batampos.co.id – Kenaikan harga telur menjadi perbincangan nasional, tak cuma di Batam.
Dalih yang mengemuka ialah kebutuhan meningkat sementara suplai terhambat.
Ujungnya harga pun membumbung.
Dosen sekaligus pengamat ekonomi Batam, Suyono Saputro tidak melihat permasalahan harga telur hanya dari pasokan dan permintaan saja.
“Memang harus hati-hati menyikapi masalah telur ini, tak bisa juga kita lihat ini sekadar masalah suplay demand,” terangnya.
Pria langsing ini menambahkan, “Ada faktor pakan yang ternyata cukup signifikan mrmpengaruhi ongkos produksi.”
“O, ya?!”
“Harga pakan ayam petelur juga dipengaruhi oleh bahan baku utamanya yaitu jagung.”
Apabila bahan baku utamanya terkendala, maka sampai ke hilir akan terpengaruh.
Jelas dong ….
“Bagaimana dengan peternak ayam di Batam?,” Yono melempar pertanyaan untuk ia jawab sendiri. “Ada dua kemungkinan pasokan pakannya, impor atau dari domestik.”
Dua-duanya, menurut pria yang sedang mengambil gelar doktoral ini, sama-sama menyimpan potensi yang membuat harga telur melambung.
“Kalau impor, bisa jadi faktor dolar menjadi masalah, kalau dari domestik, bisa jadi faktor kelangkaan bahan baku pakan menyebabkan harga pakan jadi tidak stabil,” urai Dosen UIB ini.
Ia menyarankan, “Perlu ditelusuri betul, dimana masalahnya.”
(ptt)
