batampos.co.id – Tim gabungan, Satpol PP, Polsek Sei Beduk, Pom AD, Pom AL, serta perangkat RT, RW dan Kelurahan Mukakuning merazia kos-kosan dan rumah kontrakan yang ada di Simpang Dam Mukakuning, Seibeduk. Mereka menggrebek pasangan kumpul kebo, Kamis (19/7) sekitar pukul 00.15 WIB.

Pantauan Batam Pos, satu-persatu pintu kamar di ketok. Penghuni kamar kos atau kontrakan dicek. Para penghuni diminta menunjukkan KTP dan buku nikah. Salah satunya Fe, pria 22 tahun yang diciduk bersama seorang perempuan berinisial Ti, 25, yang tengah berada dalam kamar kosnya. Kepada petugas, keduanya mengaku tinggal satu atap. Namun karena tidak bisa menujukkan bukti buku nikah dan identitas, keduanya akhirnya di gelandang ke Kantor Kelurahan Mukakuning, untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Tim gabungan juga merazia kamar kos tiga orang wanita, OP, 20, Sb, 22 dan, Hn, 21. Saat tim gabungan melongok ke dalam rumah, tampak seorang pemuda, RS, 23, di dalamnya. Ke empatnya mengaku tinggal serumah. Mereka mengaku jika masih ada hubungan keluarga.

Namun saat di data, mereka berasal dari kota berbeda. Akibatnya, mereka pun digelandang ke Kantor Lurah Mukakuning.

“Saya baru seminggu numpang tinggal sama mereka,” kata RS, pria pengangguran itu.

Saat diintrogasi di Kantor Lurah Mukakuning, muda-mudi yang tergrebek tinggal sekamar atau serumah tanpa ikatan pernikahan membantah kumpul kebo. Beberapa diantara mengaku memiliki hubungan saudara. Beberapa lainnya menyebut hanya bertamu.

Sementara itu, tidak semua yang diamankan itu adalah pasangan kumpul kebo. Beberapa lainnya hanya bernasib apes. Seperti Sy, 29. Wanita cantik berambut lurus sepunggung itu diamankan saat sedang berkunjung ke rumah kawannya, namun karena tidak memiliki identitas seperti KTP dan SIM, ia pun diamankan. Demikian juga dengan Leila, 42, yang mengaku datang ke Kampung Aceh karena ingin menemui kerabatnya.

“Saya datang ngurut saja, lupa pulak saya bawa KTP,” kata Leila kepada petugas.

Tim terpadu merazia pasangan kumpul kebo di simpang Dam, Mukakuning, Rabu (18/7). Yang dirazia ini termasuk yang tidak memilik identisa juga diamnkan untuk didata. F Dalil Harahap/Batam Pos

Kabid Penegakan Perda Satpol PP Batam, Hamida Saragih mengatakan, malam itu mereka sedang malaksanakan operasi yustisi. Ia memimpin tim gabungan melakukan penegakkan Perda Nomor 6 tahun 2002 tentang ketertiban sosial Kota Batam. Mereka yang tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan atau kumpul kebo dirazia. Pasalnya, maraknya kumpul kebo di Kota Batam meresahkan masyarakat.

Dalam operasi tersebut, Tim Gabungan mengamankan 23 orang yang terdiri dari 11 wanita dan dan 12 laki-laki. Namun kebanyakan dari mereka terjaring razia lantaran tidak memiliki kartu tanda kependudukan atau KTP.

“Kami interogasi mereka lagi nanti,” sebutnya.

Usai didata, para pelanggar perda tersebut digiring ke Mako Satpol PP. Mereka akan didata dan diitrogasi ulang. Jika terbukti kumpul kebo, maka mereka akan dinikahkan.

“Kita akan koordinasi dengan KUA setempat. Jika mereka bisa dinikahkan, akan kita langsungkan. Dari pada mereka seperti ini (kumpul kebo) terus,” ujarnya.

Sekretaris RW 14 Kampung Aceh Kelurahan Mukakuning, Herizal mengatakan tidak sedikit kos-kosan yang dijadikan tempat maksiat. Menurut pria yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Kampung Aceh itu, ada puluhan pasang orang yang tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan.

“Di RW saya (RW14 Mukakuning) juga banyak. Kalau ketahuan langsung saya usir,” katanya.

Sepanjang tahun 2017, lanjutnya, di RW 14 Mukakuning sedikitnya ada 11 orang yang hamil di luar nikah. Bahkan, Herizal sendiri mengaku telah banyak menikahkan warganya yang telah terlebih dahulu kebobolan sebelum proses ijab kabul.

“Kasihan terhadap anaknya. Bahkan ada ibu yang tega jual anaknya lantaran malu hamil di luar nikah,” kata Herizal. (une)