batampos.co.id – Puluhan warga Suku Duane di Payatogok, Kelurahan Tanjungbatu, Karimun, kesulitan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka harus berjalan cukup jauh menuju musala terdekat yang memiliki sumur cukup dalam.

Beruntung pengurus musala membolehkan suku Duane mengambil air sumur untuk keperluan mencuci dan memasak. ”Kalau untuk minum kami membeli, sedangkan untuk kebutuhan mandi ada yang membeli air sebagian ada yang mandi ke sungai,” kata kata salah satu warga Suku Dane, Asia, Jumat (20/7) kemarin.

Karena itu, AsIa berharap pemerintah memperhatikan fasilita air bersih di permukiman suku Duane.Di komplek permukiman suku Duane terdapat 75 kepala keluarga (KK). Mereka menghuni rumah bantuan dari Pemerintah Karimun, Provinsi Kepri, dan PT Timah Kundur. Sayangnya sebagian dari 75 unit rumah pengerjaanya masih terbengkalai disebabkan penerima hibah dana pembangunan rumah tersandung kasus korupsi.

Sebelumnya pemerintah Karimun berjanji akan memberikan fasilitas umum, namun hingga kini belum terealisasi. Karena itu warga suku Duane setiap hari kesulitan mendapatkan air bersih.

Tak hanya Suku Duane, krisis air bersih juga terjadi di Pulau Kundur. Waduk penampungan air milik PT Tirta Karimun di Desa Lubuk terus menyusut. Kepala Cabang Tirta Karimun, Zulkarnaen membenarkan keringnya waduk penampung air di Dabit desa Lubuk. Dikatakan, distribusi air bersih ke rumah warga terganggu bukan akibat mesin rusak, tapi karena faktor alam.

Sebelumnya telah dicoba menyedot air dari kolam cadangan yang bersebelahan dengan waduk utama, namun hanya cukup bertahan lima hari. ”Setelah air kolam maupun waduk sudah habis, distribusi pasti mati total,” tegas Zulkarnaen, Kamis (19/7).

Terpisah Dirut PT Tirta Karimun Indra Santo yang turun ke lokasi menegaskan, pemanfaatan waduk di Kundur butuh perhatian serius. Karena Waduk Desa Lubuk merupakan waduk tadah hujan yang mampu melayani 800 lebih pelanggan. Sebaliknya, jika masuk musim kemarau distribusi macet.

“Kami sudah turun ke lokasi untuk meninjau waduk, kondisinya benar-benar kering. Upaya yang kita lakukan jangka pendek dengan menyedot air yang ada di kolam sebelah sekarang juga sudah kering. Dan jangka panjang saya sudah berkoordinasi dengan Pemda Karimun, Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Pemerintah Provinsi Kepri untuk pendalaman waduk,” terang Indra usai meninjau waduk Dabit.

Dikatakan dengan kondisi waduk seperti sekarang ini tidak dapat diandalkan, karena pelanggan juga semakin bertambah. ”Kita berharap ada pendalaman waduk sehingga dapat menampung air lebih banyak untuk persiapan jika memasuki musim kemarau,” imbuhnya. (ims)

Advertisement
loading...