Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia menjadi tuan rumah event terbesar jika dilihat dari kepesertaan negara. Dari total 194 negara yang ada di planet bumi, 189 delegasi akan hadir. Sekitar 15 ribu delegasi resmi dan observer akan menghadiri acara yang dipusatkan di Nusa Dua Bali pada 12 hingga 14 Oktober 2018 mendatang.

Sebagai catatan, konferensi Asia Afrika diikuti 29 negara, pertemuan APEC tahun 2013 diikuti 21 negara dan Asian Games 2018 mendatang akan diikuti 45 negara. Delegasi yang hadir bukan sembarangan, melainkan seluruh Menteri Keuangan, Seluruh Gubernur Bank Sentral dan CEO Industri keuangan dunia.

Lima negara yang tidak hadir, antara lain karena tidak ada Menteri Keuangan dan Bank Sentralnya, seperti Liechtenstein yang penduduknya hanya sekitar 37 ribu orang. Atau karena memang negaranya selama ini sangat terttutup seperti Korea Utara.

Even terbesar yang digelar di Indonesia ini bertajuk International Monetary Fund-World Bank Group Annual Meetings 2018 atau disingkat IMF-WBG Annual Meetings 2018. Forum tersebut adalah pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Gubernur World Bank (WB) dan IMF.

Ditetapkannya Bali sebagai tempat acara dengan pertimbangan Bali adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang mempunyai infrastruktur memadai seperti ketersediaan jumlah hotel bintang 4 dan bintang lima, tempat berlangsungnya acara dan daya dukung bandara internasionalnya.

Selain Bali, Jakarta sebagai ibu kota Indonesia sebetulnya mempunyai fasilitas yang memadai. Akan tetapi, lalu lintas jalan di Jakarta menjadi persoalan sendiri bagi pelaksanaan sebuah even sebesar IMF-WBG Annual Meetings 2018. Penyelenggara tidak sanggup memastikan peserta tidak terjebak dalam kemacetan yang terjadi di setiap waktu di Jakarta. Maka, akhirnya Bali dipilih sebagai tempat penyelenggaraan acara itu.

Bagaimana dengan kemampuan Batam untuk menyelenggarakan even sebesar itu?

Bukankah Batam dalam beberapa tahun terakhir ini sudah dibranding menjadi kota MICE?

Atau bukankah ketersediaan infrastruktur Batam sudah modern? Bukankah Batam sebagai daerah ketiga paling banyak dikunjungi wisatawan asing?

Jika dikenal sebagai tempat favorit ketiga setelah Bali dan Jakarta, harusnya Batam masuk dalam nominasi tempat berlangsungnya IMF-WBG Annual Meetings 2018? Paling tidak Batam disebut sebagai opsi lain tempat setelah Jakarta dan Bali.

Tetapi ternyata berdasarkan informasi dari Pemerintah, dalam hal ini adalah Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, nama Batam belum masuk nominasi untuk menjadi salah satu even terbesar di dunia itu?

Artinya, daya dukung Batam yang sebetulnya sudah baik jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, tetapi Batam masih jauh untuk menyelenggarakan even berskala internasional. Fasilitas, dan infrastruktur Batam belum cukup representative menjadi pilihan even berskala global

Salah satu contohnya adalah jumlah hotel berbintang lima yang ada di Batam. Dari sekitar 300 hotel yang ada di Batam, jumlah hotel bintang 5 masih sangat terbatas, satu atau dua hotel saja. Tidak lebih. Bandingkan dengan jumlah hotel Bintang 5 di Bali yang jumlahnya sudah lebih dari 122 hotel bintang lima dengan 20 ribu kamar yang tersedia.

Pertanyaan mendasarnya mengapa harus hotel bintang 5? Hal ini tidak lain karena delegasi yang akan hadir berkualifikasi very very important person (VVIP) seperti 10 kepala negara Asia Tenggara serta 189 menteri keuangan, gubernur bank sentral, CEO industry keuangan dan perusahaan multinasional. Tidak lucu jika mereka menginap di tempat yang “ala kadarnya”.

Untuk memenuhi standar VVIP delegasi yang akan menginap di kamar hotel bintang 5 dalam jumlah sebesar 15 ribu delegasi resmi, baru Pulau Bali saja yang sanggup memenuhinya. Itu baru daya dukung hotelnya. Daya dukung lain seperti tempat yang sanggup menampung 15 ribu delegasi pada satu tempat, ini juga belum ada di ballroom hotel yang ada di Batam. Bali mempunyai Nusa Dua, yang sudah lama branded sebagai tempat pertemuan tingkat tinggi berbagai kepala negara.

Hal-hal tersebut di atas, bukan bermaksud membandingkan Batam yang relatif baru di dunia MICE dan industry pariwisata dengan Bali yang sudah puluhan tahun terlebih dahulu. Tidak pada tempatnya membandingkan anak yang baru remaja dengan kematangan orang dewasa.

Perbandingan Bali dengan Batam lebih kepada pesan bahwa industry MICE di Batam masih panjang jalan yang harus dilalui. Tidak puas dengan yang ada saat ini meskpun hampir tiap pekan hotel-hotel di Batam selalu ramai dijadikan even berbagai lembaga pemerintah dan swasta untuk membuat berbagai acara MICE.

Selain itu, potensi Batam sebagai kota MICE berskala global juga sangat besar, karena akses internasional ke Batam lebih mudah jika dibandingkan dengan daerah lain, bahkan dengan Bali sekalipun.

Selain delegasi internasional melalui Bandara Internasional Hang Nadim, Bandara Internasional Changi Singapura juga dapat menjadi “pintu” kedatangan bagi delegasi internasional yang hendak melakukan even MICE di Batam. Bahkan sangat menarik, jika dari Singapura mereka langsung menuju Batam melalui tiga International Ferry Terminal yakni Port of Batam Centre, Terminal Ferry Marina dan Nongsapura Ferry Terminal. Ketiga ferry terminal tersebut berdekatan dengan hotel dan resort sebagai pendukungnya.

Perbandingan Batam dengan Bali juga dimaksudkan agar seluruh pemangku kepentingan (stake holder) mempunyai visi, misi dan program pengembangan MICE Batam dalam jangka panjang yang berkesinambungan (sustainable).

Industri MICE sanggup menghasilkan devisa yang sangat besar. Hitung-hitungan sederhana, selama tiga hari ditambah sepekan setelahnya untuk paket wisata, sebagai tuan rumah Bali akan mendapatkan total spending sekitar 100 juta dolar AS atau Rp1,4 triliun yang akan dibelanjakan semua delegasi. Mereka akan membayar hotel, transportasi, makan minum, paket wisata hingga souvenir. Pendeknya, Bali akan panen saat musim low season di bulan Oktober 2018 mendatang. Itu baru satu even saja. Bisa dihitung jika even internasional lain banyak menjadikan Bali sebagai tempat acara.

Sebagai warga Batam, kita berharap, suatu saat Batam menjadi pilihan untuk penyelenggaraan acara berskala global dengan belasan ribu orang yang akan datang. Distribusi pendapatan masyarakat melalui industri MICE lebih merata dan dinikmati semua lapisan masyarakat. Mulai dari maskapai, taksi dan angkutan darat, hotel, restoran, ritel, jasa hiburan, souvenir produk UKM dan lainnya. Dan semua itu merupakan objek pajak daerah yang langsung dinikmati Pemerintah Daerah. Semoga. ***

 

 

Oleh: Dr. H. Ngaliman
Dosen Universitas Batam