke Pemko saja. Kami hanya bisa memberikan data dan informasi yang dibutuhkan warga ini,” ujar Kamarul.

Sebelumnya warga korban kebakaran berharap agar mereka direlokasikan ke lokasi yang tepat sehingga mereka bisa kembali membangun rumah mereka. Jikapun tidak ada lokasi lain warga mengaku akan kembali bangun rumah mereka di lokasi yang sama.

Polisi Periksa Empat Saksi

Terkait penyelidikan di kepolisian, sejauh ini sudah empat orang saksi yang diperiksa untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran.

Kapolsek Batamkota Kompol Firdaus mengatakan, empat saksi itu terdiri Solihin, pemilik rumah yang menjadi sumber kebakaran serta tiga tetangga lain yang ada di samping dan belakang rumah sumber kebakaran tersebut. “Keterangan saksi (terkait penyebab kebakaran) berbeda-beda. Belum bisa kami simpulkan. Untuk pastinya kami masih menunggu hasil labfor,” ujar Firdaus.

Begitu juga dengan kerugian para korban kebakaran juga diakui Firdaus belum bisa dipastikan sebab masih dalam proses pendataan. (eja)